Laporan Mengungkapkan Microsoft, Intel dan GE Menyediakan ‘Dukungan Langsung’ kepada Militer Tiongkok dan Lembaga Keamanan Tiongkok

Keterangan Gambar: Dalam ilustrasi foto ini, ponsel yang menampilkan aplikasi TikTok ditampilkan di sebelah logo Microsoft di New York City pada 3 Agustus 2020. (Cindy Ord / Getty Images)

Andrew Thornebrooke

Sebanyak 8 perusahaan Big Tech Amerika Serikat memiliki hubungan bisnis dengan aparat militer dan keamanan Tiongkok, menurut sebuah laporan baru oleh kelompok advokasi yang berbasis di Washington, Victims of Communism Memorial Foundation dan kelompok konsultan Horizon Advisory.

Sebuah laporan menyebutkan : “Dalam upaya untuk merebut pasar Tiongkok dan meningkatkan baris-baris terbawahnya, perusahaan big Tech Amerika Serikat itu semakin mendukung modernisasi militer, negara pengawasan,  keamanan di dalam negeri, dan pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang menyertainya yang dilakukan Beijing.” 

Hal ini memeriksa kegiatan delapan perusahaan  Amerika Serikat di Tiongkok: Amazon, Apple, Dell, Facebook, GE, Google, Intel, dan Microsoft, mencari hubungan-hubungan bisnis “yang mungkin secara langsung atau tidak langsung mendukung pengawasan negara Tiongkok, modernisasi militer, dan pelanggaran hak asasi manusia.”

Sementara perusahaan yang diperiksa dalam laporan tersebut memiliki sejarah transaksi bisnis yang terkotak-kotak dengan perusahaan milik negara, laporan tersebut menemukan bahwa GE, Intel, dan Microsoft memberikan “dukungan langsung” kepada militer Tiongkok atau organisasi-organisasi keamanan negara.

Perpaduan Sipil-Militer Komunis, Atas Perkenan dari Teknologi Ameria Serikat 

Bukan rahasia lagi bahwa perusahaan-perusahaan Amerika Serikat semakin memperkuat Partai Komunis Tiongkok. Media pendirian telah mengisyaratkan prevalensi kesepakatan bisnis yang mendukung otoritarianisme Partai Komunis Tiongkok selama bertahun-tahun. Namun, laporan baru tersebut menambahkan rincian baru mengenai seberapa luasnya tren tersebut.

Memang, perusahaan yang terlibat itu dilaporkan telah membantu Partai Komunis Tiongkok menerapkan militerisasi masyarakat Tiongkok pada tingkat tertinggi.

“Kepemimpinan Apple dan Intel telah bertemu beberapa kali dengan petinggi di Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi, sebuah perusahaan terkemuka entitas negara Tiongkok yang dituduh menerapkan strategi fusi militer-sipil Beijing, yang menyalurkan inovasi-inovasi teknologi yang dikembangkan atau diperoleh di sektor swasta terhadap militer Tiongkok,” bunyi laporan itu.

Fusi militer-sipil mengacu pada sebuah strategi di mana seluruh masyarakat dimobilisasi, tak lain untuk berpartisipasi dalam “peremajaan besar” bangsa Tiongkok dengan cara memodernisasi sayap militer Partai Komunis Tiongkok, Tentara Pembebasan Rakyat.

Di bawah strategi tersebut, semua pengembangan teknologi sipil didorong untuk juga melayani sebuah fungsi militer.

Hal tersebut menghadirkan sebuah masalah nyata, bagi perusahaan mana pun yang terlibat dalam pengembangan atau penelitian teknologi di Tiongkok.

Bagi perusahaan yang sengaja bermitra untuk mengembangkan teknologi dengan perusahaan militer, namun, ancaman terhadap Amerika Serikat, serta untuk kebebasan sipil Tiongkok, adalah sesuatu yang lebih parah.

Kemitraan dan keterlibatan dengan entitas rezim Tiongkok yang mendukung upaya Tentara Pembebasan Rakyat dan pengawasan negara, namun, adalah jauh dari langka, seperti yang dirincikan laporan tersebut.

Misalnya, Intel memasok, berinvestasi, dan terlibat dalam kerjasama teknologi dengan prosesor Tiongkok dan perusahaan perancang chip Lanqi Technology, yang banyak diinvestasikan oleh China Electronics Corporation, sebuah perusahaan pertahanan milik negara yang telah diidentifikasi Kementerian Pertahanan Amerika Serikat, sebagai sebuah entitas militer. Intel juga terlibat dalam proyek bersama senilai  2 miliar dolar AS, dengan Lanqi Technology untuk mengembangkan prosesor berkinerja-canggih.

“Wakil Presiden Global Intel menghadiri penandatanganan [kesepakatan tersebut], demikian juga dengan  Ketua dan Sekretaris Partai Komunis Tiongkok di China Electronics,” kata laporan itu.

Intel juga sebelumnya melakukan penelitian dengan sebuah perusahaan di bawah kontrak untuk memberikan teknologi-teknologi kecerdasan buatan kepada Tentara Pembebasan Rakyat.

“Paparan Intel melebihi perusahaan-perusahaan lain yang disurvei dalam upaya ini,” kata laporan itu.

“Intel berinvestasi di perusahaan teknologi yang canggih dan perusahaan fusi militer-sipil Tiongkok, berpotensi mendorong perusahaan tersebut dengan modal maupun akses ke teknologi,” laporan tersebut menambahkan.

“Intel tidak mengambil tindakan untuk mengekang atau menghentikan hubungan yang bermasalah semacam itu.

Demikian juga, GE ditemukan oleh laporan itu terlibat dalam kemitraan-kemitraan teknologi dengan pemain kunci di seluruh kompleks industri militer Republik Rakyat Tiongkok.

“Kemitraan-kemitraan [GE] tampaknya melibatkan berbagi teknologi, termasuk dengan pemain-pemain inti di militer Tiongkok, fusi militer-sipil, dan sistem pengawasan,” kata laporan itu.

Di antara para pemain itu adalah perusahaan pertahanan milik negara Aviation Industry Corporation of China, terdaftar oleh Amerika Serikat sebagai sebuah entitas militer, dan Harbin Electric Group. Khususnya, Harbin Electric Group mempertahankan sebuah departemen fusi militer-sipil khusus yang berfokus pada penyediaan teknologi turbin untuk Tentara Pembebasan Rakyat.

Menurut laporan tersebut, GE mempertahankan 51 persen saham, di sebuah sebuah usaha patungan turbin dengan Harbin Electric Group: The General Electric-Harbin Power-Nanjing Turbine Energy Service.

“Kemitraan itu telah … memberikan pemain-pemain Tiongkok yang terikat militer posisi pengungkit dalam rantai-rantai pasokan GE, penting bagi perusahaan keamanan nasional Amerika Serikat dan basis manufakturnya,” kata laporan itu.

“Dan operasi-operasi dan kemitraan GE di Tiongkok secara sistematis memaparkan GE terhadap risiko-risiko yang terkait dengan kerja paksa dan kekejaman hak asasi manusia lainnya di Tiongkok.”

Innovation Hub milik Microsoft, sebuah pusat penelitian yang berfokus pada kecerdasan buatan, sementara itu, termasuk di antara anggotanya China Telecom, sebuah raksasa telekomunikasi milik negara yang memiliki izin untuk beroperasi di Amerika Serikat dicabut pada tahun 2021 karena keprihatinan keamanan nasional.

Microsoft juga meluncurkan perjanjian-perjanjian kerjasama yang strategis dengan perusahaan lainnya yang diidentifikasi oleh pemerintah Amerika Serikat terkait dengan militer Tiongkok atau sebagaimana sedang dipertimbangkan untuk pembatasan ekspor, menurut laporan tersebut.

Kemunafikan di Dalam Negeri, Otoritarianisme di Luar negeri

Yang pasti, berbisnis di Tiongkok sama sekali semakin berisiko. Beberapa undang-undang dan organisasi di Tiongkok ada untuk mengumpulkan data kepemilikan dan menggunakannya untuk Partai Komunis Tiongkok, karena Partai Komunis Tiongkok menganggap data itu sendiri sebagai sebuah “sumber daya nasional.”

Namun, laporan Victims of Communism Memorial Foundation adalah berhati-hati untuk dicatat, bahwa seseorang tidak boleh berasumsi hanya melakukan bisnis di Tiongkok adalah salah. Sebaliknya, penulis laporan  Victims of Communism Memorial Foundation mendorong para pembaca untuk fokus pada etika ganda yang dilakukan beberapa perusahaan, memperjuangkan hak asasi manusia sambil juga berkontribusi pada teknologi untuk menindas yang dilakukan oleh sebuah rezim otoriter.

“Pemain korporat Amerika Serikat tidak memiliki masalah untuk mengatakan satu hal di Amerika Serikat saat melakukan (dan mengatakan) sesuatu yang berbeda di Tiongkok,” kata laporan itu.

“Kemunafikan semacam itu sangat mencolok dalam hal privasi digital: Perusahaan-perusahaan seperti Apple, Amazon, Dell, dan Intel yang menekankan keamanan informasi di Amerika Serikat juga mematuhi persyaratan peraturan Tiongkok untuk menyimpan dan menangani data.”

“Hal ini membahayakan informasi, dan oleh karena itu membahayakan keamanan, para pengguna di Tiongkok yang menentang rezim Tiongkok, serta ara pengguna global.”

The Epoch Times telah meminta komentar dari GE, Intel, dan Microsoft. (Vv)