fbpx
Tuesday, December 7, 2021
HomeBERITA TIONGKOKKebenaran di Balik Sebuah Film Patriotik Tiongkok

Kebenaran di Balik Sebuah Film Patriotik Tiongkok

Tang Jingyuan

Partai Komunis Tiongkok memicu gelombang patriotisme  dan anti-Amerikanisme lainnya melalui rilis sebuah film yang sangat memutarbalikkan kebenaran sejarah sebuah pertempuran.

Sensor Ulasan-Ulasan Film Online

Ada dua titik fokus dari hype seputar film berjudul “The Battle at Lake Changjin” atau Pertempuran di Danau Changjin ini.

Titik fokus pertama adalah bahwa film ini menjadi sebuah film yang laris sejak dirilis. Mulai dari 7 Oktober, total penjualan box office film tersebut secara resmi melebihi USD 680 juta dan dengan demikian membuat sebuah rekor baru, menurut platform data real-time  Lighthouse Professional, sebuah platform informasi data internet.

Titik fokus kedua adalah sebuah ulasan film berjudul Untuk Siapa Patriotisme yang Murah Dipersembahkan, yang segera dihapus di WeChat.

Ulasan ini dimaksudkan untuk mengkritik film laris berdurasi tiga jam tersebut, yang diinvestasikan oleh tokoh bisnis terkemuka Tiongkok Jack Ma dan dirilis pada Hari Nasional Partai Komunis Tiongkok, karena tidak cukup memuji keagungan Partai Komunis Tiongkok. 

Efek khusus yang murah dari film tersebut juga telah membuat sebuah representasi negatif dari sejarah yang diduga luar biasa oleh rezim Tiongkok.

Namun, artikel itu segera dihapus, meskipun tidak ada hubungannya dengan oposisi tetapi tidak sepenuhnya patuh. Reaksi semacam itu mewujudkan seberapa besar Administrasi Dunia Maya Tiongkok–”pusat pengatur internet”–menganggap pentingnya film tersebut.

Seorang wanita Korea Selatan menangis saat dia meratapi kerabatnya yang meninggal pada tahun 1950 dalam Perang Korea pada Hari Peringatan Korea di Pemakaman Nasional Seoul di Seoul, Korea Selatan, pada 6 Juni 2004. (Chung Sung-jun/Getty Images)

Latar Belakang Sejarah Pertempuran 

Pertempuran di Danau Changjin (juga disebut Pertempuran Waduk Chosin) adalah sebuah gerakan militer diluncurkan di dekat Danau Changjin selama serangan kedua oleh Partai Komunis Tiongkok untuk mengusir PBB keluar dari Korea Utara pada tahun 1950. Tujuan utama rezim Tiongkok adalah untuk melenyapkan Divisi Marinir ke-1 dan Divisi Infanteri ke-7 (anggota-anggota Korps X) Angkatan Bersenjata Amerika Serikat dengan cara pengepungan dan penyergapan.

Namun, hasilnya adalah bahwa Amerika Serikat berhasil menarik pasukan militernya dan Partai Komunis Tiongkok menderita kerugian-kerugian besar.

Ada sebuah latar belakang penting untuk pertempuran ini, yang dimulai dengan Pertempuran Pyongyang. Setelah Korea Utara melancarkan sebuah perang agresi terhadap Korea Selatan, Komando PBB”–sebuah tim keamanan bersama internasional di bawah sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa dan dipimpin oleh Amerika Serikat–”menyerang balik dan kemudian memasuki Korea Utara pada awal bulan Oktober 1950.

Pada  19 Oktober 1950, Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa merebut Pyongyang dan pada dasarnya memusnahkan tentara mantan pemimpin Korea Utara Kim Il-sung. Jenderal Douglas MacArthur, yang saat itu menjadi panglima tertinggi Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa, telah memperkirakan bahwa Perang Korea akan berakhir sebelum hari Natal.

Pada jeda ini ketika rezim Kim Il-sung akan jatuh, Partai Komunis Tiongkok secara diam-diam campur tangan dalam perang ini dengan sebuah cara yang tidak diumumkan, menyamar sebagai sukarelawan sementara mengirim sejumlah besar pasukan reguler yang kuat untuk meluncurkan sebuah penyergapan skala-besar terhadap Komando PBB.

Dengan demikian, pertempuran di Danau Changjin dimulai.

Warga Korea Selatan di dalam bus mengucapkan selamat tinggal kepada kerabat Korea Utara mereka sebelum mereka kembali ke rumah mereka setelah reuni keluarga, yang telah terpisah selama 60 tahun setelah Perang Korea, di Gunung Kumgang, Korea Utara, pada 5 November 2010. (Kim Chang-gil/Kolam Renang Korea/Getty Images)

Kontroversi Selama Pertempuran

Meskipun tampaknya Partai Komunis Tiongkok mengklaim  bahwa Partai Komunis Tiongkok adalah pemenang Pertempuran di Danau Changjin, ada kontroversi besar di dalam rezim Tiongkok.

Pada tahun 2014, corong terbesar Partai Komunis Tiongkok, People’s Daily Online, menerbitkan sebuah artikel yang memastikan sebuah pernyataan yang dibuat oleh Liu Bocheng, salah satu dari Sepuluh Marsekal yang mendorong pembentukan Tentara Pembebasan Rakyat.

Liu Bocheng mengatakan bahwa adalah sangat menyenangkan bagi militer Amerika Serikat untuk dapat mundur sepenuhnya dari Pertempuran di Danau Changjin.

Kenyataannya, apa yang sebenarnya dikatakan Liu Bocheng, ketika mengajar di Akademi Militer Nanjing, adalah sebagai berikut:

“Selama Pertempuran di Danau Changjin, sebuah resimen pasukan-pasukan [Tiongkok], yang telah mengepung Divisi Marinir 1 Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, akhirnya berakhir dengan tidak ada musuh yang dimusnahkan atau dikalahkan. Dengan korban Divisi Marinir 1 Angkatan Bersenjata Amerika Serikat 10 kali lebih sedikit dari korban-korban kita [Partai Komunis Tiongkok], tidak hanya militer Amerika Serikat Yang sepenuhnya mundur dari pertempuran tersebut, Partai Komunis Tiongkok juga mengangkut semua tentaranya yang terluka dan senjata-senjatanya.”

Kenyataannya, ada rupa yang memalukan lain yang tidak disebutkan oleh Liu Bocheng–”militer Amerika Serikat tidak hanya sepenuhnya mundur dari pertempuran tersebut, tetapi juga berhasil melindungi mundurnya lebih dari 98.000 pengungsi.

Pada  25 November 2020, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Tiongkok kembali menyebutkan rincian yang penting ini dalam sebuah tweet dalam memperingati 70 tahun Pertempuran di Danau Changjin.

Dengan kata lain, meskipun pasukan elit Partai Komunis Tiongkok memiliki sebuah keunggulan absolut dalam angkatan bersenjata, mengepung militer Amerika Serikat, dan menangkap tentara-tentara Amerika Serikat yang lengah, pasukan elit Partai Komunis Tiongkok masih tidak mampu mengalahkan musuh.

Mengingat fakta bahwa Partai Komunis Tiongkok juga telah mengorbankan lebih banyak tentara daripada Amerika Serikat, Pertempuran di Danau Changjin adalah benar-benar memalukan bagi Mao Zedong, pemimpin Partai Komunis Tiongkok saat itu yang konon kata orang-orang tidak terkalahkan di medan perang.

Hal lain yang perlu disebutkan adalah bahwa Partai Komunis Tiongkok tidak hanya menganggap Pertempuran di Danau Changjin merupakan sebuah kemenangan strategis yang luar biasa, Amerika Serikat juga menganggap pertempuran yang sama itu sebagai sebuah kemenangan.

Setelah penarikan Divisi Marinir ke-1 dari Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, militer Amerika Serikat mengeluarkan total 17 Medali Kehormatan dan 70 Navy Cross, yakni medali tertinggi yang diberikan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat.

1950: Pasukan Amerika di Korea. (MPI/Getty Images)

Dalam sejarah perang militer Amerika Serikat, belum ada pertempuran lain di mana lebih banyak medali diberikan untuk sebuah operasi sejak saat itu.

Luka Karena Dingin yang Luar Biasa Akibat Kecerobohan

Mengapa Partai Komunis Tiongkok kehilangan begitu banyak pasukan dan gagal mencapai tujuannya untuk memusnahkan militer Amerika Serikat? Alasan utamanya adalah karena Partai Komunis Tiongkok menderita kehilangan begitu banyak pasukan yang parah, bukan akibat pertempuran melainkan akibat sebagai korban luka karena dingin yang luar biasa.

Menurut pernyataan resmi Partai Komunis Tiongkok, kehilangan begitu banyak pasukan yang parah itu terjadi karena Korps ke-9 Partai Komunis Tiongkok, berhenti sebentar di Shenyang, Tiongkok, untuk istirahat dan mengenakan pakaian hangat dan kemudian terus bergerak dengan cepat ke Korea Utara, di mana terlibat dalam konfrontasi.

Juga, menurut  Mater Terpilih mengenai Pengalaman Logistik dalam Perang untuk Melawan Serangan Amerika Serikat dan Membantu Korea: Pasokan Militer, sebuah judul buku yang diterbitkan oleh Partai Komunis Tiongkok, Korps ke-9 memang menerima sejumlah besar pakaian musim dingin seperti mantel katun yang tebal dan topi katun. Desas-desus bahwa Korps ke-9 memasuki pertempuran dengan pakaian berlapis kapas yang tipis adalah tidak benar.

Namun, masih ada sebuah informasi penting yang mengatakan bahwa banyak tentara di medan perang mati, karena terluka akibat dingin yang luar biasa karena pakaian mereka yang buruk, yang menimbulkan pertanyaan–”ke mana perginya semua pakaian musim dingin itu?

Ada dua alasan di balik tragedi ini: alasan pertama karena berbagai faktor, beberapa tentara tidak membagikan pakaian musim dingin yang mereka terima ke seluruh pasukan yang berada di garis depan.

Alasan lainnya adalah untuk membawa pasukan ke lokasi penyergapan dan menyempurnakan pengepungan sesegera mungkin, perintah yang dikeluarkan oleh atasan ke seluruh pasukan untuk berangkat adalah hampir melampaui batasan tentara. Karena perintah ini, banyak tentara terpaksa meninggalkan pakaian musim dingin yang berat karena takut bahwa mereka tidak dapat mencapai lokasi penyergapan tepat waktu.

Para perwira Partai Komunis Tiongkok menghargai eksploitasi militer mereka di atas nyawa tentara mereka, sehingga memperlakukan tentara-tentara itu dengan menyedihkan.

Misalnya, untuk mempercepat pembangunan sebuah jembatan, satu batalyon insinyur khusus dari Angkatan Darat ke-26 secara langsung memerintahkan satu peleton perwira dan tentaranya untuk melompat ke sungai es itu, dengan suhu -20 derajat Celcius. Setelah satu malam, seluruh peleton sangat kedinginan dan menderita amputasi sebagai akibatnya.

Akar penyebab kegagalan pertempuran ini, yang  dikaitkan dengan cuaca dingin, sebenarnya adalah kecerobohan para perwira.

Kebenaran Di Balik Kemenangan yang Strategis

Para pejabat Partai Komunis Tiongkok selalu menekankan bahwa meskipun Pertempuran di Danau Changjin menimbulkan korban yang menghancurkan pada tentara Tiongkok, upaya tentara Tiongkok, masih secara strategis membalikkan situasi dan menghindari runtuhnya keluarga Kim, garis keturunan tiga generasi kepemimpinan Korea Utara yang diwariskan dari pemimpin pertama negara itu, Kim Il-sung.

Tanpa pertempuran ini, tidak akan ada negosiasi gencatan senjata berikutnya  yang diadakan di Panmunjom. Dengan demikian, pertempuran ini harus dianggap sebagai sebuah kemenangan strategis.

Pernyataan seperti ini agak memutarbalikkan kebenaran.

Perang Korea dipicu oleh perang agresi yang dilakukan oleh Kim Il-sung terhadap Korea Selatan dengan cara melintasi 38 Lintang Utara. 

Setelah bertarung beberapa pertempuran, Partai Komunis Tiongkok gagal mengubah hasil dari gencatan senjata yang masih berlangsung antara dua Korea, yang berbatasan di 38 Lintang Utara berdasarkan Perjanjian Gencatan Senjata Korea.

Dengan kata lain, apa yang didapat Partai Komunis Tiongkok setelah menimbulkan lebih dari satu juta korban dan pengeluaran keuangan yang sangat besar, tidak lain adalah antagonisme antara negara Barat dan Partai Komunis Tiongkok itu sendiri.

Partai Komunis Tiongkok telah berulang kali menekankan pentingnya mematuhi tatanan internasional yang dituntut oleh PBB. Menurut Resolusi 82, yang disahkan oleh Dewan Keamanan PBB pada tahun 1950, Korea Utara harus segera mengakhiri invasinya ke Korea Selatan.

Ada pun Resolusi 498 yang lain yang disahkan oleh Majelis Umum PBB pada 1 Februari 1951, agresi Republik Rakyat Tiongkok dikutuk. Ini adalah pertama kalinya di mana PBB memperlakukan suatu bangsa sebagai agresor.

Dengan cara yang sama, Partai Komunis Tiongkok harus terlebih dahulu mengakui perilaku agresifnya, sebelum Partai Komunis Tiongkok memenuhi syarat untuk mengatakan apa pun mengenai mematuhi perintah PBB.

Dalam menghadapi fakta sejarah semacam itu, apakah Partai Komunis Tiongkok akan menghindari membicarakannya seperti biasa atau menyangkalnya dengan nihilisme historis, sebuah istilah yang mengacu pada interpretasi sejarah dianggap salah oleh Partai Komunis Tiongkok? (Vv)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular