fbpx
Tuesday, December 7, 2021
HomeSEHATNEWSPenelitian Menemukan Orang yang Sembuh dari COVID-19 Berisiko Rendah Terinfeksi Ulang

Penelitian Menemukan Orang yang Sembuh dari COVID-19 Berisiko Rendah Terinfeksi Ulang

Zachary Stieber – The Epoch Times

Seorang dokter setelah publikasi sebuah penelitian di mana ia turut bekerja menyebutkan orang-orang yang telah tertular COVID-19 dan sembuh harus tahu bahwa risiko infeksi ulang adalah sangat rendah. 

Para peneliti menganalisis catatan-catatan dari Curative, sebuah laboratorium klinis yang berbasis di San Dimas, California, yang mengkhususkan diri dalam pengujian COVID-19 dan  melakukan penyaringan tenaga kerja rutin selama pandemi. 

Tidak satupun dari 254 karyawan yang positif COVID-19 dan sembuh, terinfeksi kembali, sementara empat dari 739 orang yang menerima vaksinasi lengkap tertular penyakit tersebut.

“Adalah rugi besar adalah jika anda tidak divaksinasi, dan tidak terinfeksi sebelumnya, satu, anda memiliki sebuah risiko terinfeksi yang sangat tinggi –— 24 persen karyawan selama setahun diuji dengan hasil positif. Namun, di sisi lain, jika anda divaksinasi atau sebelumnya pernah terinfeksi, risiko anda mendekati nol,” kata Dr. Jeffrey Klausner, profesor klinis kedokteran pencegahan dan obat di Fakultas Kedokteran Keck Universitas Southern California, kepada The Epoch Times.

Dr. Jeffrey Klausner dan Dr. Noah Kojima dari Fakultas Kedokteran Universits California–Los Angeles bergabung dengan para pekerja Curative untuk menganalisis catatan-catatan. Mereka merilis sebuah studi versi pra-cetak, atau belum ditinjau teman sejawat secara online minggu lalu.

Para peneliti menemukan bahwa dari 4.313 karyawan yang sebelumnya tidak terinfeksi atau menerima vaksinasi lengkap, 254 karyawan menjadi terinfeksi.

Temuan-temuan ini menambah semakin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa, orang-orang yang pernah menderita COVID-19 dan pulih menikmati sebuah tingkat perlindungan yang sama seperti orang-orang  yang telah mendapatkan sebuah vaksin, mengikuti sebuah penelitian di Inggris dan satu penelitian  oleh para peneliti Klinik Cleveland.

“Hal tersebut harus memberi kepercayaan kepada orang-orang yang telah pulih bahwa mereka sangat risiko rendah untuk infeksi berulang, dan beberapa ahli termasuk saya percaya bahwa perlindungan sama dengan vaksinasi, Dan kami berupaya memperbarui kebijakan sehingga orang-orang yang telah pulih memiliki hak dan akses yang sama dengan orang-orang yang divaksinasi,” kata Dr. Jeffrey Klausner kepada The Epoch Times. 

Menurut panduan federal, vaksin-vaksin harus diberikan kepada orang-orang terlepas dari apakah mereka pernah menderita COVID-19.

CDC AS atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit mengatakan, para pejabat menyadari bukti yang menunjukkan kekebalan alami di antara orang-orang yang pernah terinfeksi, tetapi tidak mengubah anjurannya untuk memasukkan  bukti itu.

“Kami tidak mengomentari makalah yang bukan ditulis CDC. Kami terus-menerus mengevaluasi ilmu pengetahuan yang menjadi pedoman kami, dan jika perlu diubah, kami akan mendasarkan perubahan itu pada penelitian dan studi kami sendiri,” kata seorang juru bicara kepada The Epoch Times dalam email bulan lalu.

Keterbatasan penelitian baru, yang telah diajukan ke sebuah jurnal dan sedang ditinjau oleh rekan sejawat, termasuk kemungkinan bahwa para karyawan dapat dinyatakan positif COVID-19 di luar pemeriksaan rutin, atau program pengujian karyawan.

Kelompok ini berencana untuk melakukan analisis lebih lanjut terhadap data Curative.

Dr. David Boulware, profesor kedokteran di Universitas Minnesota, mengatakan kepada The Epoch Times melalui email bahwa penelitian ini “menambah badan literatur bahwa orang dewasa yang umumnya sehat yang berusia di bawah 65 tahun yang pernah terinfeksi COVID-19 sebelumnya,  umumnya adalah tidak berisiko infeksi SARS-CoV-2 berulang dalam jangka pendek setelah infeksi bergejala awal.

SARS-CoV-2 adalah nama lain untuk virus Komunis Tiongkok, yang menyebabkan COVID-19. Dr. David Boulware, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mencatat bahwa usia rata-rata yang diuji adalah berusia 29 tahun. Mereka sangat cenderung mencakup beberapa orang berusia 65 tahun atau lebih tua, atau banyak orang tanpa masalah sistem kekebalan.

“Dengan demikian, hal ini mungkin tidak berlaku untuk orang-orang tua atau orang-orang dengan komorbiditas —– tetapi cenderung berlaku untuk orang-orang dewasa berusia 18–65 tahun tanpa masalah medis utama,” kata Dr. David Boulware. Ia  menambahkan bahwa karena periode waktu tindak-lanjut  yang dipelajari adalah relatif singkat, makalah tersebut tidak memberikan wawasan mengenai perlindungan jangka panjang.

Selain itu dikatakan, Perlindungan jangka panjang adalah lebih tidak diketahui, itulah sebabnya orang-orang yang pernah menderita  infeksi sebelumnya masih dianjurkan untuk menerima setidaknya 1 dosis vaksin, tetapi  tidak ada kedaruratan untuk menerima vaksin tersebut (dan menunggu ~3 bulan cenderung akan baik-baik saja). 

Dr. Jeffrey Klausner mengatakan bahwa, selain memperkuat gagasan kekebalan alami, penelitian ini menunjukkan bahwa vaksinasi di tempat kerja itu adalah penting. Oleh karena itu, kita perlu terus mempromosikan persyaratan-persyaratan vaksinasi di tempat kerja. Para pelaku usaha memiliki kewenangan dan memiliki kemampuan, serta memiliki kekuatan hukum untuk mewajibkan karyawan-karyawannya untuk divaksinasi.  

“Dan saya pikir penelitian kami mendukung manfaat itu,” ujarnya.  (Vv)

 

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular