India Menempatkan Helikopter Chinook dan Senjata Buatan AS Lainnya Dekat Perbatasan dengan Tiongkok

Pada 21 Oktober 2021, di Arunachal Pradesh, India, konflik perbatasan Tiongkok-India kembali terjadi dan sebuah truk militer India melaju menuju kota Tawang (Tawang). (Money Sharma/AFP/Getty Images)

 oleh Lin Yan

Helikopter militer Chinook buatan AS diharapkan menjadi pengubah aturan main di perbatasan India-Tiongkok. Seiring dengan upaya penguatan hubungan di bidang pertahanan antara Amerika Serikat dengan India, India baru-baru ini mengerahkan sejumlah senjata baru buatan Amerika Serikat ke perbatasan untuk memperkuat militer perbatasan dalam melawan ancaman Beijing

Bagian timur laut dari India berbatasan dengan Bhutan dan Tibet. Daerah dengan Dataran Tinggi Tawang sebagai pusatnya diklaim oleh komunis Tiongkok sebagai wilayah milik mereka, padahal daerah tersebut dikuasai oleh India. Lokasi di sini memang secara historis memiliki makna politik dan militer.

Sekarang, helikopter Chinook buatan AS, howitzer derek ultra-ringan, senapan, rudal jelajah supersonik buatan India dan sistem pengawasan baru telah ditempatkan oleh militer India di perbatasan India-Tiongkok, dekat dengan Tibet, yang diharapkan dapat membantu militer dalam pengangkutan pasukan, senjata dan persediaan ke perbatasan dengan cepat.

Letnan Jenderal Manoj Pande, komandan Angkatan Darat India Timur mengatakan bahwa tentara, tank, artileri dan dukungan udara sedang digabungkan untuk membuat tentara India dapat bergerak lebih cepat secara fleksibel, praktis dan ringan.

Dia mengatakan bahwa peralatan ini, telah sepenuhnya disebarkan ke Korps Serangan Gunung, dan semua unit termasuk pasukan pendukung tempur.

Brigade Penerbangan Angkatan Darat India yang baru dibentuk, juga sudah ditempatkan sekitar 300 kilometer di selatan Tawang. Ini adalah pangkalan udara yang dipakai oleh Angkatan Udara Amerika Serikat ketika berperang melawan Angkatan Udara Jepang selama Perang Dunia II, dan membantu Republik Tiongkok dalam melawan invasi Jepang.

Helikopter Chinook yang saat ini menjadi pelengkap dari militer India dapat mengangkut howitzer dan pasukan ringan untuk secara cepat melintasi pegunungan. Pada saat yang sama, drone buatan Israel yang juga menjadi pelengkap militer India, juga dapat menangkap dan menyiarkan gambar musuh secara real-time 24 jam satu hari.

Pilot dari brigade yang baru dibentuk mengatakan : “Chinook adalah pengubah permainan. Mereka memberikan mobilitas dan kemampuan manuver yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga pasukan dan artileri dapat dengan cepat dari satu punggungan ke punggungan lainnya”.

Pada tahun 2020, terjadi konflik berdarah terburuk dalam beberapa dekade terakhir antara pasukan penjaga perbatasan komunis Tiongkok dengan India, yang mengakibatkan kematian setidaknya 20 orang tentara India dan 4 orang tentara komunis Tiongkok (jumlah korban tewas yang diumumkan oleh pihak komunis Tiongkok dipertanyakan). Sejak saat itu India mulai memperkuat pertahanan di perbatasannya. Meskipun kedua belah pihak telah terlibat dalam perundingan, namun belum mencapai kesepakatan tentang penarikan tentara.

Rajeswari Pillai Rajagopalan, direktur Pusat Keamanan, Strategi dan Teknologi dari New Delhi Observer Research Foundation mengatakan kepada Bloomberg, bahwa pembangunan perbatasan India menunjukkan kekecewaan India terhadap tidak adanya kemajuan dalam negosiasi dengan pihak komunis Tiongkok. Karena itu, konfrontasi militer antara kedua belah pihak sulit diharapkan dapat segera mereda.

Undang-Undang Perbatasan Darat yang baru disahkan pemerintah komunis Tiongkok pekan lalu, membuat New Delhi merasa tidak aman. Beijing mengatakan bahwa UU. ini adalah “standar seragam untuk memperkuat manajemen perbatasan”. Meskipun pekan lalu India sudah memperingatkan bahwa undang-undang baru ini dapat menambah ketegangan perbatasan saat ini. Namun, Wang Wenbin, juru bicara Kementerian Luar Negeri komunis Tiongkok justru mengatakan bahwa itu hanyalah dugaan yang tidak tepat.

Pada tahun lalu, setidaknya ada 30.000 orang tentara India yang telah disebarkan di wilayah timur India. Pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi khawatir akan terulangnya pertempuran di Himalaya tahun 1962. Saat itu, tentara India tidak cukup siap dan terpaksa mundur sehingga Tawang sempat direbut oleh komunis Tiongkok.

Menurut seorang komandan militer senior yang mengetahui situasi tersebut, bahwa India sekarang ingin menggunakan daerah itu untuk “melawan” komunis Tiongkok bila diperlukan. Komandan tersebut mengatakan bahwa, daerah itu sangat penting bagi pertahanan India karena perbatasan India yang membentang ke timur sampai ke Myanmar tidak kondusif untuk melakukan pertahanan, tetapi koridor sempit yang melewati Bhutan, Nepal, dan Bangladesh menjadi sangat penting, karena adanya pipa gas dan rel kereta api yang menghubungi India tengah dan timur laut. (sin)