Aku Sudah 2 Tahun Menikah dan Belum Hamil, Ibu Mertua Memanggilku Ayam yang Tidak Bisa Bertelur, Jawabanku Membuatnya Malu

Erabaru.net. Aku dan suamiku adalah teman sekelas semasa kuliah. Ketika kami menjalani hubungan, aku menemukan bahwa dia adalah sosok yang baik dan lembut. Kemudian, setelah lama bersama, aku menyadari bahwa suamiku sangat menyayangi ibunya.

Suamiku mengatakan bahwa ayahnya dulu menjadi tentara dan selalu jauh dari rumah sepanjang tahun. Di rumah hanya ada dia dan ibunya.

Kemudian, ayahnya gugur dalam tugas, dan ibunya tidak pernah menikah lagi karena fokus membesarkannya.

Keluargaku tahu bahwa suamiku hidup dengan orangtua tunggal. Dia tumbuh bersama ibunya, dan mereka tidak setuju kalau saya menikahinya. Mereka juga mengatakan bahwa suamiku akan sangat patuh pada ibunya.

Aku tahu ibuku takut bahwa aku akan diperlakukan buruk menikah dengan pria yang jauh, tetapi apa yang dikatakan ibuku terlalu berlebihan.

Orangtuaku juga berpikir terlalu buruk tentang anak-anak dari keluarga orangtua tunggal. Namun, aku bersikeras ingin menikahi pria ini karena cinta dan keluargaku tidak bisa berbuat apa-apa. Pada akhirnya, aku pun menikah, namun semuanya tidak seperti yang aku harapkan.

Setelah menikah, seperti yang diperkirakan ibuku, aku tidak bahagia.

Pada malam pernikahan, ibu mertuaku mengajakku untuk tidur dengannya dan mengatakan bahwa suamiku terlalu lelah setelah hari yang sibuk, dan meminta aku untuk tidak mengganggunya.

Suamiku benar-benar mengabaikan perasaanku, dia pergi masuk ke dalam kamar dan menutup pintu untuk tidur sendiri.

Suamiku sangat menurut pada ibunya dalam segala hal dan saat aku dia sekali-sekali membantahnya, namun, dia selalu berkata dia sangat menyayangi ibunya yang mana selalu membuatku terdiam.

Setiap hari aku merasa sangat lelah karena pekerjaan rumah. Ketika aku ingin makan sesuatu yang enak, ibu mertuaku hanya peduli tentang apa yang suka dimakan suamiku, dan dia tidak peduli denganku.

Ketika dia sedang menonton TV di sofa, berbicara dan tertawa dengan teman di telepon, aku harus menderita di dapur dan mencuci semua piring kotor.

Terkadang aku merasa benar-benar seperti orang luar dalam keluarga ini. Saat aku sedikit mesra dengan suami, ibu mertuaku akan segera turun tangan, hatiku benar-benar hancur.

Aku sudah memberi tahu suamiku berkali-kali, dan dia selalu menyalahkanku karena terlalu berlebihan. Meskipun hidup tidak mudah, aku selalu yakin bahwa semua ini akan membaik secara perlahan.

Aku sudah menikah selama dua tahun dan aku belum hamil. Ibu mertuaku mulai menggunakan ini sebagai alasan. Namu, aku tidak peduli. Lagi pula, aku masih muda dan aku belum mau punya anak tapi karena dia selalu membicarakannya, aku pun menjadi tidak tahan.

Aku bertengkar mertuaku beberapa kali, ibu mertuaku menyebutku seperti ayam yang tidak bisa bertelur, dan dia juga berkata banyak hal-hal buruk.

Ketika suamiku melihat bahwa kami berselisih, dia masih memihak pada ibunya. Aku benar-benar merasa tertekan kali ini. Aku pun berpikir untuk cerai.

Aku marah pada ibu mertuaku karena mengatai aku seperti ayam yang tidak bisa bertelur.

“Ibu mertua, Anda membesarkan seorang putra. Anda selalu menempel pada putra Anda sendiri sepanjang hari, apakah itu tidak salah?” kataku, seketika ibu mertua saya tersipu malu, dan suamiku menamparku.

Aku benar-benar sedih sekarang. Aku memutuskan hubungan dengan orangtuaku karena aku ingin menikah dengan suamiku. Aku sangat mencintainya dan ingin tinggal bersamanya, namun dia memperlakukanku seperti ini !

Bagaimana aku bisa membuat suamiku untu meninggalkan ibu mertuaku dan pindah untuk menjalani kehidupan yang baik bersamaku? (lidya/yn)

Sumber: goez1