Awalnya Ibunya Keberatan Dia Menikah dengan Pria Miskin Yatim Piatu, Saat Ibunya Sakit dan Membutuhkan Uang, Dia Terkejut Melihat Tabungan Suaminya

Erabaru.net. Aku dilahirkan dari keluarga petani, dan kondisi keluarga tidak terlalu baik. Sumber pendapatan utama keluarga adalah hasil panen di sawah.

Kadang-kadang ibuku memarahi ayahku karena tidak berguna, dan menikahi ayah hanya membuatnya menderita. Ayahku tidak marah, tetapi malah tersenyum dan menyuruh ibu untuk tidak marah.

Ketika aku di tahun kedua sekolah menengah, kakak laki-lakiku diterima di universitas dan aku terpaksa putus sekolah dan bekerja agar kakak laki-lakiku bisa kuliah.

Aku ikut penduduk desa dan bekerja di sebuah pabrik dan tinggal di pabrik selama tiga tahun.

Aku dan suamiku juga bertemu di sini. Sejak dia mulai naksir padaku, dia sangat baik kepadaku. Dia sangat irit pada dirinya sendiri, tetapi dia sangat royal mengeluarkan uang untukku, dan dia juga nurut kepadaku.

Kami sudah berpacaran selama lebih dari setahun, dan dia memberi tahu padaku tentang keluarganya.

Orangtuanya sudah meninggal sejak dia masih kecil. Dia dibesarkan oleh kakeknya, tetapi kakeknya juga meninggal setahun setelah dia keluar untuk bekerja.

Mendengar hal itu, mataku berlinang air mata, ternyata riwayat hidupnya begitu menyedihkan.

Dia juga bertanya apakah aku ingin hidup bersamanya, dan saya menjawab ya. Dia sangat baik kepadaku, mengapa repot-repot memikirkan kondisi keluarganya.

Aku memberi tahu ibuku tentang pacarku. Ibuku ingin aku segera meninggalkannya setelah mengetahui tentang situasi keluarganya.

Ibuku tidak ingin aku menikah dengan pria miskin dan menderita bersamanya.

Aku juga memberi tahu ibu saya secara langsung bahwa jika aku tidak menikah dengannya, akau memilih untuk tidak menikah selamanya.

Tetapi ibu saya menolak untuk menyerah dan mengatakan bahwa selama aku menikah dengannya, mereka tidak mengakui aku sebagai keluarga lagi.

Setelah aku nekat untuk menikah dengan suamiku, ibuku benar-benar tidak mau menghubungiku lagi.

Tidak sampai setengah tahun kemudian kakakku meneleponku dan memberi kabar bahwa, ibuku mengalami pendarahan otak dan harus segera dioperasi, tetapi biaya operasi akan menelan biaya 300.000 juta dan keluarga hanya ada uang 200.000 juta, kakaku bertanya apakah aku bisa membantu.

Aku sangat cemas ketika mendengarnya. Tidak peduli seberapa kejam ibuku, dia juga ibu kandungku, tetapi kami baru saja menikah dan kami tidak punya uang di tangan kami. Saat aku diliputi kecemasan aku bercerita pada suamiku, suami kemudian memberi aku sebuah buku tabungan.

Ketika aku membukanya, aku sangat terkejut bahwa ada saldo 500.000 juta di dalam buku tabungan itu.

Aku bertanya kepada suamiku dari mana uang itu berasal. Dia mengatakan bahwa sebagian itu diberikan oleh kakeknya sebelum dia meninggal, dan sebagian lagi dari uang gajinya yang dia tabung.

Seketika itu aku pun menangis haru, suami saya sangat baik, tapi ibuku memperlakukannya seperti itu, dan dia mau membantu ibuku di saat yang paling genting.(yn)

Sumber: peekme