Indonesia Membatasi Ekspor Nikel, Industri Baja dan Otomotif Tiongkok akan Menanggung Beban

Seorang pekerja mengoperasikan tungku di pabrik peleburan nikel di Indonesia pada 30 Maret 2019. (BANNU MAZANDRA/AFP via Getty Images)

Li Zhaoxi

Pemerintah Indonesia  pada Rabu (12/1/2022) mengatakan sedang mempelajari pajak progresif atas ekspor nikel pig iron (NPI) dan feronikel yang mana dapat segera diterapkan pada tahun ini. Pasalnya, akan memberikan industri baja dan kendaraan listrik Tiongkok berada di bawah tekanan besar.

Indonesia memainkan peran kunci di pasar global sebagai pemasok bahan curah, tetapi janji Presiden Joko Widodo menjadikan Indonesia sebagai pusat manufaktur utama untuk transportasi listrik pada akhirnya akan menghentikan ekspor semua bahan mentah.

Pada September tahun lalu, pemerintah Indonesia mengisyaratkan tentang pembatasan nikel akan segera terjadi. Langkah yang dilakukan akan menghentikan pengiriman bauksit dan tembaga, dengan tujuan akhir memproduksi semua komponen kendaraan listrik, termasuk baterai lithium di dalam negeri.

Industri pengolahan di Indonesia didominasi oleh produk dengan kandungan nikel rendah, seperti nikel pig iron atau feronikel. Pada tahun 2020, Indonesia menghentikan ekspor bijih nikel yang belum diproses untuk mendukung ambisi rantai pasokan “hilir”.

Indonesia sangat ingin mengembangkan rantai pasokan nikel yang lengkap, mulai dari mengekstraksi bijih dari cadangan nikelnya yang kaya hingga memproduksi baterai dan merakit kendaraan listrik (EV) di dalam negeri.

Rencana Indonesia bisa menjadi pukulan fatal bagi Tiongkok. Industri Tiongkok sangat bergantung pada pasokan feronikel Indonesia. Feronikel adalah produk setengah jadi yang digunakan untuk membuat baja tahan karat. Sekitar 84% impor feronikel Tiongkok berasal dari Indonesia, sisanya dari Jepang, Kolombia, Myanmar, dan Kaledonia Baru.

Sementara rincian seperti waktu yang tepat dan tarif pajak masih belum pasti, pabrik Tiongkok harus menerima “kenyataan” biaya tinggi karena ketergantungan mereka pada Indonesia, kata Celia Wang, seorang analis di konsultan Mysteel Global. Harga nikel yang lebih tinggi juga merugikan produsen baterai, yang sudah “sangat tertekan” oleh tingginya biaya bahan baku. 

Di tengah dorongan global untuk mengurangi perubahan iklim, logam baterai telah memasuki ledakan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan lonjakan harga lithium ke tingkat rekor dan kobalt dua kali lipat pada tahun lalu.

Reli yang berkelanjutan dapat mendorong kenaikan biaya baterai untuk pertama kalinya setidaknya sejak tahun 2010, merugikan produsen mobil dan berpotensi mendorong konsumen menjauh dari membeli kendaraan listrik, menurut BloombergNEF.

Lynn Zhang, Analis Shanghai Metals Market, mengatakan fokus domestik Indonesia dapat memacu lebih banyak investasi luar negeri di industri hilirnya.

Indonesia telah berhasil menarik beberapa investasi besar, dengan Hyundai Motor Group Korea Selatan dan LG Energy Solutions membangun pabrik baterai kendaraan listrik senilai $ 1,1 miliar di Indonesia, yang diharapkan akan dibuka pada Mei tahun ini untuk mulai berproduksi. (hui)