Wednesday, January 19, 2022
HomeNEWSINTERNATIONALUtang Zambia ke Kreditur Tiongkok Melebihi dari 6 Miliar Dolar AS di...

Utang Zambia ke Kreditur Tiongkok Melebihi dari 6 Miliar Dolar AS di Akhir Juni

Danella Pérez Schmieloz

Utang Zambia ke kreditur Tiongkok lebih dari 6 miliar dolar AS atau Rp 86 Triliun pada akhir Juni, menurut data yang diungkapkan oleh pemerintah pada  17 Oktober. Praktik peminjaman oleh rezim Tiongkok telah diberi label diplomasi jebakan utang, karena rezim Tiongkok menyediakan bagi  negara berkembang dengan pinjaman yang seringkali tidak dapat dibayar untuk proyek infrastruktur, membuat negara berkembang itu bergantung pada Tiongkok

Angka utang yang diterbitkan oleh pemerintahan baru Zambia yang baru saja terpilih, setelah  China Africa Research Initiative  (CARI) merilis sebuah laporan  bulan lalu yang memperkirakan utang Zambia kepada para pemberi pinjaman Tiongkok menjadi usd 6,6 miliar. Angka baru adalah kira-kira dua kali lipat jumlah yang diungkapkan oleh  pemerintah yang sebelumnya.

Pemaparan Zambia kepada para kreditur Tiongkok berjumlah lebih dari 40 persen total utang luar negeri Zambia, yaitu 14,67 miliar dolar AS pada bulan Juni, termasuk utang yang dijamin publik dan tidak dijamin publik.

Komunis Tiongkok disebutl karena praktik pemangsanya dalam pemberian pinjaman, yang diduga bertujuan untuk memperluas pengaruh geopolitiknya dengan menaklukkan banyak negara melalui utang yang tidak mampu dibayar oleh negara-negara itu.

Tiongkok membiayai proyek infrastruktur di negara-negara berkembang dengan menyediakan pinjaman yang besar sekali kepada negara-negara berkembang itu melalui bank milik negara Tiongkok. 

Banyak negara-negara berkembang itu tidak mampu membayar utang, jatuh ke dalam sebuah jebakan utang, yang memaksa negara-negara berkembang itu untuk memberikan aset yang strategis  kepada Tiongkok dalam jangka panjang, menempatkan kedaulatan negara-negara berkembang itu berada dalam bahaya. 

Banyak dari proyek ini, meskipun tidak semua, berada di bawah Inisiatif Belt and Road, sebuah program yang diluncurkan pada tahun 2013 oleh pemimpin Komunis Tiongkok Xi Jinping.

Utang Zambia mulai tidak terkendali, setelah tahun 2015, terutama karena pinjaman Tiongkok di bawah Inisiatif Belt and Road , menurut  International Bar Association.

Pada tahun 2019, perusahaan jasa keuangan Moody memperingatkan bahwa”–dalam kejadian gagal bayar utang—”negara-negara Afrika yang kaya akan sumber daya alam, seperti Zambia, mungkin harus menyerahkan aset-aset yang penting dalam negosiasi ulang dengan para kreditur Tiongkok, sebagaimana dilaporkan oleh Persatuan Pengacara Internasional. Sumber daya Zambia mencakup  tembaga, kobalt, perak, uranium, zamrud, batu bara, dan beberapa barang semi mulia lainnya dan logam mulia dan mineral.

Pada  November 2020, Zambia gagal membayar utang senilai  42,5 juta dolar AS untuk pembayaran kembali Eurobond. Ini adalah negara Afrika pertama yang melakukannya selama  pandemi virus  Komunis Tiongkok, yang memperdalam beban keuangan Zambia.

Kementerian Keuangan Zambia merinci utang luar negeri senilai  6,18 miliar dolar AS kepada Tiongkok. Pada bulan Juni pemerintah pusat berutang  4,47 miliar dolar AS kepada  para kreditur Tiongkok, perusahaan negara berutang  1,34 miliar Dolar AS melalui fasilitas yang dijamin oleh pemerintah, dan utilitas listrik negara Zesco berutang sekitar 14o juta dolar AS tidak dijamin oleh pemerintah. Sisanya  225,5 juta dolar AS adalah tunggakan bunga.

Utang Inisiatif Belt and Road  yang Tidak Berkelanjutan  

Pendanaan rezim Tiongkok untuk proyek infrastruktur di negara-negara berkembag berada di bawah Inisiatif Belt and Road telah menghadapi reaksi dari negara yang berpartisipasi karena utang yang tidak berkelanjutan dan skandal korupsi, menurut sebuah penelitian terbaru dari AidData, sebuah laboratorium penelitian di  Institut Riset Global William & Mary.

Penelitian AidData menunjukkan 42 negara berpenghasilan rendah dan negara berpenghasilan menengah memiliki pemaparan utang publik  ke Tiongkok yang melebihi 10 persen Produk Domestik Bruto negara-negara tersebut. Demikian juga, laporan Bank Sentral mengatakan bahwa 23 persen negara terlibat dalam Inisiatif Belt and Road, membangun utang luar negeri hingga tingkat yang tidak berkelanjutan.

Meskipun proyek yang ditawarkan oleh Inisiatif belt and road dan program pinjaman Tiongkok lainnya seharusnya akan meningkatkan Produk Domestik Bruto negara-negara tersebut cukup untuk membayar utang yang ditanggung, manfaat ekonominya”– terutama di negara-negara dunia ketiga — dipertanyakan, menurut Lawrence A. Franklin, dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Institut Gatestone.

“Beberapa dari paket bilateral ini tampaknya sudah dibuat-buat untuk memenjarakan  negara-negara yang sudah miskin itu menjadi budak ekonomi yang permanen bagi Tiongkok,” kata Lawrence A. Franklin. (Vv)

Reuters Berkontribusi dalam laporan ini

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

TERBARU

CERITA KEHIDUPAN