fbpx
Tuesday, December 7, 2021
HomeSAINS & TEKSAINSProfesor Harvard Menyarankan Anak-Anak Sebaiknya Tidak Menerima Vaksin COVID-19

Profesor Harvard Menyarankan Anak-Anak Sebaiknya Tidak Menerima Vaksin COVID-19

Jan Jekielek dan Zachary Stieber

Anak-anak sebaiknya tidak menerima vaksinasi terhadap virus penyebab COVID-19, menurut profesor kedokteran Universitas Harvard Martin Kulldorff.

“Saya tidak berpikir anak-anak harus diberi vaksinasi untuk COVID. Saya adalah seorang pendukung berat untuk memberi vaksinasi anak-anak untuk campak, gondok, polio, rotavirus, dan banyak penyakit lain, itu adalah penting. Tetapi COVID bukanlah sebuah ancaman besar bagi anak-anak,” kata Profesor Martin Kulldorff di program American Thought Leaders EpochTV.

Ia mengatakan, Anak-anak dapat terinfeksi, sama seperti anak-anak dapat terkena flu biasa, tetapi anak-anak bukanlah sebuah ancaman besar. Anak-anak tidak meninggal karena hal ini, kecuali dalam keadaan yang sangat jarang. 

“Jadi jika anda ingin berbicara mengenai melindungi anak-anak atau menjaga anak-anak tetap aman, saya pikir kita dapat berbicara mengenai kecelakaan lalu lintas, misalnya, beberapa risiko yang benar-benar terjadi. Dan ada hal-hal lain yang harus kita pastikan untuk menjaga anak-anak tetap aman. Tetapi COVID bukanlah sebuah faktor risiko yang besar untuk anak-anak,” tambahnya.

Memberi vaksinasi pada lansia dan orang-orang dari segala usia dengan sistem kekebalan yang terganggu melawan virus Komunis Tiongkok, yang menyebabkan COVID-19, telah menarik dukungan dari sebagian besar ahli medis. Tetapi memberi vaksinasi pada orang-orang muda yang sehat, terutama anak-anak,  memicu lebih banyak penentangan, sebagian karena seberapa kecil risiko yang ditimbulkan COVID-19 bagi mereka.

Anak-anak lebih cenderung tertular penyakit yang parah atau meninggal akibat influenza tahunan, atau flu, daripada COVID-19, menurut data dan penelitian yang ditinjau Martin Kulldorff. 

Hanya 195 anak yang berusia antara 0 hingga 4 tahun dan 442 anak yang berusia antara usia 5 tahun hingga 18 tahun,  meninggal karena COVID-19 di Amerika Serikat per  20 Oktober, menurut  Centers for Disease Control and Prevention (CDC) atau Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. 

Anak-anak adalah 15 kali lebih kecil kemungkinannya untuk dirawat inap di rumah sakit dengan penyakit COVID-19 dibandingkan dengan orang-orang yang berusia 85 tahun ke atas dan anak-anak adalah 570 kali lebih kecil kemungkinannya untuk meninggal, kata CDC. 

Salah satu contohnya dari Swedia, saat gelombang pertama di musim semi 2020, yang cukup kuat mempengaruhi Swedia, kata Martin Kulldorff. Tetapi, Swedia memutuskan untuk mempertahankan tempat penitipan anak dan sekolah-sekolah tetap buka untuk semua anak usia satu tahun hingga usia 15 tahun. Dan ada 1,8 juta anak-anak tersebut yang berhasil melewati gelombang pertama tanpa vaksin, tentu saja, tanpa masker, tanpa jaga jarak sosial di sekolah. Jika satu anak menderita sakit, anak-anak disuruh tinggal di rumah. Tetapi hal tersebut adalah pada dasarnya. Dan anda tahu berapa banyak dari 1,8 juta anak tersebut yang meninggal akibat COVID-19? Nol. Hanya beberapa anak yang dirawat inap di rumah sakit. Jadi COVID-19 bukanlah sebuah penyakit yang berisiko bagi anak-anak.

Saat menimbang apakah akan memberi vaksinasi pada anak-anak, risiko efek samping vaksin juga harus diperhitungkan, kata Profesor Martin Kulldorff. Risiko utama untuk orang-orang muda adalah peradangan jantung, yang telah terjadi pasca-vaksinasi adalah jauh yang lebih tinggi daripada yang diperkirakan. 

The Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat, menambahkan sebuah label peringatan untuk vaksin Pfizer dan vaksin Moderna selama musim panas mengenai miokarditis dan perikarditis, dua jenis peradangan jantung.

“Jika anda berusia 78 tahun, menurut saya hal itu adalah tidak masalah, karena manfaat-manfaatnya adalah sangat besar sehingga bahkan jika anda memiliki risiko kecil untuk beberapa reaksi yang merugikan, manfaatnya adalah jauh lebih besar daripada risikonya,” kata Martin Kulldorff.  

Di sisi lain, jika anda sudah memiliki kekebalan karena pernah menderita COVID, maka manfaat vaksin adalah jauh, jauh lebih kecil. Jika anda adalah seorang anak, bahkan jika anda belum pernah menderita COVID, risiko penyakit serius atau kematian adalah sangat kecil … Jadi sama sekali tidak jelas bahwa manfaat-manfaat tersebut lebih besar daripada risiko-risikonya bagi anak-anak.

Martin Kulldorff berbicara menjelang sebuah pertemuan panel penasihat FDA. Pada Selasa, para anggota pertemuan sedang mempertimbangkan apakah akan menganjurkan regulator obat untuk mengizinkan vaksin COVID-19 Pfizer untuk diberikan pada anak-anak berusia antara 5 tahun hingga 11 tahun.

Banyak pejabat kesehatan federal dan beberapa ahli luar mendukung memberi vaksinasi pada anak-anak. Mereka mengatakan memberi vaksinasi pada anak-anak akan membantu mempercepat kemajuan menuju kekebalan kelompok (herd immunity) dan melindungi anggota rumah tangga, terutama orang-orang yang paling berisiko tertular COVID-19. Bahkan, memperhatikan bahwa rawat inap di rumah sakit di antara anak-anak yang terinfeksi COVID meningkat selama musim panas dan hingga bulan September.

“Anak-anak membutuhkan perlindungan terhadap COVID-19 dan vaksin ini adalah aman dan efektif,”  Dr. Patrick Hickey, ketua dan profesor pediatri di Uniformed Services University, tulis di Twitter.

FDA dalam sebuah dokumen pengarahan untuk panel tersebut mengatakan bahwa, angka kasus peradangan jantung pasca-vaksinasi untuk anak-anak kecil, diperkirakan sama dengan angka kasus peradangan jantung pasca-vaksinasi untuk anak-anak yang berusia antara 12 tahun hingga 15 tahun, yang telah menerima vaksinasi selama berbulan-bulan, dan bahwa manfaat suntikan vaksin Pfizer adalah lebih besar daripada “risiko-risiko yang diketahui atau risiko potensial.” (Vv)

 

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular