Perbandingan Kebijakan Pencegahan Pandemi Tiongkok dan Barat, Ahli : Tiongkok Mungkin Menghadapi Risiko Besar

Pada 18 Januari 2022, orang-orang di Beijing mengantre untuk pengujian tes PCR. (Noel Celis/AFP via Getty Images)

Cheng Jing

Setelah dua tahun epidemi Coronavirus (virus partai Komunis Tiongkok), sebagian besar negara masih berjuang untuk memerangi epidemi, sementara Tiongkok dan negara-negara Barat langkah pencegahan epideminya tidak sama, “Zero COVID-19” atau “berdampingan dengan virus”? Sulit untuk menarik kesimpulan. Namun, beberapa ahli percaya bahwa ketika dunia keluar dari epidemi, Tiongkok mungkin menghadapi bahaya besar

Dunia keluar dari epidemi, Tiongkok mungkin menghadapi bahaya besar

The Associated Press melaporkan bahwa strategi “tanpa toleransi” Tiongkok untuk menjaga kasus COVID-19 tetap rendah dan ekonomi tetap bertahan, secara paradoks dapat mempersulit Tiongkok untuk keluar dari krisis epidemi .

Laporan tersebut mengutip Vineeta Bal, seorang ahli imunologi di Institut Pendidikan dan Penelitian Sains India, yang mengatakan bahwa karena kebanyakan orang di Tiongkok belum terpapar virus, mereka kekurangan kekebalan.

Oleh karena itu, kata Bell, begitu dunia terbuka, Tiongkok akan berada dalam situasi yang sangat memalukan, terus menutup pintu akan membuat Tiongkok sangat terisolasi, sedangkan membuka pintu akan membawa risiko infeksi yang sangat besar bagi 1,4 miliar jiwa.

“Membuka sangat berisiko bagi Tiongkok karena Omicron masih menyebar di seluruh dunia. Bahkan jika strain mutan ini tidak menyebabkan penyakit serius, itu akan membakar seperti api (di Tiongkok),” kata Bell.

Namun, kemanjuran vaksin Sinovac dan Sinopharm, vaksin yang paling banyak diberikan di Tiongkok, juga dipertanyakan. Menurut sebuah studi dari  Universitas Hong Kong, tingkat antibodi yang diperoleh tubuh manusia setelah vaksinasi penuh dengan dua dosis vaksin Sinovac dan vaksin Pfizer, terhadap Sinovac 10 kali lebih rendah daripada Pfizer.

Para ahli menunjukkan bahwa jika sebuah negara dengan penduduk 1,4 miliar akan melonggarkan pembatasan pencegahan epidemi, bahkan jika tingkat cakupan vaksinnya tinggi, mungkin masih menghadapi lonjakan jumlah orang yang terinfeksi.

Dali Yang, seorang profesor politik Tiongkok di Universitas Chicago, mengatakan: “Ini adalah tantangan besar bagi kepemimpinan (Tiongkok), terutama ketika mereka mengatakan ingin menyelamatkan nyawa. Bagaimana jika puluhan ribu orang meninggal dunia setelah pembukaan? Bagaimana menjelaskannya?” 

Zero COVID-19 Sudah Menjadi Tugas Politik dengan Mengorbankan Rakyat

Pada Desember tahun lalu, babak baru epidemi pecah di Xi’an.  Kini kota itu ditutup pada 23 Desember. Pejabat melaporkan hanya 86 kasus baru pada waktu itu. Kota dengan populasi 13 juta ditutup semalam. Wanita yang ingin melahirkan, warga sakit jantung tidak dapat ditolong… tragedi manusia terungkap satu per satu.

Setelah beberapa minggu lockdown, kondisi Xi’an tidak menghentikan penyebaran virus, melainkan strain delta dan strain Omicron menyebar ke sebagian besar wilayah Tiongkok, seperti Beijing, Tianjin, Shanghai, Henan, Hebei, Guangdong, dan Zhejiang . Bahkan di  Fujian, Sichuan dan Heilongjiang. Pejabat mengungkapkan pekan lalu bahwa 14 provinsi telah melaporkan kasus impor dari Omicron.

Radio Free Asia mengatakan bahwa orang-orang yang tidak memiliki kesempatan untuk mengungkapkan pendapat mereka di bawah perintah resmi penutupan kota oleh Komunis Tiongkok, menanggung kerugian besar terhadap hak asasi manusia, bahkan hak untuk hidup, dan martabat pribadi di bawah sistem totaliter Tiongkok. .

Laporan tersebut mengutip Direktur Pusat Kesehatan Global di Oregon State University, Chunhuei Chi, yang mengatakan bahwa dalam sistem totaliter seperti Tiongkok, pencegahan epidemi adalah tugas politik.

Hanya ada beberapa minggu lagi sebelum pembukaan Olimpiade Musim Dingin Beijing, dan semua tempat “dibersihkan” dengan cepat. Wakil Perdana Menteri, Sun Chunlan dari Partai Komunis Tiongkok pergi ke Shaanxi, dan Xi’an mengumumkan pada 5 Januari bahwa “masyarakat akan dibersihkan”. Meskipun ada lebih dari 60 daerah berisiko tinggi pada waktu itu, pihak berwenang mengusir penduduk daerah di mana orang yang terinfeksi berasal dari Xi’an untuk diisolasi. Sun Chunlan pergi ke Tianjin, dan Tianjin mengumumkan  bahwa “masyarakat telah dibersihkan.”

Chunhuei Chi mengatakan bahwa akan ada banyak peristiwa politik besar di Tiongkok pada tahun 2022. Sistem Komunis Tiongkok dapat mengabaikan pertimbangan hak asasi manusia, kegiatan sosial dan ekonomi dalam hal kesehatan masyarakat, dan apakah itu ilmiah atau tidak, maka hanya untuk kepentingan misi politik.

Lin Li dari Chinese  University of Hong Kong mengatakan, “jika jumlah diagnosis baru (di Tiongkok) mulai melonjak ke tingkat yang tinggi, maka akan meninggalkan kesan negatif pada dirinya (Xi Jinping) dalam kepemimpinan.”

Banyak ahli percaya bahwa jika Tiongkok terus melakukannya, tidak hanya akan menyebabkan kelelahan atas dan bawah, tetapi hasilnya akan jauh lebih kecil dari yang diharapkan. Bahkan, menyebabkan kerugian ekonomi yang  tidak dapat diukur. Lebih buruk lagi, jika seluruh dunia mengembangkan herd immunity sebelum Tiongkok sepenuhnya terbuka, situasi bagi Tiongkok akan sangat berbahaya.

Langkah Barat Serta Hidup Berdampingan Virus dan Masyarakat Hidup dengan Normal

Baru-baru ini, varian baru virus Omicron sedang mengamuk di seluruh dunia. Kasus harian yang dikonfirmasi di banyak negara Barat telah mencapai puncak tertinggi, dan peningkatan harian dalam jumlah kasus di Amerika Serikat telah melampaui angka satu juta. Angka ini menetapkan rekor baru sejak epidemi.

Pada 3 Januari, jumlah kasus baru yang didiagnosis di Amerika Serikat melebihi satu juta dalam sehari, tetapi tidak ada negara bagian yang menutup kota.  Pada akhir tahun lalu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS bahkan merevisi pedoman pencegahan epidemi, menyarankan bahwa persyaratan isolasi untuk infeksi tanpa gejala harus diubah dari sebelumnya 10 hari dipersingkat menjadi 5 hari.

Amerika Serikat dan Inggris telah mengadopsi respons yang lebih santai daripada sebelumnya dalam putaran kejutan Omicron ini. Sedangkan jumlah infeksi telah meningkat secara signifikan. Associated Press mengatakan bahwa koeksistensi dengan virus ini tampaknya sedang dalam proses penerapan.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengumumkan pada Rabu 19 Januari, bahwa ia akan menghentikan langkah pembatasan anti-epidemi. Nantinya, tidak lagi mengharuskan orang untuk memakai masker atau bekerja dari rumah, tidak lagi memerlukan sertifikat vaksinasi untuk memasuki tempat-tempat umum. Mulai Maret mendatang, tidak memaksa mereka yang menjalani test virus dengan hasil positif untuk mengisolasi diri.

Sebagian besar ahli mengatakan coronavirus tidak akan hilang di seluruh dunia dan percaya bahwa jika cukup banyak orang yang mendapatkan kekebalan melalui infeksi dan vaksin, pada akhirnya dapat bertahan seperti flu tetapi umumnya dapat ditangani.

The Voice of America mengutip analisis bahwa varian virus ultra-menular, Omicron tidak dapat menemukan lebih banyak orang untuk menginfeksi. Sekarang semakin banyak pembicaraan bahwa pembatasan harus dilonggarkan.

Meskipun jumlah kasus dan kematian yang dikonfirmasi di Amerika Serikat masih tinggi, masyarakat pada dasarnya dalam kehidupan normal. Radio Free Asia percaya bahwa orang dapat melihat harapan untuk hidup berdampingan dengan virus.

Anthony Fauci, seorang ahli pencegahan epidemi Amerika Serikat, mengatakan bahwa langkah ini didasarkan pada keseimbangan ilmu pengetahuan dan kehidupan sosial. Meskipun epidemi saat ini,  masih perlu untuk mempertahankan kehidupan yang diperlukan masyarakat, tidak hanya staf medis, karena banyak orang dalam suatu masyarakat diperlukan untuk kelancaran kehidupan masyarakat. (Hui)