Pengembang Menawarkan Kompensasi Rp 600 Miliar, Namun, Pemiliknya Tidak Mau Menjualnya

Erabaru.net. Dengan perkembangan ekonomi, banyak gedung baru yang akan dibangun dan hal ini akan menjadi masalah bagi orang yang memiliki rumah tua.

Walau begitu, banyak orang tidak setuju untuk pindah dari rumah tua mereka apa pun yang terjadi, dan seiring waktu mereka menjadi “rumah paku” di mata semua orang.

Sebuah keluarga di Zhengzhou, Henan, Tiongkok, enggan menyerahkan rumah lama mereka untuk dihancurkan walau ditawarkan kompensasi setinggi langit, Rp 600 miliar.

“Rumah Paku” ini dapat ditelusuri kembali ke pertengahan Dinasti Qing. Dibangun oleh seorang pejabat bermarga Ren. Setelah beberapa kali perluasan oleh penerusnya, rumah ini telah menjadi kompleks saat ini dengan beberapa bangunan baru lain.

Rumah berusia seabad ini telah dikhususkan untuk generasi keluarga Ren. Nilai kerja keras tidak lagi dapat diukur dengan uang.

Menghadapi “harga setinggi langit Rp 600 miliar” yang ditawarkan oleh pengembang properti, pemilik masih menolak untuk menjual rumah tua itu, yang mana menyebabkan kemarahan publik. Tetapi bahkan di bawah tekanan ini, keluarga marga Ren masih tidak berkompromi.

Peristiwa ini menarik perhatian pemerintah yang akhirnya turun tangan untuk mengirim ahli untuk menyelidiki. Di luar dugaan, setelah ahli itu pergi ke sana, dia berkata dengan tegas: “Tidak boleh dihancurkan!”

Dari Dinasti Qing hingga hari ini, ada banyak perang selama periode ini, tetapi rumah tua Ren tidak pernah hancur. Berjalan ke kedalaman rumah tua, Anda dapat melihat sebuah plakat dengan empat karakter besar “Fuxing Guozheng”.

Dikatakan bahwa itu diberikan oleh Kaisar Daoguang dari Dinasti Qing dan memiliki sejarah lebih dari 200 tahun.

Kata-kata tersebut menunjukan bahwa keluarga Ren memiliki reputasi besar. Jika rumah tua itu dijual hanya karena uang, keluarga Ren mungkin juga merasa malu dengan leluhur mereka.

Pada pintu dan jendela sayap timur dan barat rumah tua tersebut, terdapat ukiran kayu kuno dan sederhana dengan budaya tradisional Tiongkok yang agung, seperti “Burung Bangau Lautan Awan” dan “Kirin Mengirim Anak”.

Evaluasi ahli: “Nilai rumah tua Ren tidak bisa lagi diukur dengan uang. Itu tidak bisa dihancurkan. Rumah kuno ini harus dilestarikan!”

Pada tahun 2017, rumah kuno Ren secara resmi berganti nama menjadi “Zhengzhou Tianxiang Museum”, di mana kata “Tianxiang” diambil dari nama desa aslinya, Desa Tianxiang.

Saat ini, setiap kali Anda melewati Desa Dongsima, Zona Teknologi Tinggi Zhengzhou, Anda akan selalu melihat pemandangan yang aneh dan ada museum yang penuh pesona kuno di antara gedung-gedung tinggi modern.

Jika Anda pemilik rumah Ren, apakah Anda akan menjualnya? (lidya/yn)

Sumber: kknsays