Orangtuanya Meninggal Sehari Setelah Ulang Tahunnya yang ke-80, dan Meninggalkan Surat, Ketika Anak-anaknya Membacanya, Mereka Menangis

Erabaru.net. Desa Zhangjia adalah desa pegunungan kecil yang terpencil dan hari ini desa tersebut sangat ramai karena Paman Zhang merayakan ulang tahunnya yang ke-80

Ada deretan mobil yang terparkir di depan rumah Paman Zhang, yang semuanya milik anak-anaknya.

Paman Zhang memiliki 5 anak. Kelima anak ini semuanya sangat luar biasa. Mereka adalah siswa berprestasi dan semuanya telah sukses dan tinggal kota besar.

Istri Paman Zhang telah lama meninggal. Beberapa meja perjamuan didirikan di dalam dan di luar, dan semua orang di desa diundang.

Hanya ada beberapa lusin rumah tangga di Desa Zhangjia, dan sebagian besar anak muda di desa telah pergi ke kota untuk bekerja, mereka yang tersisa adalah para orang tua atau anak-anak, dan tidak ada satu pun anak muda.

Selama perjamuan ulang tahun, semua putra dan putrinya datang untuk bersulang untuk Tuan Zhang, dan satu persatu mereka memberikan doa dan hadiah pada Paman Zhang. Paman Zhang tersenyum dan mengangguk senang.

Setelah anak-anak selesai berbicara, Paman Zhang berkata: “Karena kalian semua telah tumbuh besar dan tidak tinggal bersama ayah, hari ini adalah hari yang paling membahagiakan bagi ayah. Hari ini cucu-cucu ayah semua datang mengunjungi ayah, ayah akan memberi mereka amplop merah.”

Setelah mengatakan itu, Paman Zhang masuk ke kamarnya untuk mengambil amplop merah, dan keluar dengan tas kecil, memberikan setiap cucu sebuah amplop merah, dan melihat amplop merah yang menggembung, sepertinya terisi banyak uang.

Anak sulungnya berkata: “Ayah, cukup berikan sedikit untuk anak kecil. Bagaimana Anda bisa memberi begitu banyak?”

“Tidak apa-apa, semua uang ini adalah uang yang selama ini kalian kirim kepada ayah. Semua makanan yang ayah makan adalah hasil dari menanam sendiri. Semua uang itu ayah simpan, dan kali ini aku akan memberikannya untuk cucuku.”

Paman Zhang berkata sambil tersenyum.

Setelah mendengar ini, putra bungsunya berkata : “Ayah, semua uang ini adalah bakti kami untuk ayah, dan ayah baru saja menghabiskan bakti kami seperti ini.”

“Kalian semua telah menghasilkan banyak uang. Kalian mengirimi ayah banyak uang setiap tahun, itu sudah sangat berbakti. Tetapi kalian belum kembali menemui ayah selama 5 tahun! Saat ayah sakit, kalian hanya mengirim uang. Dan jika bukan karena ulang tahun ke -80 kali ini, akan sangat sulit untuk melihat kalian!” Kata Paman Zhang, nadanya sedikit sedih.

“Ayah, tidak ada yang bisa kita lakukan untuk itu, tidak mudah bagi kami untuk bekerja keras di kota, dan kami tidak punya waktu untuk pulang!” balas putri kedua.

“Aku tahu kamu sangat sibuk, bahkan walau saat Tahun Baru Imlek,” kata Paman Zhang dengan agak marah.

“Ayah, hari ini adalah hari bahagia mengapa ayah marah. Lagi pula, bukankah kami mengatakan kami akan menjemput ayah sebelumnya dan tinggal bersama kami? Ayah tidak akan tinggal sendirian lagi,” kata anak ketiga.

“Ya, kalian mengatakan bahwa kalian akan menjemput ayah dan tinggal di sana. Tetapi kalian masing-masing tinggal di belahan dunia yang berbeda. Ayah menghabiskan satu tahun di rumah putraku di Beijing tahun ini, dan ayah akan pergi ke rumah putraku yang di Shanghai di tahun berikutnya. Ayah semakin tua dan waktu itu terlalu lama untuk ayah, “kata Paman Zhang.

“Ayah, bukankah ini sesuatu yang tidak bisa dihindari? Kami semua memiliki keluarga sendiri, jadi kami tidak bisa terus berada di sekitarmu!” kata putrinya.

Paman Zhang tidak berbicara lagi setelah mendengar ini, dan jamuan selamat ulang tahun berakhir dengan terburu-buru.

Setelah perjamuan ulang tahun, semua anak mengatakan bahwa masih ada yag harus dikerjakan di kota, dan mereka ingin bergegas kembali hari itu.

Paman Zhang bersikeras agar mereka menginap, mengatakan bahwa jika mereka segera pergi, mereka tidak akan dianggap sebagai anaknya lagi.

Pagi-pagi keesokan harinya, kelima anak itu hendak mengucapkan selamat tinggal kepada ayah mereka.

Mereka mengetuk kamar ayahnya untuk waktu yang lama, tetapi ayahnya tak kunjung membukakan pintu. Saat mereka membuka pintu, Paman Zhang berbaring di tempat tidur, tidak bernapas lagi.

Anak perempuannya melihat surat di samping bantal ayahnya, dengan tulisan: “Maafkan Ayah karena pergi seperti ini. Ayah benar-benar khawatir tidak ada yang akan mengurus mayat ayah ketika ayah meninggal! Anak-anak Bibi Li di sebelah rumah juga pergi sepanjang tahun, dan Bibi Li ditemukan telah meninggal di rumah selama sebulan. Ayahmu sekarang berusia 80 tahun, dan aku tidak tahu kapan aku bisa melihatmu, jadi selagi kamu masih di rumah, aku bisa pergi dengan tenang !”

Setelah anak-anak membaca surat itu, mereka semua berlutut di samping ayah mereka dan menangis. (lidya/yn)

Sumber: goez1