Kisah Mengharukan: Pelanggan ke-100

Erabaru.net. Jam sibuk siang telah berlalu, dan kedai makan yang awalnya ramai telah menjadi sepi. Ketika pemilik hendak mengambil napas untuk membaca koran, seseorang masuk. Itu adalah seorang nenek tua dan seorang anak laki-laki.

“Berapa harga semangkuk nasi sup daging sapi?” Tanya sang Nenek.

Nenek duduk dan mengeluarkan kantong uang, menghitung uang, dan memesan semangkuk nasi sup daging sapi.

Nenek mendorong mangkuk di depan cucunya, bocah lelaki itu sambil menyantap, menatap neneknya dan berkata: “Nenek, apakah kamu benar-benar sudah makan siang ?”

“Tentu saja,” jawab sang Nenek, sambil mengunyah sepotong acar lobak perlahan.

Dalam sekejap mata, anak kecil itu menyelesaikan semangkuk sup daging sapinya. Melihat adegan ini, pemilik kedai berjalan ke dua orang dan berkata: “Selamat Nenek, Anda sangat beruntung hari ini, Anda adalah pelanggan ke-100 kami, jadi semua makanan ini gratis.”

Suatu hari setelah lebih dari sebulan, bocah lelaki itu berjongkok di seberang kedai makanan, seperti menghitung sesuatu, dan nampaknya apa yang dilakukan bocah itu telah dilihat oleh pemilik kedai.

Ternyata setiap kali anak kecil itu melihat seorang pelanggan masuk ke kedai, dia meletakkan batu-batu kecil di lingkaran yang dia gambar, tetapi waktu makan siang hampir berakhir dan belum ada 50 batu kecil.

Pemilik kedai yang merasa cemas menghubungi semua pelanggan tetap: “Apakah Anda sibuk? Tidak apa-apa, saya ingin Anda datang dan makan semangkuk sup dan nasi, saya akan mentraktir Anda hari ini !”

Setelah memanggil banyak orang seperti ini, para pelanggan mulai datang satu per satu.

“81, 82, 83…” Anak kecil itu menghitung semakin cepat.

Akhirnya dia pergi ketika kerikil ke-99 ditempatkan di dalam lingkaran. Setelah beberapa saat, bocah lelaki itu buru-buru meraih tangan neneknya dan memasuki kedai makan itu.

“Nenek, kali ini giliranku yang mentraktir,” ucap anak kecil itu dengan bangga.

Nenek yang benar-benar menjadi pelanggan ke-100, membiarkan cucunya menyajikan semangkuk sup daging sapi panas dengan nasi.

“Berikan semangkuk untuk anak itu juga,” kata pemilik kedai pada pegawainya.

Bocah laki-laki itu, melakukan seperti yang dilakukan neneknya sebelumnya, mengunyah sepotong lobak di mulutnya.

“Bocah kecil itu sekarang telah belajar bagaimana menjadi kenyang tanpa makan !” kata pemilik kedai.

Nenek yang sedang menikmati makanan itu bertanya kepada cucunya yang masih kecil, “Maukah kamu memakannya juga?”

Tak disangka, anak kecil itu menepuk-nepuk perutnya dan berkata kepada neneknya, “Tidak, aku sangat kenyang, nek, lihat, sambil menunjukkan perutnya…” (lidya/yn)

Sumber: goez1