Ketika Aku Pertama Kali Datang ke Rumah Calon Mertua, Dia Memberiku Rp 1 Juta, dan Diam-diam Aku Meninggalkan Rp 200 Juta Sebelum Pergi

Erabaru.net. Aku dan pacarku adalah teman sekelas di perguruan tinggi. Dia adalah gadis yang pintar di kelas kami saat itu, dan banyak orang sangat menyukainya. 3 tahun lalu kami lulus bersama dan sekarang kami siap untuk menikah.

Keluarga pacarku dalam kondisi yang sangat buruk. Dia berasal dari daerah pedesaan di provinsi lain. Dia memiliki dua kakak perempuan dan satu kakak laki-laki.

Dia mengatakan bahwa demi studinya, keluarga membuat banyak pengorbanan. Untuk mengurangi beban keluarga, dua kakak perempuan menikah lebih awal, dan kakak laki-laki juga bekerja di luar daerah sepanjang tahun. Ayahnya mengalami patah kaki di lokasi konstruksi pada tahun-tahun awal dan ibunya hanya bekerja di ladang siang dan malam.

Kampung halaman pacarku mayoritas penduduknya sangat miskin dan pendidikannya sangat terbelakang. Tidak mudah untuk menjadi seorang mahasiswa, dan mungkin perlu banyak pengorbanan untuk dapat menjadi seorang mahasiswa.

Namun, pacarku sudah sangat pintar sejak dia masih kecil. Untuk mengubah nasib keluarganya, dia bekerja keras untuk belajar dan akhirnya keluar dari gunung kemiskinan. Keluarganya melakukan segala hal untuknya tetapi mereka tidak pernah mengeluh. Satu-satunya hal yang mereka harapkan adalah agar dia dapat membuat keluarganya bangga.

Semakin lama aku menghabiskan waktu dengan pacarku, semakin aku tahu tentang kondisi keluarganya, dan betapa miskinnya keluarganya, tetapi aku tidak pernah memandang rendah dia atau keluarganya, mereka semua hebat.

Selama bertahun-tahun kami bersama, pacarku telah mengajari aku dalam banyak hal. Bahkan orangtuaku mengatakan bahwa aku semakin dewasa, itu semua karena pacarku. Dia telah mengubahku.

Aku tidak berpikir aku akan menemukan orang yang memperlakukanku dengan baik. Orangtuaku juga sangat menyukainya. Mereka semua mengatakan bahwa dia adalah seorang gadis yang baik dan melihat potensi tinggi dalam dirinya.

Pacarku sendiri sudah mulai menghasilkan uang, tetapi dia masih menabung agar kakak laki-lakinya dapat menikah.

Aku belum pernah ke rumah pacarku sebelumnya. Namun, karena aku ingin menikahinya, kami pun berdiskusi untuk mengunjungi orangtuanya, tetapi pacarku takut aku tidak terbiasa tinggal di pedesaan, jadi dia akan membawa orangtuanya ke kota, tetapi aku menolaknya.

Kondisi kesehatan orangtuanya juga kurang baik, selain itu jaraknya juga sangat jauh. Aku takut itu akan memperburuk kondisi kesehatannya. Setelah aku beri penjelasan, kami pun akhirnya memulai perjalanan kembali ke kampung halamannya.

Aku pikir rumah keluarga calon mertuaku seperti rumah yang biasa ada di pedesaan, dan tidak berpikir itu sangat buruk. Rumah itu terbuat dari bambu dan atapnya dari jerami, bahkan batang jagung dan banyak cabai kering mengelilingi rumahnya.

Mengetahui bahwa kami akan kembali, calon mertuaku menunggu di halaman lebih awal. Angin terasa sangat kencang, dan wajah kedua orangtua itu terlihat memerah. Mereka sangat senang melihat kami datang, dan membawa saya ke rumah.

Ketika saya sampai di rumah, aku bahkan lebih terkejut. Kondisi rumahnya sangat gelap, dan sinar lampunya sudah berwarna kuning tua.

Calon mertuaku membiarkan aku duduk santai bersama pacarku, dan mereka membawakan aku secangkir teh.

Siang hari, calon mertuaku membuat pangsit untuk disantap. Ini adalah jenis hidangan yang sangat sulit untuk dibuat.

Untuk membuat pangsit ini, calon mertuaku tertatih-tatih di sepanjang jalan gunung selama lebih dari satu jam untuk membeli kulit pangsit dan daging di pasar.

Calon mertuaku lalu memotong satu-satunya ayam yang sedang bertelur dan membuatkan sup untukku.

Setelah makan, kami berencana untuk kembali ke kota di sore hari. Calon mertuaku mencoba untuk menahan kami untuk tinggal beberapa hari. Dengan wajah penuh keengganan, dia mengeluarkan 500 yuan ( sekitar Rp 1 Juta ) yang kusut dari celemeknya dan memberikannya kepadaku, bahkan 100 yuan dipinjam dari tetangganya.

Calon mertuaku mengatakan bahwa memberi uang sebelum pergi adalah kebiasaan di sana. Aku harus menerimanya sebagai hadiah.

Dia berkata bahwa gadis di kota sangat cantik, namun aku malah memilih untuk bersama dengan putrinya. Dia menyeka air matanya dengan celemeknya, dan aku menerima uang dan memeluk ibu mertuaku.

500 yuan ini mungkin tidak seberapa bagiku, tetapi untuk keluarga di desa tanpa penghasilan, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkannya?

Hatiku sangat berat. Aku pun meletakan kartu ATM yang berisi 80.000 yuan ( sekitar Rp 200 Juta )di bawah bantal calon mertuaku. Ini adalah uang saku yang diberikan orangtuaku dalam beberapa tahun terakhir setelah lulus.

Aku menyimpannya untuk pernikahan, tetapi sekarang aku ingin menggunakannya untuk sesuatu yang lebih berarti daripada pernikahan.

Ketika aku kembali, aku menelepon calon mertuaku untuk memberitahu bahwa kami sudah sampai dengan selamat serta memberitahu dia tentang uang itu. Aku memintanya untuk membangun rumah, membeli beberapa perabotan baru, membeli beberapa ayam atau bebek untuk dipelihara, serta membeli beberapa pakaian baru.

Mungkin kami masih dalam kesulitan, namun setelah kami sudah mulai menghasilkan uang, hidup akan menjadi lebih baik dan aku akan selalu memperlakukan kalian seperti orangtua kandungku sendiri, dan aku akan selalu berbakti! (lidya/yn)

Sumber: goez1