Penyapu Makam Menggendong Wanita Tua Misterius Naik Gunung Keramat, Setelah Mengetahui Identitas Wanita Tua Itu, Dia Benar-benar Ketakutan

Erabaru.net. Dahulu kala, ada seorang petani bernama Wang Ermao, dia rajin, baik, dan suka membantu, dia adalah orang yang baik hati.

Pada hari Festival Qingming (Cheng Beng), dia dan penduduk desa bersama-sama kan pergi ke gunung kramat untuk menyapu makam.

Pada saat itu, dia melihat seorang wanita tua berambut putih yang tampak aneh duduk di kaki gunung, berharap ada penduduk desa yang mendaki gunung untuk menyapu makam akan membawanya ke atas gunung.

Selama Festival Qingming, turun hujan, dan jalan di gunung tidak mudah untuk dilalui. Ada lumpur di mana-mana, dan gunung itu curam. Tidak mudah untuk berjalan sendiri, apalagi membawa orang di punggungnya.

Banyak penduduk desa yang naik gunung mengabaikan permintaan wanita tua itu. Hanya Wang Ermao yang melangkah maju dan menyatakan kesediaannya untuk membantu wanita tua itu.

Wanita tua itu sangat senang, dan segera melompat ke punggung Wang Ermao. Wang Ermao terkejut, meskipun wanita tua itu terlihat kurus, itu lebih berat daripada menggendong ratusan kilogram biji-bijian.

Tapi Wang Ermao tidak mengatakan apa-apa, dan dia berjalan mendaki gunung dengan wanita tua di punggungnya.

Setelah berjalan hampir satu jam wanita itu tidak berniat untuk turun, Wang Ermao tidak bisa menahan diri untuk bertanya,: “Nyonya tua, di mana makam yang ingin Anda sapu?”

Wanita tua itu tersenyum dan berkata: “Jangan tanya, saya akan memberi tahu Anda ketika kita tiba.”

Wang Ermao berhenti bertanya, dengan terengah-engah, terus berjalan ke depan.

Setelah berjalan selama satu jam, akhirnya wanita tua itu menunjuk ke gundukan kecil di puncak gunung dan berkata,: “Ini dia.”

Wang Ermao buru-buru menurunkan wanita tua itu dan berdiri diam.

Wanita tua itu bertanya dengan rasa ingin tahu, : “Mengapa kamu tidak kembali?”

Wang Ermao berpikir bahwa mendaki gunung itu mudah, tapi saat turun itu sangat sulit, bisakah dia berjalan sendiri. Jadi dia berkata pada wanita itu: “Nyonya baik-baik saja di sini. Setelah Anda menyelesaikan pembersihan makan, saya akan membawa Anda menuruni gunung.”

Ketika wanita tua itu mendengar ini, dia tertawa terkekeh-kekeh : “Kamu masih harus menyapu kuburan sendiri. Bisakah kakimu masih menanggungnya setelah naik turun gunung beberapa kali? Aku ingin memberi tahumu bahwa aku hanya minta Kamu membawa saya ke atas gunung, dan tidak meminta kamu untuk membawa saya menuruni gunung”

Wang Ermao berpikir bahwa wanita tua itu sangat sopan, dan bersikeras untuk membawanya turun gunung.

Pada akhirnya, wanita tua itu mengatakan yang sebenarnya siapa dirinya.

Ternyata, wanita tua itu adalah ibu mertua dari dewa gunung. Pagi ini, dia bertaruh dengan dewa gunung bahwa jika ada penduduk desa yang mau membawa orang tua tak dikenal ke atas gunung saat menyapu makam, dia akan menang. Membuktikan bahwa masih ada orang baik hati di desa ini, dan pada saat yang sama dia akan menjamin desa ini dalam kondisi yang baik.

Setelah Wang Ermao mendengar ini, dia ketakutan dan tercengang … Setelah dia kembali ke akal sehatnya, dia tidak lagi bersikeras untuk membawanya turun, dan saat berbalik untuk turun, dia dihentikan oleh wanita tua itu.

“Anak muda, terima kasih telah membawa saya ke atas gunung, saya ingin memberi Anda hadiah,” kata wanita tua itu

Saat dia mengatakan itu, dia mengeluarkan tas kain dari tubuhnya, dan kemudian wanita tua itu berubah menjadi kepulan asap dan menghilang.

Ketika Wang Ermao kembali ke rumah, dia membuka tas kain pemberian wanita tua itu dan melihat bahwa itu adalah sekantong rebung kering.

Di dalam tas ada sebaris kata: “Saya tidak makan rebung dan sup sayuran selama Festival Qingming tulang kakiku agak asam.”

Wang Ermao mengambil beberapa rebung kering. Diseduh dengan air mendidih, sungguh harum, ringan dan menyegarkan.

Pada hari kedua, anggota badan orang lain sakit karena mereka naik gunung untuk menyapu makam, tetapi hanya Wang Ermao yang tidak merasakan keluhan apa pun. Namun, karena Wang Ermao adalah orang yang baik hati, jadi dia membagikan rebung kering itu dengan penduduk desa.

Belakangan ada adegan di mana setiap keluarga membuat sayur rebung kering, dan setiap hari menyapu makam, setiap keluarga tidak lupa membuat semangkuk sup sayur rebung saat makan, dengan harapan anggota keluarga mereka kuat dan sehat.

Perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan!

Jika Anda menyukai artikel ini, silakan bagikan pada teman-teman Anda!(yn)

Sumber: goez1