fbpx
Tuesday, December 7, 2021
HomeBERITA TIONGKOKKegagalan Didi Mengubah IPO Perusahaan Tiongkok : Pengawasan Komunis Tiongkok untuk Memperlambat...

Kegagalan Didi Mengubah IPO Perusahaan Tiongkok : Pengawasan Komunis Tiongkok untuk Memperlambat Parade IPO AS dari Perusahaan Tiongkok

Amerika Serikat dan Tiongkok mulai menyepakati satu hal—–bahwa perusahaan-perusahaan teknologi Tiongkok yang menjual saham di bursa saham Amerika Serikat mungkin tidak bekerja

oleh Fan Yu

Hanya beberapa hari setelah perusahaan transportasi online Tiongkok, Didi Global Inc.—–afiliasi Didi Chuxing yang terdaftar di Amerika Serikat –—telah IPO di New York sebelum bulan ini, pengawas keamanan dunia maya Tiongkok meluncurkan sebuah penyelidikan ke perusahaan tersebut dan menghapus aplikasi perusahaan tersebut dari  aplikasi seluler Tiongkok.

Dalih Administrasi Dunia Maya dari penyelidikan Tiongkok adalah untuk “mengamankan data  keamanan nasional dan melindungi keamanan nasional.”

Dampak dari hal ini adalah langsung dan parah. Saham Didi yang tercatat di NYSE jatuh di bawah harga IPO. Dua tuntutan hukum diajukan di New York dan Los Angeles oleh para investor, menuduh eksekutif-eksekutif Didi dan lead underwriting bank-bank Didi gagal untuk mengungkapkan investigasi-investigasi yang sedang berlangsung, yang mana terjadi sebelum pendaftaran Didi. 

Para profesional investasi dari Kyle Bass hingga Jim Cramer mengecam berita tersebut dan mempertanyakan apakah saham-saham Tiongkok dapat diinvestasikan.

Ada banyak hal untuk dibongkar di sini. Tetapi satu hal yang pasti: saham-saham Tiongkok tidak akan pernah dipandang dengan cara yang sama ke depan.

Untuk memulai, tindakan keras terhadap Didi dan raksasa-raksasa teknologi lainnya oleh Komunis Tiongkok seharusnya  tidak mengejutkan. Setelah Komunis Tiongkok menggagalkan IPO Grup Ant tahun lalu, para investor khawatir akan Didi, entah belum memperhatikan atau entah belum melakukan pekerjaan rumah.

Kita harus kembali ke tahun 2000 untuk konteks. Tahun 2000, Sina.com, yang memiliki Weibo, menjadi raksasa teknologi Tiongkok pertama yang IPO di Amerika Serikat.

Partai Komunis Tiongkok melarang kepemilikan asing  dalam -industri yang dianggap penting oleh Partai Komunis Tiongkok untuk keamanan nasional, termasuk di bidang teknologi. 

Sina memanfaatkan sebuah struktur hukum yang rumit dengan melibatkan serangkaian entitas kepentingan yang bervariasi untuk menghindari peraturan Tiongkok mengenai  kepemilikan asing. Intinya, para investor Amerika Serikat akan membeli saham-saham perusahaan cangkang terdaftar di Kepulauan Cayman  atau Kepulauan Virgin Inggris, yang pada gilirannya memegang kepentingan ekonomi sintetik dalam  perusahaan Tiongkok aktual melalui serangkaian perjanjian hukum.

Dengan kata lain, seolah-olah saya memiliki sebuah perusahaan dan anda ingin membelinya. Tetapi, bukannya membeli perusahaan saya dan benar-benar memiliki perusahaan tersebut, anda dan saya masuk ke dalam sebuah kontrak kertas di mana saya berjanji untuk memberikan semua keuntungan masa depan perusahaan tersebut ke anda selamanya. Ini adalah tidak sesederhana itu, tetapi ini adalah sebuah ilustrasi yang lumayan.

Taksi otonom Didi melakukan uji coba pilot di jalan-jalan di Shanghai pada 22 Juli 2020. (Hector Retamal/AFP via Getty Images)

Sejak IPO Sina, praktik ini telah menjadi norma di  IPO offshore dari raksasa-raksasa teknologi Tiongkok sejak saat itu, mencakup Alibaba, JD.com, Baidu, dan yang terbaru, Didi.

Jadi, para pemegang saham Amerika Serikat tidak benar-benar memiliki perusahaan tersebut. Bahkan, tidak memiliki hak untuk mengatakan atau hak suara dalam bagaimana sebenarnya melakukan bisnis di Tiongkok. 

Kasus di poin: Para pemegang saham utama Alibaba Yahoo dan SoftBank, tidak mengatakan kapan Alibaba memisahkan Alipay yang sangat berharga pada tahun 2011. Kedua pemegang saham tersebut sangat kecewa dengan dugaan pengupasan aset pendiri perusahaan itu Jack Ma-, tetapi memiliki sedikit sumber pertolongan dalam kesulitan.

Hal itu bukan masalah jika para investor tahu, untuk apa mereka sedang mendaftar saat membeli IPO Tiongkok. Tetapi faktanya tetap bahwa   struktur entitas-entitas kepentingan yang bervariasi ini secara teknis adalah ilegal di Tiongkok: Ini adalah sebuah pengelakan secara terang-terangan dari hukum Tiongkok. Komunis Tiongkok mengabaikan hal ini selama bertahun-tahun untuk berbagai  alasan, tetapi adalah bodoh bagi para investor untuk percaya bahwa Beijing  tidak akan pernah mengambil tindakan.

Namun, alasan yang sama yang menempatkan para investor Amerika Serikat pada kerugian hukum juga memborgol para regulator Beijing. Tiongkok tidak memiliki yurisdiksi atas Kepulauan Cayman atau Kepulauan Virgin Inggris, dan para pendiri dan eksekutif raksasa teknologi Tiongkok dapat membuat entitas-entitas offshore lain yang dimiliki secara pribadi oleh mereka, tak lain untuk menerima dividen dan pembayaran dari pengawasan Beijing, yang berpotensi menghindari kendalimodal dan pajak.

Desas-desus sudah beredar bahwa Beijing sedang meneliti  struktur entitas kepentingan yang bervariasi. Bloomberg melaporkan bahwa Komisi Regulasi Sekuritas Tiongkok, mengharuskan perusahaan yang mempertimbangkan struktur pendaftaran entitas kepentingan yang bervariasi untuk mendapatkan persetujuan regulator sebelum IPO.

Melihat kasus Didi secara khusus, Komunis Tiongkok tampaknya prihatin dengan keamanan data.

Komunis Tiongkok mendambakan pemantauan dan pengendalian penduduknya. Pada era informasi, data adalah raja. Itu sebabnya Beijing memperkenalkan sebuah yuan digital. Uang tunai tidak dapat dilacak, dan bahkan data pembayaran seluler melalui Alipay tidak dikendalikan secara langsung oleh pemerintah Beijing — secara teknis dimiliki oleh perusahaan tersebut.

Didi adalah sebuah aplikasi ride-hailing terbesar di Tiongkok, dan mengumpulkan banyak data mengenai ke mana orang-orang Tiongkok akan pergi dan kapan mereka pergi. Holding Foreign Companies Accountable Act mewajibkan perusahaan  Tiongkok yang terdaftar di Amerika Serikat untuk mengajukan ke audit peraturan Amerika Serikat, yang dapat mengakibatkan jatuhnya data tersebut ke tangan Amerika Serikat.

Tidak masalah bahwa, beberapa pembicaraan telah terjadi antara regulator keuangan Amerika Serikat dengan Tiongkok untuk bekerja sama dalam pembagian kertas kerja audit. Tetapi, ini adalah salah satu alasan resmi Beijing untuk menekan perusahaan-perusahaan teknologi.

Ada beberapa spekulasi bahwa Didi secara khusus lebih tertutup kepada para regulator Tiongkok menjelang IPO Didi Amerika Serikat. The South China Morning Post melaporkan bahwa, regulator keamanan data Tiongkok meminta perusahaan itu untuk menunda IPO, tetapi permintaan itu diabaikan.

Kami tidak akan masuk ke intrik-intrik yang mungkin atau mungkin tidak terjadi di ruang rapat Didi. Terlepas dari alasan di balik investigasi-investigasi semacam itu, adalah jelas bahwa dengan meningkatkan modal asing akan menjadi  lebih sulit bagi perusahaan-perusahaan teknologi Tiongkok ke depan.

Hal itu telah menyebabkan beberapa kekhawatiran di antar raksasa teknologi Tiongkok yang  mempertimbangkan sebuah pendaftaran Amerika Serikat. Pada tanggal 7 Juli, LinkDoc—–sebuah penyedia data medis Tiongkok  yang didukung oleh Alibaba—–menarik daftarnya setelah membangun  sebuah buku pesan IPO dari para calon investor.

Untuk para investor ritel Amerika Serikat, pandangan Tiongkok yang lebih agresif mengenai IPO offshore adalah cenderung merupakan sebuah berkah terselubung. Tetapi untuk perusahaan-perusahaan modal ventura dan ekuitas swasta ——seperti pendukung awal Didi, Uber, SoftBank, dan perusahaan Korea Selatan Mirae Asset Management–—tiba-tiba menjadi lebih sulit untuk keluar dari  investasi mereka. Tanpa sebuah jaminan hasil IPO di ujung tanduk, akankah modal ventura dan Private Equity berbondong-bondong ke Tiongkok?

Para regulator Amerika Serikat sudah mempertimbangkan untuk menghapus beberapa perusahaan Tiongkok  dari bursa Amerika Serikat. Kini, tampaknya Beijing sedang melakukan pekerjaan mereka untuk mereka. (Vv)

 

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular