Kisah Penduduk New York Kehilangan Ibu yang Menderita Siksaan Berat dalam Pusat Cuci Otak Tiongkok

Seorang aktor berpakaian seperti polisi Tiongkok berjaga di atas sangkar berisi aktor yang memainkan peran praktisi Falun Gong selama demonstrasi di luar Gedung Parlemen London pada 20 Juli 2009. (Shaun Curry/AFP via Getty Images)

Eva Fu

Pada ulang tahun Liu Danbi yang ke-31 pada Desember 2021—ulang tahun yang pertama tanpa ucapan selamat ulang tahun dari ibunya–—Liu Danbi tidak menangis. Air matanya sudah lama kering, kata Liu Danbi.

Liu Danbi belum pernah tatap muka dengan ibunya secara langsung sejak mereka mengucapkan selamat tinggal di sebuah bandara di Tiongkok tujuh tahun lalu, ketika Liu Danbi naik sebuah penerbangan ke New York untuk studi pascasarjananya di Universitas Buffalo.

Ketika mereka berpisah, Liu Danbi diliputi oleh kesedihan yang tiba-tiba dan mengeluarkan air mata tanpa alasan.

“Saya mempunyai sebuah firasat itu adalah perpisahan terakhir untuk ibu saya,” kata Liu Danbi kepada The Epoch Times.

Ibunya, Huang Shiqun, meninggal pada 23 April 2021, setelah menelan tujuh botol berisi pil-pil yang diresepkan oleh sebuah rumah sakit jiwa. Jenazah nya  ditemukan di sebuah tangga tersembunyi gedung apartemen di mana ia tinggal bersama suaminya.

Huang Shiqun meninggalkan sebuah pesan terakhir untuk suaminya, yang tertulis di secarik kertas.

“Kamu adalah suami terbaik di dunia, saya hanya kurang beruntung,” tulis Huang Shiqun.

Sebelum kematiannya di usia 57 tahun, Huang Shiqun telah berjuang selama dua tahun melawan depresi, yang dimulai beberapa saat selama penangkapannya dan penahanan selanjutnya di kampung halamannya di Wuhan, Tiongkok, karena berupaya menarik perhatian terhadap penganiayaan rezim Tiongkok terhadap keyakinannya.

Huang Shiqun, seorang mantan guru taman kanak-kanak, adalah seorang praktisi Falun Gong, sebuah disiplin spiritual dengan lima latihan meditasi dan ajaran moral yang berpusat pada prinsip Sejati, Baik, dan Sabar.

Huang Shiqun (2 Kanan) pada 1990-an. (Sumber dari Liu Danbi)

Laporan resmi memperkirakan bahwa sekitar 70 juta orang berlatih Falun Gong di Tiongkok pada tahun 1999. Tetapi karena takut akan popularitas Falun Gong, rezim Tiongkok memulai sebuah kampanye kekerasan untuk menganiaya Falun Gong, yang berujung pada penangkapan jutaan praktisi Falun Gong selama 22 tahun terakhir.

Dalam ingatan Liu Danbi, ibunya selalu banyak bicara dan optimis. Huang Shiqun memulai percakapan dengan orang-orang asing di jalan dan berteman dengan penjuall buah di lingkungannya. Ia memiliki suara yang bagus dan bakat untuk meniru Teresa Teng, seorang ikon pop Taiwan pada tahun 1980-an yang memiliki penggemar dari seluruh Asia dengan balada-balada romantisnya yang menyayat hati.

Huang Shiqun berusaha menjadi seorang guru yang baik juga. Para orang tua kadang memberinya uang dan hadiah  dengan harapan ia akan memperlakukan anak-anak mereka lebih baik, tetapi ia menolak semuanya.

“Saya hanya mencoba menjadi seorang yang baik dengan mengikuti prinsip Sejati, Baik, dan Sabar,” kata Huang Shiqun kepada para orangtua.

Mengajar adalah pekerjaannya, kata Huang Shiqun, dan ia memiliki kewajiban untuk melakukannya dengan baik.

“Seolah-olah tidak ada yang terlalu sulit baginya, kehadirannya membuat saya merasa aman,” kata Liu Danbi. 

Tetapi sifat-sifat itu menghilang setelah Huang Shiqun kembali dari Pusat Pendidikan Hukum Distrik Qiaokou Wuhan pada Februari 2018. Fasilitas tersebut dikenal oleh praktisi Falun Gong menjadi pusat pencucian otak atas usaha fasilitas tersebut untuk membuat praktisi Falun Gong melepaskan keyakinannya melalui sebuah kombinasi propaganda, pemaksaan, dan pengobatan paksa.

Liu Danbi tidak pernah tahu apa yang terjadi pada ibunya selama satu bulan ditahan di pusat tersebut. Tetapi ketika Huang Shiqun kembali, ia bukan lagi dirinya yang dulu. Berat badannya anjlok hingga 29,9 kg. Ia merasa gelisah di malam hari dan akan mondar-mandir. Ia menderita gangguan penglihatan dan gangguan pendengaran. Ia tidak dapat membaca dan akan tersesat bahkan di lingkungan sekitarnya sendiri. Selama panggilan telepon dengan Liu Danbi, Huang Shiqun berbicara mengenai kerontokan rambut pada kedua lengannya dan kram-kram otot.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah perubahan kondisi mental Huang Shiqun. Dulu ia adalah orang yang  ceria, kini Huang Shiqun menjadi cemas dan menarik diri. Ia menutup jendela dengan tirai bahkan di siang hari, mengatakan bahwa ia takut cahaya. Setiap pengunjung akan menyusahkannya, dan ia tidak lagi ingin pergi ke luar.

Rumah sakit memberitahukan keluarga bahwa fungsi saraf-saraf otak Huang Shiqun telah memburuk.

“Ia mengatakan kepada saya bahwa ia merasa seperti setiap sel di tubuhnya disiksa, Saya merasa ia siap untuk melompat dari gedung kapan saja dan  merengut nyawanya,”  kata Liu Danbi. 

Sebagian besar waktu, Huang Shiqun berbaring di tempat tidur, “menderita dan berusaha untuk bertahan,” kata Liu Danbi.

Huang Shiqun sering berbicara kepada Liu Danbi mengenai nyeri fisik dan psikologisnya, tetapi keduanya berhati-hati dalam mendiskusikan penyebabnya, karena mereka tahu percakapan telepon mereka kemungkinan disadap. Liu Danbi mencurigai para penjaga memasukkan obat-obat psikiatri ke dalam makanan ibunya selama ibunya ditahan.

Foto Huang Shiqun yang tidak bertanggal bermain piano di tempat kerja. (Sumber dari Minghui.org)

Liu Danbi sampai pada kesimpulan ini setelah membaca laporan online mengenai pusat penahanan tersebut dan mengenai praktisi Falun Gong yang telah menunjukkan gejala-gejala  sama setelah diberi obat-obat itu. 

Beberapa praktisi Falun Gong yang ditahan di pusat penahanan tersebut mengatakan bahwa makanan mereka memiliki rasa obat bagi mereka, menurut Minghui, sebuah situs web yang berbasis di Amerika Serikat yang melacak penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong.

Xiao Yingxue, seorang mantan karyawan di Biro Industri dan Komersial Distrik Qiaokou, disuntik dengan tiga dosis zat yang tidak diketahui di pusat penahanan yang sama pada tahun 2011 dan mengeluh nyeri kepala yang parah selama beberapa tahun sesudahnya. 

Wang Yujie, 24 tahun, muntah busa putih setelah disuntik dengan obat-obat yang tidak diketahui di bahunya di pusat pencucian otak provinsi di Provinsi Hubei, Tiongkok. Ia kehilangan pendengaran dan penglihatan dan meninggal pada September 2011, empat bulan setelah ia dibebaskan, menurut Minghui.

Liu Danbi hanya dapat mengetahui waktu ibunya dalam tahanan dari pesan yang ditulis oleh ibunya di lembaran kertas yang dipegang untuknya selama sebuah panggilan video, di mana difoto oleh Liu Danbi untuk dibaca nanti. Huang Shiqun menggunakan metode komunikasi diam ini untuk menghindari kemungkinan terdeteksi oleh penyadap.

Dalam catatan itu, Huang Shiqun menulis mengenai siksaan yang tiada henti-hentinya: bagaimana ia dipaksa duduk di sebuah “ruang kelas” dengan dua lapis pintu besi selama 15 jam setiap hari, di mana rekaman-rekaman dan video-video yang menghujat Falun Gong diputar dengan volume yang tinggi; bagaimana narapidana, dengan perintah dari penjaga, melarangnya untuk tidur dan mendorongnya jika ia sedikit menutup matanya. 

Para penjaga memberinya sedikit makanan. Pada hari kelima, tubuh Huang Shiqun mulai gemetar tidak terkendali. Ia harus berdiri kaku ketika para penjaga memintanya untuk menandatangani dokumen yang memuat ia melepaskan keyakinannya, tetapi pada hari itu, ia menyerah.

“Ia tidak tahu apa itu, tetapi merasa ia tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri,” kata Liu Danbi.

Huang Shiqun berulang kali dibuat untuk menulis “pekerjaan rumah” untuk mencoreng dan “mengekspresikan kebencian”, terhadap keyakinannya sampai memuaskan para penjaga.

Polisi tidak meninggalkan Huang Shiqun sendirian, bahkan setelah ia dibebaskan. Kurang dari setahun kemudian, polisi memintanya untuk menandatangani dokumen lain yang memuat ia melepaskan keyakinannya. Tindakan itu adalah bagian dari sebuah kampanye “Zero Out” nasional yang ditujukan untuk melenyapkan praktisi Falun Gong di daerah setempat.

Para pejabat Partai Komunis Tiongkok provinsi tersebut juga menekan suami Huang Shiqun untuk menceraikan Huang Shiqun.

Menerima kenyataan kehilangan Huang Shiqun adalah sulit bagi ayah Liu Danbi, yang juga hidup dalam siaga tinggi siang dan malam yang berupaya untuk menjaga Huang Shiqun tetap aman. Sepupu Liu Danbi memberitahunya bahwa ia belum pernah melihat ayah Liu Danbi menangis seperti itu.

“Ayah saya tidak pernah mempersiapkan dirinya untuk hari itu,” kata Liu Danbi.

Bahkan sekarang, ayah Liu Danbi hanya tidur dua atau tiga jam, bahkan dengan bantuan pil-pil obat tidur, menurut Liu Danbi.

Baru-baru ini, ayah Liu Danbi menelepon Liu Danbi. Sang ayah mabuk.

“Ayah mengatakan kepada saya bahwa ia tidak tahu bagaimana ia dapat bertahan hidup,” kata Liu Danbi. (Vv)