Militer Amerika Serikat Kini Memiliki Sistem Radar Anti-Rudal Baru yang Mampu Melacak Senjata Hipersonik

pentagon waspadai perangkat lunak buatan cina tiongkok dan rusia
Pandangan udara gedung Pentagon di Washington, pada 15 Juni 2005. (Jason Reed / Reuters)

oleh Chen Ting – Epochtimes.com

Pentagon pada Senin (6/12/2021) menyatakan bahwa pembangunan sistem radar identifikasi jarak jauh yang terletak di Alaska telah selesai dilakukan. Dengan berfungsinya fasilitas tersebut, berarti militer Amerika Serikat akan lebih mampu melengkapi sistem pertahanan rudal AS yang sudah ada dalam melacak berbagai rudal termasuk senjata hipersonik yang mengancam pertahanan nasional AS.

Menurut situs web pertahanan AS ‘Defense News’, sistem terbaru yang dimasukkan ke dalam pertempuran sebenarnya adalah Long Range Recognition Radar (LRDR) yang terletak di Clear Air Force Station. Radar ini dapat meningkatkan kinerja sistem pertahanan rudal, lebih efektif dalam mengidentifikasi rudal yang diluncurkan oleh lawan potensial, dan meningkatkan kemampuan pencegat darat di Alaska dan California.

Tahun depan, militer AS akan mengintegrasikan radar baru tersebut ke dalam Sistem Pertahanan Pencegatan Berbasis Darat (Ground-based Midcourse Defense. GMD) dan sistem Komando, Kontrol, Manajemen Pertempuran, dan Komunikasi (Command, Control, Battle Management and Communications. C2BMC). Diharapkan pada tahun 2023, Angkatan Udara AS juga akan secara resmi akan memanfaatkan fasilitas tersebut.

“Hari ini adalah tonggak yang sangat penting bagi pertahanan nasional Amerika Serikat”, kata Jon Hill, Direktur Badan Pertahanan Rudal. 

Ia mengatakan, radar identifikasi jarak jauh telah selesai dibangun, dan pengujian sekarang dapat dimulai, diharapkan sistem penting ini sudah siap. untuk sepenuhnya dioperasikan”.

LRDR akan memungkinkan Komando Utara untuk lebih efektif dalam mempertahankan Amerika Serikat dari ancaman rudal balistik dan hipersonik.

LRDR adalah radar S-band yang menggunakan teknologi canggih galium nitrida (GaN) untuk meningkatkan kemampuan. Ada total 10 susunan utama, ditambah lagi dengan 10 susunan tambahan yang melengkapi sistem radar di Alaska. Pentagon telah menghabiskan sekitar USD. 1,5 miliar untuk membiayai pembangunan sistem tersebut. Namun karena dampak COVID-19, waktu serah-terima telah tertunda selama 1 tahun. Menurut rencana awal, radar itu seharusnya sudah dapat menjalani pengujian dengan penerbangan tempur pada kuartal ketiga tahun fiskal 2021.

Badan Pertahanan Rudal AS dalam sebuah pernyataannya menyebutkan : Setelah beroperasi penuh, LRDR akan memberikan kemampuan yang tak tertandingi untuk secara bersamaan mencari dan melacak beberapa objek kecil, termasuk semua jenis rudal balistik, pada jarak yang sangat jauh.

Pernyataan itu juga menyinggung soal sistem radar tersebut, juga mampu secara akurat membedakan antara hulu ledak musuh yang mematikan atau umpan yang tidak membahayakan dalam tugas melakukan pencegatan rudal.

Badan Pertahanan Rudal AS mengatakan bahwa, LRDR juga dapat memantau aktivitas luar angkasa, seperti satelit yang mengorbit bumi, roket yang ditinggalkan, dan serpihan luar angkasa untuk mendukung operasi luar angkasa.

Kontraktor utama sistem ini adalah Lockheed Martin. Perusahaan tersebut mengatakan bahwa melalui peningkatan perangkat lunak di masa depan, LRDR akan memiliki kemampuan untuk mendeteksi dan melacak senjata hipersonik. (sin)