Di Italia Ada Batu yang Bisa ‘Menggigit’, Setiap Hari Ada Saja Tangan Turis yang ‘Digigit’

Erabaru.net. Banyak fenomena misterius yang sering terjadi di dunia, dan fenomena ini sulit dijelaskan dengan ilmu pengetahuan manusia saat ini. Sebagian besar alasannya adalah skup yang mampu dijelajahi manusia masih relatif kecil.

Ilmu pengetahuan dan teknologi yang kita miliki masih banyak keterbatasan, sehingga belum mungkin memahami segala sesuatunya tentang alam.

Saat ini kita masih berada dalam proses eksplorasi terus-menerus. Dalam proses ini, kita akan menjumpai banyak fenomena yang menumbangkan kognisi manusia.

Misalnya, pernahkah Anda mendengar bahwa batu bisa ‘menggigit orang’ ? Sebuah batu tak bernyawa yang pantasnya hanya dijadikan hiasan di pinggir jalan, bagaimana bisa ‘menggigit’ ?

Tapi di Italia, memang ada batu yang bisa ‘menggigit’, bahkan banyak turis yang telah ‘digigit’ setiap harinya, tapi masih dibiarkan terbuka untuk dunia luar.

Batu ini terletak di Gereja Santa Maria di Cosmedin di Roma, Italia. Dari luar, gereja ini tidak terlihat berbeda dengan gereja lain. Bahkan ukurannya pun lebih kecil dari gereja lain, tetapi orang yang datang ke sana setiap harinya akan berbaris panjang. Karena di sana terdapat ‘batu kebenaran’ yang terkenal di dunia.

Batu ini terlihat seperti wajah manusia, ada hidung dan mata, tetapi yang paling penting adalah mulutnya, konon mulut ini dapat mendeteksi hati dan pikiran seseorang, pengunjung hanya perlu memasukkan tangan ke dalam mulutnya dan mengucapkan sepatah kata.

Jika kata yang diucapkan itu benar, maka tidak akan terjadi apa-apa. Namun, kalau ucapan ini tidak benar atau bertentangan dengan keinginan pengucap, maka telapak tangan yang dimasukkan ke dalam mulut itu akan terluka, seakan digigit.

Legenda batu ajaib itu telah menarik banyak turis manca negara, dan dalam film Roman Holiday yang dibintangi oleh Audrey Hepburn, batu kebenaran ini disebutkan. Dan sejumlah turis yang pernah melakukan percobaan merasakan tangannya seolah-olah telah ‘digigit’ setelah mengeluarkan ucapan yang tidak jujur.

Meski demikian, orang-orang yang datang berkunjung setiap hari masih saja banyak, sampai mulut batu itu menjadi licin akibat banyak terkena gesekan tangan manusia.

Batu kebenaran dan produk teknologi modern, yakni alat uji kebohongan (poligraf) pada prinsipnya sama. Keduanya menggunakan perubahan psikologis ketika seseorang berbohong untuk menilai apakah ucapan seseorang itu tidak dibuat-buat, alias bohong.

Kapan saja kalau kita memiliki kesempatan, dapat pergi ke sana untuk mengalami sendiri ‘kekuatan ajaib’ dari batu kebenaran ini. Apakah kita juga akan ‘digigit’ setelah berbohong. (sin/yn)

Sumber: aboluowang