Sebelum Meninggal, Ibu Mertua Memberi Aku “Kotak Kayu Kecil”, Saat Aku Membuka, Isinya Membuat Aku Menangis

Erabaru.net. Saat usia 21, aku masih seorang gadis yang ceria dan saya jatuh cinta dengan teman sekelas saat di perguruan tinggi. Dia memiliki senyum manis dan ramah tamah. Kita pun menjalin hubungan. Setelah lulus kuliah, kami menikah.

Aku dibesarkan oleh ayahku seorang diri, karena ibuku telah meninggal sejak awal. Aku sangat khawatir dengan ayahku yang sendirian di rumah, jadi, setelah lulus kuliah aku harus kembali ke kampung halaman. Namun, pacarku juga memiliki keluarga yang bermasalah, ayahnya telah meninggalkan ibunya dan dirinya.

Sekarang kita berdua memiliki keluarga yang hancur, bagaimana kita membuat pilihan?Setelah aku menyatakan masalahku, pacarku memutuskan untuk mengunjungi rumahku secara langsung.

Aku pikir ayahku tidak akan setuju dengan pacarku, tetapi ayahku hanya mengajukan satu permintaan kepada pacarku, ayah berharap pacarku bisa memperlakukan aku dengan tulus. Ternyata ayahku juga tidak mempermasalahkan aku tinggal bersama pacarku setelah menikah.

Aku masih ingat bahwa pada hari pernikahan kami, ibu mertuaku menyerahkan kunci mobil dan kunci rumah kepadaku sebagai hadiah pertunangan. Ini adalah aset terakhir yang ditinggalkan oleh ayah mertua ketika dia pergi.

Rumah itu berada di lingkungan yang sama dengan tempat tinggal ibu mertua, dengan jarak kurang dari lima rumah.

Setelah kami menikah, aku dan suami tinggal di rumah itu, meskipun tidak ada dekorasi, aku sangat puas.

Namun, tepat setelah ulang tahun saya yang ke-28, suamiku meninggal tiba-tiba dalam sebuah kecelakaan mobil, meninggalkan aku dan putraku yang berusia kurang dari 3 tahun. Aku merasa bahwa seluruh dunia tiba-tiba runtuh, kehidupan bahagia kami baru saja dimulai, tetapi dia meninggalkan kami dengan begitu tragis!

Aku tidak bisa menerima kenyataan ini, dan aku menangis sepanjang hari. Tapi aku masih punya anak, dan aku harus merawatnya.

Aku harus pergi bekerja, dan tidak ada yang merawat anak, saat aku dalam kegalauan ini ibu mertuaku menawarkan untuk membantuku merawat anakku. Jadi dia pindah bersama kami dan memintaku untuk berkonsentrasi pada pekerjaan.

Meskipun ayah dari anak itu sudah tidak ada lagi, ibu mertua tetaplah ibuku dan nenek dari putraku.

Ibu mertuaku sudah tidak muda lagi, tetapi dia masih membantu saya melakukan pekerjaan rumah setiap hari.

Ketika dia bangun pagi, dia akan mengantar anak saya ke sekolah dan membelikan sarapan untukku. Ketika aku pulang dari kerja setiap hari, makan malam sudah disiapkan.

Aku menaruh sejumlah uang di saku gaunnya setiap hari, tetapi dia selalu diam-diam mengembalikan uang itu ke laci saya.

Dia mengatakan bahwa dia memiliki uang pensiun, dia tidak kekurangan uang, dan aku tidak mendapatkan banyak uang dari pekerjaanku. Selain itu, yang dia rawat adalah cucunya sendiri dan merasa tidak pantas menerima uang.

Setiap malam ketika aku tidak bisa tidur, aku akan mengobrol dengan ibu mertua dan dia sering berbicara tentang masa kecil suamiku.

Dia memiliki dua putra, tetapi suamiku adalah putranya yang sangat baik. Suamiku sangat patuh dan rajin belajar sejak dia masih kecil, tidak seperti putra keduanya yang suka berkelahi sepanjang hari, mabuk, dan kabur dari rumah pada usia 19 tahun dan tidak pernah kembali.

Selama Tahun Baru dan liburan, dia tidak pernah menelepon dan ibu mertuaku mengatakan bahwa dia tidak pernah menganggap anak kedua itu sebagai anaknya lagi. Tetapi aku tahu bahwa tidak ada ibu di dunia ini yang tidak mencintai anaknya sendiri.

Ketika anakku berusia 5 tahun, ibu mertuaku mengatakan bahwa anak itu semakin dewasa dan mandiri, dia berharap aku bisa keluar dari bayang-bayang suamiku dan menemukan pria yang cocok untuk menikah lagi.

Meskipun aku memiliki rumah dan mobil, ketika kencan buta dn mendengar bahwa aku memiliki seorang putra berusia lima tahun dan ibu mertua berusia enam puluh tahun, mereka enggan melanjutkan hubungan.

Namun, aku akhirnya berpikir lagi dan lagi, untuk mencari ayah tiri untuk anakku, apakah dia akan menerima anakku, belum lagi ibu mertuaku.

Akhirnya, aku memutuskan untuk fokus pada karirku dan tidak lagi memikirkan pernikahan kedua.

Setelah beberapa tahun, putraku melanjutkan ke sekolah menengah pertama dan pada saat itu juga ibu mertuaku jatuh sakit karena terlalu banyak bekerja, dan akhirnya meninggalkan kami.

Sebelum ibu mertua meninggal, dia memberiku sebuah kunci dan dia menyuruh aku untuk melepas lukisan pemandangan di dinding rumahnya, di belakangnya ada sebuah kotak kayu kecil yang tersembunyi.

Tidak ada yang tahu tentang ini dan aku juga tidak menyangka bahwa ibu mertuaku menyembunyikannya selama bertahun-tahun.

Ketika aku sampai di rumah, aku membuka kotak kayu kecil misterius pemberian ibu mertua, yang ternyata berisi surat wasiat dan beberapa buku tabungan.

Surat wasiat mengatakan bahwa semua uang yang tersisa dan rumah diberikan untukku. Berharap aku bisa membesarkan anakku.Ketika dia dewasa, dia bisa seperti ayahnya, pergi ke universitas yang bagus, dan bertemu menantu yang cantik dan berbudi luhur seperti aku.

Membaca isi surat itu, air mata tidak bisa berhenti mengalir.

Saya berpikir dalam hati: “Terima kasih ibu telah mengizinkan saya menjadi menantu perempuan Anda selama lebih dari 12 tahun, dan terima kasih telah merawat putraku!” (lidya/yn)

Sumber: goez1