Thursday, January 27, 2022
HomeGaya HidupKisah dari Tiga Ibu AS : Para Orangtua Memperingatkan Anak-Anaknya Menjadi Target...

Kisah dari Tiga Ibu AS : Para Orangtua Memperingatkan Anak-Anaknya Menjadi Target Indoktrinasi Transgender

 
 
oleh Patricia Tolson

Di Amerika Serikat, terjadi sebuah peningkatan tajam  jumlah anak-anak yang mengidentifikasi dirinya sebagai transgender, yang mana telah mengkhawatirkan beberapa orangtua.

Dikarenakan angka-angka ini berkembang dengan pesat, tiga orang ibu berbagi tanda-tanda peringatan indoktrinasi transgender. 

Ledakan Angka Transgender Anak

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh American Academy of Pediatrics yang dirilis pada  Mei 2020 menunjukkan, hampir 10 persen siswa Sekolah Menengah Umum yang berada di satu sekolah kabupaten yang diidentifikasi memiliki keragaman gender. Angka 10 persen itu adalah jauh lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, seperti sebuah survei pemerintah pada tahun 2017 terhadap siswa Sekolah Menengah Umum Amerika Serikat, di mana hanya 1,8 persen mengatakan mereka mengidentifikasi dirinya sebagai transgender.

Ketika beberapa penelitian menunjukkan angka bunuh diri dan angka percobaan bunuh diri yang lebih tinggi di antara anak-anak transgender, terkait dengan non-afirmasi.  Penelitian lain menunjukkan bahwa angka bunuh diri dan angka percobaan bunuh diri yang lebih tinggi di antara remaja dengan disforia gender, adalah lebih terkait dengan riwayat diagnosis psikiatri lainnya dan masalah emosi dan perilaku yang dilaporkan sendiri. 

Sementara penelitian yang disebut The Trevor Project”–secara luas dikutip oleh orang-orang yang mendorong pendekatan afirmasi saja untuk menghindari menyakiti diri sendiri”—menunjukkan bahwa sebuah angka signifikan sejumlah remaja transgender mengakui penggunaan narkoba dan alkohol secara berlebihan. 

Penelitian tersebut tidak mengeksplorasi atau memberikan statistik apa pun, terkait sebelum ditegakkan eksistensi diagnosis psikiatri lainnya atau masalah emosi dan perilaku yang dilaporkan sendiri di antara para peserta.

Kerentanan Sosial/Mental

Sementara masing-masing dari tiga keluarga dalam kisah ini berasal dari latar belakang yang berbeda dan tinggal di negara bagian yang berbeda. Anak-anak masing-masing dari tiga keluarga tersebut baru-baru ini mengidentifikasi dirinya sebagai transgender memiliki beberapa kesamaan pada umumnya. Semua anak-anak itu berada dalam kelompok usia yang sama, semua anak-anak itu canggung secara sosial, dan semua anak-anak itu pernah didiagnosis dengan beberapa bentuk gangguan sosial atau psikologis.

Vera Lindner dari Los Angeles, California, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa trans bom dijatuhkan ke dalam dunianya setahun yang lalu ketika putrinya yang waktu itu berusia 14 tahun. Kini sang putri berusia 15 tahun, didiagnosis menderita Sindrom Asperger dan Gangguan Defisit Perhatian. Sang putri menderita depresi, kecemasan, resistensi insulin, dan obesitas. Sang putri juga didiagnosis menderita sindrom ovarium polikistik.

Dee, dari Clover, Carolina Selatan memiliki seorang putri berusia 17 tahun yang diindoktrinasi pada usia 15. Sang putri didiagnosis menderita trauma pra-adopsi.

Seorang ibu yang prihatin di Augusta, Georgia, yang merupakan orang tuatunggal, berbicara kepada The Epoch Times dalam kondisi yang tidak disebutkan namanya dan menggunakan nama samaran Mary. Mary mengatakan pada bulan November 2020 putranya mengumumkan bahwa dirinya adalah transgender.

Meskipun tidak secara resmi didiagnosis menderita  gangguan tertentu, Mary “membawa sang putra untuk diuji spektrum [autisme] saat sang putra berusia lebih muda dan sang putra berada di zona abu-abu.

“Mereka tidak dapat mengatakan ya atau tidak,” tambah Mary. Sang putra selalu sedikit canggung dan aneh secara sosial.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

TERBARU

CERITA KEHIDUPAN