Tuesday, November 30, 2021
No menu items!
HomeNEWSINTERNATIONALTunjuk Taliban sebagai Sebuah Organisasi Teroris: Hal Itu Telah Terjadi Sejak Dulu

Tunjuk Taliban sebagai Sebuah Organisasi Teroris: Hal Itu Telah Terjadi Sejak Dulu

oleh Anders Corr

Kekacauan yang terjadi di Afghanistan adalah hasil sebuah kegagalan strategi, intelijen, dan kemauan Amerika Serikat. Sebagai anggota utama aliansi melawan Taliban, dan sebagai negara pemimpin yang berusaha membawa demokrasi bagi Afghanistan, Amerika Serikat harus bertanggung jawab atas kegagalannya.

Unsur-unsur dari kegagalan itu adalah banyak, tetapi kegagalan Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat yang menggelikan  untuk menetapkan Taliban Afghanistan sebagai sebuah organisasi teroris adalah salah satu dari yang terburuk.

Sementara Taliban Afghanistan tidak terdapat dalam daftar organisasi teroris Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Tehrik-e Taliban Pakistan, yang merupakan organisasi Taliban Pakistan, begitu ditunjuk. Kegagalan untuk menyertakan Taliban Afghanistan adalah karena sebuah inisiatif bencana untuk bernegosiasi dengan Taliban Afghanistan. 

Orang-orang Amerika Serikat seharusnya tidak bernegosiasi dengan para teroris, dan untuk memastikan kita seharusnya jangan, kita meninggalkan yang ingin kita negosiasikan di luar daftar Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat. Kebijakan luar negeri penghapusan ini hanya membodohi diri kita sendiri, dan kurangnya kejelasan membuka jalan bagi Taliban untuk melenggang kembali ke Kabul saat kami bermain lagu.

Sekarang Amerika Serikat meninggalkan Afghanistan, tidak ada alasan untuk tidak mengubah kembali ke kenyataan: Taliban adalah teroris dan Taliban harus ditambahkan ke dalam daftar organisasi teroris Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat. 

Pengakuan negara harus ditolak Taliban sampai Taliban mengembalikan pemerintah dan lembaga pemilihan umum sebelumnya  seperti halnya pemerintah yang sah.

Namun, jangan menahan napas.

Baru-baru ini pada awal bulan Juni, Taliban mengaku bertanggung jawab karena membakar sebuah truk penuh bahan peledak di Distrik Balkh, yang menewaskan sedikitnya 16 orang, dan melukai 117 orang lainnya. Dari jumlah tersebut, dua warga sipil meninggal, dan 67 warga sipil terluka. Delapan puluh toko dan sepuluh rumah rusak. Gedung kabupaten dan markas polisi hampir hancur total.

Mungkin yang terburuk dari lima pemimpin Taliban teratas adalah Sirajuddin Haqqani, yang juga pemimpin jaringan pembunuh Haqqani. Pada tahun 2008, Haqqani dituduh menyerang hotel top Kabul. 

Pada tahun 2012, Haqqani ditempatkan pada daftar organisasi teroris Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat. Pada tahun 2017, Haqqani memiliki sekitar 5.000 pejuang di tenggara Afghanistan. Haqqani saat ini mengawasi aset keuangan dan militer Taliban di seluruh perbatasan Afghanistan-Pakistan. Haqqani juga telah dituduh telah melakukan sebuah serangan bunuh diri di Kedutaan Besar India, dan sebuah percobaan pembunuhan terhadap Hamid Karzai, yang saat itu menjabat sebagai Presiden Afghanistan. Haqqani diduga memimpin tidak hanya jaringannya sendiri, dan sebagian dari Taliban, tetapi juga menjadi bagian struktur kepemimpinan teroris al-Qaeda.

Profesor Mary Habeck di Universitas Georgetown, yang telah menulis tiga buku mengenai al-Qaeda, menulis sebuah dalam email, “Tidak ada jarak antara al- Qaeda dengan Taliban. Wakil Kepala Taliban adalah Sirajuddin Haqqani yang juga bawahan [komandan al-Qaeda Ayman] Zawahiri. Kementerian Luar Negeri menyatakan Sirajuddin sebagai sebuah “teroris global yang ditunjuk secara khusus” yaitu al-Qaeda pada tahun 2008 dan tidak ada pemerintahan yang menunjuk kembali yang menunjukkan bahwa pemerintahan ini, seperti semua yang lain mengakui fakta ini.”

Menurut sebuah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2020, “Kepemimpinan senior Al-Qaida tetap hadir di Afghanistan, serta ratusan operasi bersenjata, Al-Qaida di anak benua India, dan kelompok-kelompok pejuang teroris asing bersekutu dengan Taliban. … Hubungan-hubungan antara Taliban, khususnya jaringan Haqqani, dan Al-Qaida tetap dekat, berdasarkan persahabatan, sebuah sejarah perjuangan bersama, simpati ideologis, dan perkawinan campuran.”

Menurut laporan itu, “Taliban secara teratur berkonsultasi dengan Al-Qaida selama negosiasi dengan Amerika Serikat dan menawarkan jaminan-jaminan bahwa Taliban akan menghormati ikatan sejarah Taliban dengan Al-Qaida. 

Al-Qaida bereaksi secara positif terhadap perjanjian [dengan Amerika Serikat pada bulan Februari 2020], dengan pernyataan-pernyataan dari pembantu-pembantunya merayakan hal tersebut sebagai sebuah kemenangan untuk perjuangan Taliban dan dengan demikian sebuah kemenangan untuk militansi global.”

Perayaan Al-Qaeda adalah keputusasaan kita. Untuk memasukkan jaringan Haqqani yang terkait dengan al-Qaeda ke dalam daftar Kementerian Luar Negeri, tetapi bukannya Taliban yang terkait dengan al-Qaeda, ketika Taliban sebagian besar dipimpin oleh Haqqani, adalah sebuah cacat logis yang fatal.

Jelas-jelas, Taliban adalah sebuah organisasi teroris. Bahwa pemerintahan Joe Biden berlanjut dengan kekeliruan bahwa Taliban adalah bukan sebuah organisasi teroris, memungkinkan Amerika Serikat untuk bernegosiasi dan menenangkan Taliban lebih lanjut. Tetapi penenangan Taliban, dan para pendukungnya di Pakistan dan Tiongkok, adalah strategi yang jelas-jelas salah. 

Ketenangan menunda penyelesaian masalah, seperti yang telah kita lakukan berkali-kali sejak pembukaan pada tahun 1972 untuk Partai Komunis Tiongkok, yang seharusnya Partai Komunis Tiongkok itu sendiri dianggap sebagai sebuah organisasi teroris, menurut cendekiawan Universitas Chicago. Hal tersebut menunda hari pembalasan, yang akan lebih menyakitkan, lebih lama lagi kita menunggu untuk secara tegas menghadapi musuh-musuh demokrasi di seluruh dunia. (Vv)

Anders Corr memiliki gelar sarjana/master dalam ilmu politik dari Universitas Yale (2001) dan gelar doktor dalam bidang pemerintahan dari Universitas Harvard (2008). Dia adalah kepala sekolah di Corr Analytics Inc., penerbit Journal of Political Risk, dan telah melakukan penelitian ekstensif di Amerika Utara, Eropa, dan Asia. Dia menulis “The Concentration of Power” (akan terbit pada tahun 2021) dan “No Trespassing,” dan mengedit “Great Powers, Grand Strategies.”

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments