fbpx
Tuesday, December 7, 2021
HomeBERITA TIONGKOKMelarang Kerjasama di Bidang Sains dan Medis dengan Panen Gen yang Tidak...

Melarang Kerjasama di Bidang Sains dan Medis dengan Panen Gen yang Tidak Etis oleh Tiongkok

Bagian 4 dari 4 bagian Seri The World Summit on Combating and Preventing Forced Organ Harvesting atau Konferensi Tingkat Tinggi Dunia tentang ‘Memerangi dan Mencegah Pengambilan Organ Secara Paksa’

oleh Anders Corr

Para ilmuwan semakin waspada terhadap praktik pengumpulan data DNA oleh Tiongkok. Ahli genetika David Curtis berpendapat bahwa pengumpulan massal DNA oleh Tiongkok dapat digunakan sebagai sebuah basis data bank organ. Para penyelenggara  World Summit on Combating and Preventing Forced Organ Harvesting atau Konferensi Tingkat Tinggi Dunia mengenai Memerangi dan Mencegah Panen Organ Secara Paksa mengusulkan boikot terhadap lembaga medis dan ilmiah Tiongkok

Salah satu presentasi paling kuat di World Summit on Combating and Preventing Forced Organ Harvesting, yang diadakan antara 17 -26 September, menyatakan bahwa Tiongkok dapat mengembangkan sebuah bank gen yang berguna untuk panen organ secara paksa melalui pengujian genetik massal. 

Sang presenter adalah  Profesor David Curtis, adalah seorang ahli genetika di University College London (UCL). Ia juga berpendapat bahwa beberapa jurnal ilmiah harus berpotensi menolak kiriman artikel dari Tiongkok  karena catatan pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan di sana. 

Ahli lain juga semakin waspada untuk terlibat dengan para ilmuwan dari Tiongkok.

“Ada kasus-kasus [protes] lain yang terkait dengan analisis data genetik, khususnya dalam rangka pengawasan dan/atau identifikasi,” menurut Profesor Margaret Kosal, yang memegang banyak janji temu, termasuk di Institut Teknologi Georgia dan  Parker H. Petit Institute for Bioengineering and Bioscience.

“Untuk pekerjaan saya yang berurusan dengan implikasi keamanan yang muncul dan  teknologi-teknologi yang mengganggu, penelitian ini adalah beberapa yang paling spesifik, berbasis ilmiah, contoh sumber terbuka yang terdokumentasi mengenai penggunaan genetika dan algoritma pembelajaran mesin oleh Republik Rakyat Tiongkok dan indikator kemampuan. Saya bergulat secara etis dengan pertanyaan dalam konteks apa, atau bahkan jika, saya harus menggunakan dalam penulisan dan pembicaraan penelitian saya sendiri.”

Profesor David Curtis menyatakan: Kita tahu bahwa panen organ secara paksa sedang terjadi [di Tiongkok]. Kita tahu bahwa orang-orang dapat ditangkap secara sewenang-wenang, ditahan, kadang  dihilangkan–”kadang tanpa proses peradilan. Hal ketiga yang kita tahu, dan baru-baru ini, ada … pengujian genetik massal di seluruh seluruh penduduk, penduduk minoritas, dan wilayah tertentu.”

Profesor David Curtis mengatakan bahwa orang-orang kadang menjalani pemeriksaan medis, orang-orang itu memberikan sampel darah, dan salah satu hal yang dilakukan dengan sampel-sampel darah ini adalah bahwa seseorang dapat mengambil DNA dari orang-orang itu.”

Sejak tahun 2017, menurut penelitian oleh  Australian Strategic Policy Institute, rezim Tiongkok sedang mengumpulkan DNA dari 700 juta laki-laki untuk melacak mereka untuk alasan penegakkan hukum. Perusahaan Amerika Thermo Fisher dilaporkan menyediakan alat pengujian DNA ke pihak berwenang Tiongkok yang memenuhi spesifikasi Tiongkok.

Tetapi pengumpulan DNA oleh Tiongkok sebelumnya difokuskan pada minoritas, dan menurut Profesor David Curtis, hal itu memungkinkan pihak berwenang Tiongkok untuk memelihara sebuah bank data donor-donor organ potensial, yang dapat dipaksa menjadi donor organ.

Ada sebuah kekurangan relatif dari sumbangan organ sukarela di Tiongkok dan pengumpulan DNA massal juga ditentang di Tiongkok. Organisasi hak asasi manusia berpendapat, tidak ada persetujuan nyata untuk pengumpulan DNA di sebuah sistem yang sangat otoriter  di mana sulit untuk menolak. Mereka juga khawatir bahwa pengujian DNA yang tersebar luas, dapat digunakan untuk menghukum anggota keluarga pembangkang dan aktivis. 

Menurut The New York Times, petugas kepolisian di Tiongkok menuntut sampel darah dalam pengujian DNA massal terhadap anak laki-laki di sekolah. The New York Times mengutip kasus lain di mana seorang pria berusia 31 tahun, dipaksa untuk memberikan sebuah sampel darah setelah diancam. Tuan Jiang, seorang insinyur komputer dari utara Tiongkok, mengatakan kepada The New York Times dalam sebuah wawancara pada tahun 2019 bahwa pihak berwenang memperingatkannya, Jika darah tidak dikumpulkan, kami akan terdaftar sebagai ‘rumah tangga kulit hitam.'” Jika ia gagal mematuhi, ia dan keluarganya akan kehilangan manfaat seperti hak untuk bepergian dan pergi ke rumah sakit,’ kata laporan itu.

Mengingat sifat rezim di Beijing, Profesor David Curtis berkata: “Sangat sulit untuk melihat mengapa [panen organ secara paksa berdasarkan pengumpulan DNA massal] tidak terjadi. Di sini anda memiliki sebuah rezim yang mengumpulkan sampel-sampel …  di mana rezim itu dapat mendapatkan DNA dari semua orang ini. Kita tahu bahwa rezim itu tidak punya penyesalan untuk menangkap orang, menahan orang. Kita tahu bahwa rezim itu  tidak memiliki penyesalan mengenai panen organ secara paksa. Hal itu membawa sebuah keunikan dimensi baru yang mengerikan untuk proses ini.”

Profesor David Curtis berpendapat bahwa kumpulan donor-donor potensial untuk panen organ secara paksa, telah berkembang di Tiongkok dari para tahanan yang dieksekusi, tahanan yang dihukum, hingga tahanan pada umumnya. Dan sekarang pihak berwenang Tiongkok dapat memeriksa bank DNA  yang dimilikinya. Pihak berwenang Tiongkok dapat mengidentifikasi sebuah donor yang cocok.  Tidak perlu  menjadi seorang tahanan, karena bisa saja seseorang yang di jalan, pergi bekerja, pergi ke sekolah, berada di rumah. Mungkin ada sebuah ketukan di pintu, dan orang tersebut dapat ditahan, diciduk dari rumahnya, diciduk darinya tempat kerjanya– kemudian ”tidak pernah terlihat lagi karena ia cocok untuk seseorang yang membutuhkan transplantasi organ,” kata Profesor David Curtis.

Hal ini menciptakan potensi bagi seluruh penduduk Tiongkok untuk menjadi sebuah ladang manusia untuk menjadi donor organ potensial, menurut Profesor David Curtis, yang menekankan bahwa  tidak ada bukti untuk hal ini. Tetapi ia berkata: Kami memiliki bukti bahwa panen organ paksa sedang terjadi. Kami memiliki bukti penahanan sewenang-wenang dan orang-orang yang hilang. Dan kami memiliki bukti bahwa ada pengumpulan DNA secara masif yang sedang berlangsung.”

Profesor David Curtis bertanya, Mengapa pihak berwenang Tiongkok tidak terlibat dalam panen organ paksa dari orang-orang Tibet, orang-orang Uyghur, dan tahanan-tahanan, misalnya, di mana DNA mereka disimpan di sebuah bank, jika seorang pejabat Partai Komunis Tiongkok yang berkuasa membutuhkan sebuah transplantasi ginjal, dan oleh karena itu perlu menemukan sebuah pasangan yang cocok?

Profesor David Curtis mengatakan bahwa jika bank gen digunakan untuk transplantasi yang memanfaatkan panen organ secara paksa, maka hal ini tidak hanya melibatkan layanan keamanan. Profesor David Curtis melanjutkan, agar ini berhasil, dokter harus terlibat, ilmu-ilmu genetika dan banyak orang lain dalam sebuah jaringan ilmu pengetahuan dan medis profesional.

Tak seperti di Inggris, di mana para ilmuwan akan masuk penjara karena terlibat dalam praktik medis yang tidak etis itu, tidak ada transparansi profesional dan pertanggungjawaban di Tiongkok, kata Profesor David Curtis. Tidak ada mekanisme untuk melawan negara dan menganjurkan untuk menegakkan sebuah standar etika jika bertentangan dengan apa yang ingin dilakukan oleh negara.

Mengingat apa yang diketahui mengenai pengujian genetik secara paksa dan panen organ secara paksa, Profesor David Curtis merasa semakin tidak nyaman, sebagai editor sebuah jurnal genetika, mengenai kiriman yang diterimanya dari Tiongkok.  Mengapa saya harus percaya bahwa para ilmuwan telah melakukan penelitiannya dengan sebuah cara yang etis, ketika saya tahu bahwa lembaga ilmiah dan medis [Tiongkok]  bersedia menerima praktik semacam ini?

Profesor David Curtis menjelaskan, Apa yang membawa kita adalah dimensi genetika baru untuk masalah ini.” Dia mengatakan bahwa kita harus melakukan sesuatu tentang ini. “Menurut saya ada sebuah cara yang dapat kita lakukan untuk memengaruhi perilaku Tiongkok,” katanya.

“Ada tempat di mana ada kepekaan dan hal yang mereka pedulikan dan salah satunya adalah pengakuan ilmiah mereka, dan karir dari mereka dalam ilmu pengetahuan mereka,” tambahnya. 

Profesor David Curtis mengangkat pertanyaan mengenai penolakan rutin karya ilmiah yang berbasis pada asal karya ilmiah di Tiongkok. Ia melakukan ini ketika ia menjadi editor dari Annals of Genetika Human Genetics, yang berbasis di Universitas College London dan diterbitkan oleh Wiley.

Menurut Profesor David Curtis dalam email:  “Saya merasa saya tidak dapat melanjutkan sebagai editor jika saya harus terus-menerus berurusan dengan kontribusi dari Tiongkok. Pada pertemuan tahunan dengan penerbit, setelah berdiskusi dengan dewan, kami setuju bahwa sebuah boikot adalah  tidak layak. Pada pertemuan itu, sebagai sebuah kompromi, kami sepakat bahwa saya dapat menerbitkan sebuah tajuk rencana yang menjelaskan kekhawatiran saya dan menyatakan agar orang-orang mungkin mempertimbangkan sebuah boikot. Saya dan Thomas Schulze [di LMU Munich di Jerman dan SUNY Upstate Medical University di New York] menyusun sebuah tajuk rencana. (Ini adalah teks yang ditautkan dalam artikel Guardian, kurang lebih.) Kapan penerbit melihat tajuk rencana tersebut, mereka menolak untuk menerbitkannya dan ingin agar tajuk rencana tersebut diubah. Saya menolak untuk mengubahnya karena saya pikir saya harus bertanggung jawab atas konten itu, bukan bertanggung jawab pada penerbit. Karena penerbit tidak akan mempublikasikan tajuk rencana tersebut yang telah saya tulis, saya mengajukan pengunduran diri saya.”

Profesor David Curtis, Schulze, Yves Moreau di KU Leuven ESAT-STADIUS di Belgia, dan Thomas Wenzel di Universitas Kedokteran Wina di Austria, berusaha untuk menerbitkan surat yang berjudul Tiongkok–apakah sudah waktunya untuk mempertimbangkan sebuah boikot? di tempat lain.

Usulan untuk menolak semua artikel dari Tiongkok sering bertentangan dengan aturan ditemukan dalam klausul non-diskriminasi terhadap diskriminasi berdasarkan asal negara. Tetapi ini adalah sebuah penyertaan yang salah, ketika beberapa negara melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida, menurut definisi PBB.

Tidak mengizinkan diskriminasi semacam itu, terutama terhadap negara totaliter terkuat di dunia, mengundang pertumbuhan lebih lanjut dari kekuatannya. Gagal untuk mengambil tindakan terhadap genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh negara ini adalah  gagal mengambil sebuah sikap melawan ketidakadilan terbesar ini. Haruskah kita tidak  mendiskriminasi genosida? Apakah non-diskriminasi dalam hal ini bukanlah keterlibatan dalam sebuah diskriminasi yang lebih besar secara eksponensial?

Jurnal lain menolak untuk menerbitkan surat itu, termasuk The Lancet, British Medical Journal (BMJ), dan Journal of the American Medical Association (JAMA).

Namun, surat itu diterbitkan oleh The Guardian pada bulan Juni. Sedangkan jurnal medis membantah terlalu menghormati Tiongkok, Guardian melaporkan bahwa Wiley dan Lancet menyatakan bahwa penerbitan surat itu dapat menyebabkan kesulitan ke kantor mereka di Tiongkok, menurut penulis surat itu.

Profesor David Curtis menjelaskan dalam sebuah email:  Menurut kontrak saya, saya memiliki satu-satunya tanggung jawab atas apa yang diterbitkan dan saya dapat saja menolak setiap pengajuan dari Tiongkok. Tetapi saya tahu hal ini tidak akan sesuai dengan apa diharapkan dari saya. Itu tidak akan sesuai dengan kebijakan penerbit dan hal itu juga adalah sesuatu yang tidak didukung oleh dewan redaksi (telah didiskusikan dengan mereka). Saya menyadari bahwa hal itu adalah sebuah posisi pribadi yang saya ambil dan jadi saya memutuskan untuk mengundurkan diri.

Profesor David Curtis mengundurkan diri dari redaktur Annals of Human Genetics dalam  protes pada bulan September 2020, yang menjadi publik pada  Juni. Ia mengatakan kepada Guardian: Saya mengundurkan diri karena publikasi artikel diblokir oleh manajer senior di Wiley yang seharusnya tidak memiliki suara dalam konten sebuah jurnal ilmu pengetahuan. Saya diberitahu bahwa Wiley mempunyai sebuah kantor di Beijing, implikasinya adalah bahwa publikasi akan menyulitkan. Penerbit tidak punya urusan memberitahu editor apa yang bisa dan tidak bisa mereka publikasikan karena kepentingan yang kuat di Tiongkok. 

Annals of Human Genetics awalnya disebut Annals of Eugenics yang dipermalukan untuk “memperbaiki” spesies manusia melalui membiakkan ciri-ciri penyakit mental, kriminalitas, atau dalam kasus Nazi Jerman, karakteristik-karakteristik rasial.

Kasus Profesor David Curtis sayangnya menunjukkan bahwa yang paling etis dari para ilmuwan, di bidang yang terkadang kurang etika, adalah orang-orang yang dipaksa keluar dari posisinya berpengaruh yang bermanfaat.

Namun, Profesor David Curtis melanjutkan karyanya untuk membawa sebuah pendekatan yang lebih etis ke bidang genetika, baik melalui berbicara di depan umum menentang  pengumpulan genetik secara paksa dan panen organ secara paksa, dan dalam mengajukan pertanyaan mengenai apakah sebuah boikot kerjasama ilmu pengetahuan medis yang formal dengan Tiongkok  harus dilembagakan.

“Apa artinya itu bagi jurnal ilmu pengetahuan adalah bahwa kami tidak akan mempertimbangkan kiriman yang datang dari Tiongkok, datang dari dokter Tiongkok dan ilmuwan Tiongkok,” kata Profesor David Curtis.  Kami akan mengatakan, lihat, anda tahu profesi anda adalah terlibat dalam praktik ini. Kami tidak akan memperlakukan anda sebagai rekan kerja kami. Kami tidak akan mengatakan bahwa kami tahu bahwa anda mengikuti etika yang sama terhadap praktik yang kami lakukan.

Profesor David Curtis berargumen bahwa hal ini akan meningkatkan kesadaran komunitas di bidang medis Tiongkok dan ilmu pengetahuan mengenai praktik yang tidak etis. Ia menulis dalam sebuah email, Kami berharap untuk segera meluncurkan sebuah situs web yang memungkinkan dokter dan ilmuwan untuk mendaftar untuk sebuah boikot.

Tepat setelah Profesor David Curtis berbicara di Konferensi Tingkat Tinggi Dunia, koalisi lima kelompok nirlaba yang menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi Dunia, Doctors Against Forced Organ Harvesting  (DAFOH), the Taiwan Association for International Care of Organ Transplants (TAICOT), Korea Association for Ethical Organ Transplants (KAEOT), Transplant Tourism Research Association (TTRA) dari Jepang dan CAP Freedom of Conscience dari Prancis merilis Universal Declaration on Combating and Preventing Forced Organ Harvesting (UDCPFOH)  atau “Deklarasi Universal mengenai Memerangi dan Mencegah Panen Organ Secara Paksa.”

Pasal 9 Deklarasi Universal itu secara langsung mendukung usulan Profesor David Curtis, di antara ketentuan lainnya. Pasal 9 Deklarasi Universal itu menyatakan, Semua pemerintah harus 

(1) Mendesak para profesional medis untuk secara aktif mencegah pasien-pasiennya pergi ke Tiongkok untuk  operasi transplantasi; 

(2) Mendesak para profesional medis untuk tidak memberikan pelatihan operasi transplantasi  atau tidak untuk memberikan pelatihan yang sama di negaranya kepada  dokter atau tenaga medis Tiongkok; 

(3) Mendesak jurnal-jurnal medis untuk menolak publikasi mengenai ‘pengalaman Tiongkok’ dalam pengobatan transplantasi; 

(4) Tidak mengeluarkan visa untuk profesional medis Tiongkok yang mencari pelatihan transplantasi organ atau  jaringan tubuh di luar negeri; [dan] 

(5) Dokter-dokter Tiongkok tidak berpartisipasi dalam seminar, simposium atau konferensi internasional di bidang transplantasi dan operasi transplantasi.

Kita sebenarnya tidak hanya membutuhkan sebuah boikot ilmu pengetahuan dan medis terhadap Tiongkok, seperti yang telah diperdebatkan Profesor David Curtis, tetapi juga membutuhkan undang-undang yang melarang ilmuwan dan profesional medis untuk bekerja sama dengan perusahaan asing di bidang ilmu pengetahuan dan medis   yang terlibat dalam praktik yang sangat tidak etis. Ini berlaku terutama   untuk Partai Komunis Tiongkok saat ini, sebagaimana mestinya diterapkan pada Nazi Jerman pada tahun 1930-an dan 1940-an.

Dengan undang-undang seperti itu, kesadaran akan meningkat bahwa Barat adalah serius dengan komitmennya terhadap hak-hak asasi manusia dan kesediaannya untuk secara penuh semangat menegaskan hak-hak ini, dalam menghadapi kekuatan luar biasa dari partai-partai politik yang tidak liberal seperti Partai Komunis Tiongkok. 

Kesadaran akan ditingkatkan di Tiongkok, di mana membatasi efek hukum akan memberikan konsekuensi bagi  dukungan dan kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok dalam praktik medis dan ilmu pengetahuan yang tidak etis, dengan demikian menekan Partai Komunis Tiongkok agar menghentikan pengumpulan DNA secara paksa dan panen organ secara paksa. 

Kita harus menangani masalah ini dengan sangat serius di negara-negara yang memiliki hak istimewa untuk menikmati kebebasannya, seperti dalam kasus Falun Gong, orang-orang Uighur, dan orang-orang Tibet di Tiongkok, mereka merupakan bagian genosida. (Vv)

BACA JUGA :  Panen Organ Secara Paksa di Tiongkok Adalah Genosida Medis untuk Memperoleh Keuntungan

BACA JUGA : Beijing Membungkam Media Global Mengenai Panen Organ Secara Paksa di Tiongkok

BACA JUGA :  Sanksi Partai Komunis Tiongkok untuk Panen Organ Secara Paksa

Anders Corr memiliki gelar sarjana/master dalam ilmu politik dari Universitas Yale (2001) dan doktor dalam pemerintahan dari Universitas Harvard (2008). Ia adalah kepala sekolah di Corr Analytics Inc., penerbit Journal of Political Risk, dan telah melakukan penelitian ekstensif penelitian di Amerika Utara, Eropa, dan Asia. Dia menulis “The Concentration of Power” (akan terbit pada tahun 2021) dan “No Trespassing,” dan mengedit “Great Powers, Grand Strategies.”

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular