fbpx
Tuesday, December 7, 2021
HomeBERITA TIONGKOKSaat Banjir Mematikan Menghancurkan Kota-kota di Tiongkok, Sensor Beijing Mempercepat Penekanan terhadap...

Saat Banjir Mematikan Menghancurkan Kota-kota di Tiongkok, Sensor Beijing Mempercepat Penekanan terhadap Muatan ‘Energi Negatif’

Nicole Hao

Musim hujan musiman membanjiri kota-kota besar Tiongkok, menyebabkan korban sipil dan perusakan properti yang meluas. Informasi mengenai bencana tersebut semakin sulit didapat, karena  Komunis Tiongkok meningkatkan penyensoran muatan apa pun yang dianggapnya mengandung “energi negatif.”

Pada  22 Juli, rezim Tiongkok mengklaim bahwa 33 orang  meninggal akibat banjir tersebut, di mana delapan orang hilang. Tetapi video yang direkam oleh para penduduk setempat menunjukkan jumlah korban yang lebih tinggi. Netizen-netizen Tiongkok, sementara itu, membawa ke media sosial yang menuntut rezim Komunis Tiongkok mengungkapkan jumlah korban tewas yang sebenarnya.

Selama upaya penyelamatan baru-baru ini, mayat-mayat ditemukan di sebuah terowongan yang terendam di Zhengzhou, kota dengan banjir terparah sejauh ini, pada  22 Juli. Kota Zhengzhou memiliki penduduk lebih dari 12 juta orang, dan adalah ibukota Provinsi Henan di Tiongkok Tengah.

Sementara para penduduk setempat menuntut transparansi, rezim Tiongkok menyibukkan diri mempromosikan apa yang disebut program-program propaganda energi positif. Muatan semacam itu mencakup orang-orang yang memuji para pejabat partai, militer, dan upaya-upaya penyelamatan. 

Pada gilirannya, sensor-sensor online dengan cepat menghapus muatan apa pun yang dianggap membawa “energi negatif,” seperti rekaman yang diambil oleh para penduduk setempat yang mendokumentasikan kehancuran dan yang menyerukan pertanggungjawaban resmi.

Penderitaan dan Penyensoran

Dalam beberapa hari terakhir, video-video yang merekam kehancuran telah menjamur di  media sosial Tiongkok, mendorong tindakan cepat oleh sensor rezim.

Video itu menunjukkan bahwa ratusan mobil terjebak di dalam sebuah terowongan sebuah jalan raya di Zhengzhou yang terendam air banjir. Beberapa mayat pengemudi dan penumpang  masih duduk di dalam kendaraan itu. Dibutuhkan hanya lima menit untuk membuat terowongan tersebut terendam, menurut orang-orang yang bertahan selamat pada tanggal 20 Juli. Kedalaman air mencapai hampir enam meter di terowongan sepanjang 4,3 km itu. “Air naik begitu cepat. Kesempatan  bertahan hidup hanya sepuluh persen!” kata seorang wanita pengemudi, bermarga Yang, menurut platform media swasta Tiongkok, Toutiao.

Sementara regu penyelamat akhirnya mengeringkan terowongan jalan raya itu, ribuan penduduk Zhengzhou berkerumun dan merekam proses tersebut. Namun, karena mobil-mobil terendam mulai muncul dari air yang keruh, polisi mengusir warga untuk menjauh dan memblokir jalan-jalan terdekat.

Video itu diambil dari gedung-gedung, merekam regu penolong mengeluarkan mayat dari terowongan itu.

Dalam klip video yang lain yang beredar di media sosial pada  Kamis 22 Juli, ada teriakan “Ini mengerikan untuk dilihat,” “Saya terkejut melihat hal ini terjadi,” “benar-benar mengerikan,” disertai gambaran yang mengerikan mengenai kehancuran akibat banjir.

Namun ratapan sedih seperti itu ditandai oleh sensor ketat karena membawa “energi negatif” dan dihapus. Muatan lain mengenai ketidakberdayaan, kesusahan, dan penderitaan orang-orang, bersama dengan seruan masyarakat untuk transparansi menangani bencana mendapat perlakuan yang sama.

Seorang anggota staf perusahaan metro Zhengzhou milik negara, memposting secara online sebuah akun penyebab kereta metro terjebak dalam banjir pada  21 Juli. Insiden itu menyebabkan 12 kematian, menurut rezim Tiongkok.

Karyawan itu mengatakan, desain sistem metro memungkinkannya beroperasi dengan aman, tetapi manajer-manajer perusahaan tersebut tidak mau bertanggung jawab. Mereka juga tidak menghentikan operasi metro lebih awal ketika risiko banjir menjadi jelas, kata anggota staf itu.

Sekitar 500 penumpang akhirnya terjebak di dalam kereta yang terendam banjir. Banyak orang yang merekam video dan membagikannya secara online, untuk memohon bantuan.

Muatan ini dengan cepat beredar di platform media sosial Tiongkok, tetapi semuanya dihapus beberapa jam kemudian.

Sementara itu, media pemerintah Tiongkok belum melaporkan berita apa pun yang melibatkan kematian. Pesan mereka, sebaliknya, adalah bahwa Komunis Tiongkok telah memimpin orang-orang Tiongkok untuk menaklukkan banjir.

Di saat darurat, promosi berita yang memuji  kepemimpinan rezim Tiongkok dan penindasan apa pun, yang dapat membuat Beijing terlihat buruk adalah sebuah taktik Partai Komunis Tiongkok yang sudah usang, menurut Tang Jingyuan,  komentator urusan Tiongkok yang berbasis di Amerika Serikat.

“Ketika sebuah bencana terjadi, rezim Tiongkok tidak akan mengizinkan suara apa pun untuk melaporkan skala yang sebenarnya. Rezim Tiongkok selalu melaporkan berapa banyak upaya-upaya penyelamatan yang telah dilakukan rezim Tiongkok, dan kemudian mengklaim bahwa rezim Tiongkok memimpin orang-orang Tiongkok untuk menaklukkan bencana lagi,” kata TangJingyuan  kepada The Epoch Times padal 22 Juli.

Propaganda ‘Energi Positif’

Upaya propaganda Partai Komunis Tiongkok berjalan lancar di tengah bencana ini. Rezim Tiongkok mengumumkan setelah banjir, bahwa banjir yang baru-baru ini terjadi di Zhengzhou adalah peristiwa sekali dalam seribu tahun. Namun, Zhengzhou mengalami banjir yang jauh lebih parah kurang dari 50 tahun yang lalu pada  Agustus 1975. Wilayah Provinsi Henan mengalami sebanyak empat kali lipat jumlah hujan dalam periode dua hari saat itu dibandingkan dengan volume tahun ini, menurut Administrasi Meteorologi Tiongkok. Apalagi Tiongkok baru saja memulai menyimpan catatan resmi curah hujan pada tahun 1951.

Bukannya fokus pada liputan banjir, saluran TV Henan yang dikelola negara menyiarkan video penyanyi-penyanyi yang menyanjung Partai Komunis Tiongkok dan juga drama-drama   Perang Dunia II, yang bersifat propaganda yang memuji upaya-upaya perang Tiongkok.

Pembungkaman pelaporan meluas ke outlet-outlet nasional yang dikelola negara. Dari tanggal 20 Juli hingga 22 Juli, corong resmi Partai Komunis Tiongkok, People’s Daily tidak menampilkan apa pun mengenai banjir di Zhengzhou di halaman depannya. CCTV, media penyiar yang dikelola negara memecahkan keheningan pada  21 Juli, yang menyebutkan bahwa upaya penyelamatan sedang berlangsung.  (Vv)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular