Keluarga Terisolasi dari Dunia Selama ’42 tahun’, Mereka Tidak Hanya Tidak Tahu Perang Dunia II, Mereka Bahkan Mengira ‘Kaca Bisa Kusut’ Saat Melihat Plastik Transparan!

Erabaru.net. Pada tahun 1936, Partai Bolshevik Uni Soviet menerapkan ateisme, dan kehidupan orang-orang yang beriman segera terancam.

Karp Lykow, yang percaya pada ritus ortodoks lama, memutuskan untuk membawa istri dan dua anaknya melarikan diri dari kampung halamanya setelah dengan matanya sendiri melihat temannya ditembak secara brutal oleh Tentara Merah.

Setelah melarikan diri, mereka bersembunyi di Pegunungan Sayan di Siberia, dan melahirkan dua anak lagi di sini. Keluarga yang terdiri dari 6 orang telah menjalani kehidupan yang terisolasi sejak saat itu.

Pegunungan Sayan yang terpencil dan dari kota terdekat berjarak 250 kilometer.Karena kurangnya komunikasi dan transportasi, tidak ada yang tahu bahwa Karp Lykow tinggal di sini sampai tahun 1978 ketika ahli geologi Uni Soviet (saat itu) naik helikopter ke Siberia untuk mencari mineral dan menemukan keluarga Karp Lykow.

Ketika mereka sampai di pondok tempat Karp Lykow tinggal, mereka rasanya seperti telah melakukan perjalanan menembus lorong waktu, karena barang-barang dan kebiasaan hidup yang digunakan oleh keluarga Karp Lykow benar-benar berbeda dengan orang-orang modern!

Terisolasi dari dunia selama lebih dari 40 tahun, keluarga tersebut tidak tahu seperti apa dunia ini, bukan saja mereka tidak tahu bahwa Perang Dunia II telah terjadi, tetapi mereka juga kagum pada segala sesuatu di era baru, seperti ketika mereka melihat kemasan plastik transparan, mereka tidak bisa menahan diri untuk merasa kagum: “Ya Tuhan, kaca ini benar-benar bisa kusut!”

Sejak saat itu, keluarga Karp Lykow mulai terhubung kembali dengan dunia luar, tetapi mereka enggan untuk meninggalkan hutan, dan anggota keluarga itu telah meninggal selama bertahun-tahun, dan hanya menyisakan satu anak perempuan, Agafia Lykow, yang masih hidup.

Meskipun Agafia Lykow sering berhubungan dengan dunia luar, dia enggan meninggalkan pondok tempat dia dibesarkan seperti keluarganya. Lagipula, dia sudah terlalu lama berada jauh dari dunia. Alih-alih kembali ke kota untuk menyesuaikan diri, dia lebih memilih tinggal di hutan gunung yang telah akrab dengan kehidupannya, tetapi dia juga berteman baik dengan hewan di hutan, jadi hidupnya masih cukup bahagia.

Setelah hidup dalam isolasi selama lebih dari 40 tahun, pasti sulit untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan kota! Tidak heran jika Agafia Lykow lebih suka menanggung kesepian dan tinggal di pondok kayu yang biasa.(yn)

Sumber: ezp9