fbpx
Tuesday, December 7, 2021
HomeNEWSINTERNATIONAL'Mereka Akan Membuat Semuanya Menghasilkan Uang': Beijing Mengubah Pelanggaran HAM Menjadi...

‘Mereka Akan Membuat Semuanya Menghasilkan Uang’: Beijing Mengubah Pelanggaran HAM Menjadi Industri

Eva Fu – The Epoch Times

Partai Komunis Tiongkok telah menjadi ahli dalam mengambil keuntungan dalam pelanggaran hak asasi manusia terhadap rakyatnya, menurut seorang mantan pejabat Kementerian Luar Negeri AS, yang menunjuk pada komersialisasi rezim Tiongkok terhadap tenaga kerja budak–”dan  bagian tubuh dari tahanan hati nurani yang terbunuh. 

Robert Destro, seorang mantan asisten Menteri Luar Negeri AS untuk demokrasi, hak asasi manusia, dan tenaga kerja, mengatakan bahwa para pemimpin Tiongkok akan mengejar apa pun yang dapat menghadirkan sebuah tantangan bagi pemerintahannya.

“Para pemimpin Tiongkok adalah ahli-ahli ekstraksi,” kata Robert Destro pada sebuah panel 18 Oktober 2021 di Institut Hudson. Ia mengatakan, Para pemimpin Tiongkok akan membuat segalanya untuk menghasilkan uang, mulai dari sumber daya nasional hingga organ hati anda.

Ekstraktif, koersif, represif, dan intrusif–inilah empat kata yang digunakan Robert Destro untuk menggambarkan Partai Komunis Tiongkok.

Agama sangat terpukul, kata Robert Destro, menunjuk  yang dihadapi kelompok spiritual Falun Gong sebagai sebuah contoh.

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah latihan meditasi spiritual berdasarkan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar.

Diperkenalkan pada tahun 1992 di kota Changchun,  timur laut Tiongkok, Falun Gong menikmati dukungan negara yang cukup besar di tahun-tahun awal saat Falun Gong menyebar dengan cepat dari mulut ke mulut. Dengan perkiraan resmi, Falun Gong berhasil memiliki lebih dari 70 juta praktisi pada akhir dekade tersebut. Media negara Tiongkok memuji Falun Gong karena manfaat kesehatannya, dan pejabat Komisi Olahraga Negara mencatat penghematan miliaran di bidang medis yang diberikan Falun Gong kepada negara.

Pada tahun 1999, pemimpin Partai Komunis Tiongkok saat itu Jiang Zemin memerintahkan penarikan semua  dukungan semacam itu, dan pada tanggal 20 Juli tahun itu, Partai Komunis Tiongkok meluncurkan sebuah kampanye nasional dalam sebuah upaya untuk menghilangkan Falun Gong.

“Dan sampai hari ini, Falun Gong dianggap sebagai sebuah ancaman eksistensial,” kata Robert Destro.

Para praktisi Falun Gong telah diidentifikasi oleh para ahli sebagai kelompok korban utama dalam kampanye panen organ secara paksa yang dijadikan industri oleh Beijing. Organ dari para praktisi Falun Gong yang dipenjara diekstraksi dan dijual, seringkali dengan harga puluhan ribu dolar, dalam sebuah proses medis yang mengerikan tanpa ada korban yang selamat.

Selama rapat umum yang diikuti oleh ribuan praktisi Falun Gong di Taipei 23 April 2006, empat demonstran memperagakan dalam sebuah drama aksi melawan apa yang mereka katakan adalah pembunuhan komunis Tiongkok terhadap pengikut Falun Gong dan pengambilan organ mereka di kamp konsentrasi. (Patrick Lin / AFP / Getty Images via The Epochtimes)

“[Pemerintah] Tiongkok menggunakan sistem kepolisian, sistem peradilan, sistem medis, bekerja sama untuk memungkinkan rantai keuntungan ini,  Jika mereka mengidentifikasi kecocokan, mereka dapat pergi ke rumah anda untuk menangkap anda dengan nama apa pun dan memanen organ-organ anda,” kata Sean Lin, direktur komunikasi untuk Himpunan Falun Dafa di Washington. 

Praktik “menjual organ tubuh rakyatnya sendiri” yang mengerikan itu membuat rezim Tiongkok tidak berbeda dengan sebuah perusahaan kriminal yang terorganisir, kata Robert Destro. 

Mantan pejabat itu, yang sebelumnya juga menjabat sebagai seorang koordinator khusus untuk masalah Tibet, mengamati jenis kebijakan eksploitatif yang sama  diterapkan di dataran tinggi Tibet dan di tempat lain di Tiongkok.

Tibet, kata Robert Destro, telah menjadi sebuah tempat pembuktian utama, di mana rezim Tiongkok telah melakukan represi secara kebal hukum. Hal ini dilakukan dengan mengekstrak mineral Tibet, memaksa penduduk setempat untuk berasimilasi secara kebudayaan dengan praktik sebagian besar suku Han Tiongkok, mendorong pemimpin spiritual Tibet Dalai Lama ke pengasingan, dan mengubah kawasan itu menjadi sebuah negara bagian pengawasan yang meresap.

Wilayah ini adalah sangat penting secara geostrategis dan lingkungan, karena baik pintu gerbang untuk memajukan proyek infrastruktur Belt and Road maupun  untuk sumber daya air utama bagi negara-negara tetangga Tiongkok di Asia. Dikenal sebagai “atap” dunia, ketinggian dataran tinggi juga menambah nilai strategisnya dalam tawaran rezim Tiongkok untuk memproyeksikan kekuatan militer secara global.

“Jika anda memiliki misil anda di atas dataran tinggi, anda dapat menghantam apa saja,” kata Robert Destro.

Adegan serupa juga terjadi di Xinjiang, wilayah paling barat tempat diperkirakan 1 juta orang Uyghur terkurung dalam sebuah jaringan kamp tahanan. Bagi aparat komunis Tiongkok diundang-undangkan sebagai bagian sebuah klaim kampanye kontra-terorisme.

Rezim Tiongkok juga telah menunjukkan  tidak ada belas kasihan sama sekali, kata Nury Turkel, seorang pengacara Amerika Serikat keturunan Uighur dan wakil ketua U.S. Commission on International Religious Freedom atau Komisi Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama Internasional.

“Bagi Partai Komunis Tiongkok, agama apa pun yang terorganisasi, praktik agama atau kepercayaan apa pun, dianggap sebagai sebuah ancaman. Hal-hal tersebut dianggap sebagai sebuah ancaman bagi kelangsungan hidup Partai Komunis Tiongkok”

Wilayah Xinjiang menyediakan 85 persen kapas Tiongkok dan sekitar seperlima pasokan dunia, yang sebagian besar cenderung tercemar oleh kerja paksa, menurut lembaga pemikir Center for Global Policy.

Selain itu, wanita Uyghur di kamp Xinjiang  melihat harta rambut mereka—yang dipanjangkan menurut tradisi mereka”–dicukur habis. Beberapa dari rambut ini kemudian menjadi bahan tenun dan produk kecantikan lainnya yang dijual di Amerika Serikat, kata para penyintas yang diwawancarai oleh The Epoch Times.

Seorang petani mengambil kapas dari ladang di Hami, wilayah otonomi Xinjiang Uygur, Tiongkok, pada 1 November 2012. (China Daily / File Photo / Reuters)

Banyak penjara di seluruh Tiongkok, mainan, bunga buatan, kosmetik, dan pakaian hanyalah  beberapa barang-barang yang dibuat para tahanan hati nurani yang dipaksa untuk membuat selama waktu yang lama, selama berjam-jam yang melelahkan setiap hari, ujar para praktisi Falun Gong yang melarikan diri ke Amerika Serikat kepada The Epoch Times.

Dan pelaksanaan pelanggaran hak asasi manusia oleh rezim Tiongkok tidak berhenti di perbatasan Tiongkok, kata para ahli.

Dengan Tiongkok memainkan sebuah peran utama dalam rantai pasokan global, rezim Tiongkok tidak ragu-ragu untuk menggunakan kekuatan ekonominya untuk membalas kritik Barat dan membengkokkan perusahaan Amerika Serikat sesuai keinginannya.

Awal tahun ini, Beijing memimpin sebuah  boikot terhadap merek pakaian internasional utama yang berusaha menghindari menggunakan kapas Xinjiang dalam produk-produknya, yang menyebabkan selusin merek fesyen untuk kehilangan duta merek Tiongkok mereka.

Nina Shea, seorang ahli kebebasan beragama di Institut Hudson yang memoderasi panel tersebut, mencatat bahwa ketika pemerintahan Donald Trump memberlakukan tarif terhadap barang-barang Tiongkok, para penerbit Alkitab yang berbasis di Amerika Serikat  yang mencetak puluhan jutaan Alkitab di Tiongkok memihak Beijing dalam melobi Washington terhadap tindakan Donald Trump tersebut.

“Ini adalah sebuah model kehidupan dan keberadaan alternatif yang dilakukan oleh orang-orang Tiongkok sendiri yang secara sadar bersaing dengan model demokrasi liberal,” kata Nina Shea.

Nasib komunitas agama orang-orang Tiongkok patut mendapat perhatian lebih dekat dari Serikat Amerika, kata Nina Shea dan Robert Destro.

“Hal-hal ini sedang dipelopori di komunitas-komunitas ini,Hal tersebut muncul di sebuah  tempat di dekat anda jika kita tidak waspada,” ujar Nina Shea.  (Vv)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular