Socrates dan Kebebasan Wacana

"The Death of Socrates" by Jacques Louis David, 1787

Eric Bess

Kadang sejarah memberi kita seorang individu yang jenius yang mempengaruhi peradaban kita selama berabad-abad mendatang. Socrates, yang tinggal di Athena, Yunani, sekitar 2.500 tahun yang lalu, adalah salah satu individu tersebut. Apa yang kita ketahui mengenai Socrates sebagian besar berasal dari Plato, salah satu muridnya.

 Socrates adalah sosok yang kontroversial. Banyak yang berbicara dengan Socrates secara pribadi tidak dapat menolak untuk mencintai dan menghormatinya, tetapi Socrates dibenci secara politik dan akhirnya dihukum mati. Siapakah Socrates, dan bagaimana hidupnya memberi kebijaksanaan bagi kita saat ini?

 Socrates, Yang Paling Bijaksana

 Setelah mengalahkan Persia, Athena menjadi negara kota terkuat di Yunani. Dipimpin oleh Pericles, Athena mulai unggul di bidang militer, politik, dan kebudayaan. Dalam waktu yang sangat singkat, Athena akan menciptakan sebuah kebudayaan yang akan diingat selama ribuan tahun.

Salah satu fitur Athena yang terpenting selama waktu ini adalah ide-ide aliran bebas, yang didorong oleh Pericles, dan Athena mengejar dan mewujudkan sebuah gagasan kebebasan berbicara. Socrates, setelah bertugas di tentara Athena, akan mendapat manfaat dari kebebasan berbicara ini seperti yang ia inginkan berdialog dengan beberapa pemikir terbesar pada masanya, dan akan menanyakan banyak warga Athena dalam mengejar kebijaksanaan.

 Bagi Socrates, satu-satunya hal yang penting adalah kebajikan etis. Socrates percaya bahwa “kehidupan yang tidak diuji adalah tidak layak untuk dijalani,” dan pertanyaan-pertanyaan mengenai kebajikan etis –— bukan gagasan yang terbentuk sebelumnya dan absolut –— adalah awal dari kebijaksanaan manusia. Socrates menganggap bahwa ia tidak tahu apa-apa, dan anggapan ini membuat Oracle dari Delphi memastikan bahwa Socrates adalah orang yang paling bijaksana di Athena. Deklarasi Oracle mendorong Socrates untuk memulai sebuah kehidupan filsafat.

 Socrates juga memuji kebijaksanaan apa pun yang ia miliki sebagian untuk “daimonion” miliknya–— yang  diterjemahkan Cicero menjadi “sesuatu yang Ilahi”—-yang menemani Socrates sejak ia masih kecil. Socrates menggambarkan daimonion dalam “Permintaan Maaf” Plato sebagai “semacam suara yang datang kepada saya, dan ketika suara itu datang, hal itu selalu menahan saya dari apa yang saya sedang pikir kanuntuk melakukan, tetapi tidak pernah mendesak saya untuk maju.” 

Daimonion berfungsi sebagai sebuah panduan etis untuk Socrates, dan selalu mencegah Socrates untuk bertindak dengan cara yang dapat membahayakan.

Socrates berjalan di jalan-jalan  dan melibatkan para warga Athena dalam dialog-dialog etika yang menampilkan pertanyaan seperti: “Apa itu Kebebasan?” “Apa itu Keadilan?” “Apa itu Keberanian?” Banyak dari dialog ini akan berakhir dengan lawan bicara yang berlawanan dengan Socrates harus mengubah jawaban-jawaban prasangka mereka karena pedoman pertanyaan Socrates, yang sering memaparkan kurangnya kebijaksanaan mereka.

Socrates Merusak Pemuda

Banyak orang yang memiliki waktu luang untuk terlibat dengan Socrates adalah pria-pria kaya yang masih muda. Alcibiades, keponakan Pericles, adalah seorang pemuda yang sangat menjanjikan; ia tampan, kaya, ambisius secara politik, dan terpilih sebagai salah satu jenderal Athena. Socrates mempelajari ambisi-ambisi politik Alcibiades dan berusaha untuk berdialog dengannya; Socrates ingin menunjukkan pada Alcibiades bahwa Alcibiades belum siap untuk memenuhi ambisi-ambisinya itu sampai Alcibiades mempertimbangkan secara mendalam dan merefleksikan inti keadilan.

 Pada 1776, seniman Prancis François-André Vincent melukis Alcibiades Sedang Diajari oleh Socrates. Di sisi kanan komposisi, François-André Vincent menggambarkan Socrates yang berusia setengah baya ditemani oleh daimonion miliknya, yang menunggu untuk mencegah Socrates untuk mengatakan atau melakukan sesuatu yang berbahaya. 

Socrates berbicara kepada Alcibiades, yang diposisikan di sisi kiri lukisan tersebut. Mengenakan pakaian jenderal yang elegan, Alcibiades tampaknya mendengarkan Socrates —– Alcibiades menatap langsung ke Socrates —– tetapi tubuhnya berbalik. Perisai Alcibiades tergantung di dinding di latar belakang, dan tangan kiri Alcibiades muncul untuk menyembunyikan pedangnya dari Socrates. 

Apakah Alcibiades bergerak untuk menyembunyikan pedangnya untuk menunjukkan janjinya untuk mempertimbangkan keadilan dalam mencapai ambisi-ambisinya? Atau apakah upaya Alcibiades untuk menyembunyikan pedangnya menunjukkan ambisi-ambisi politiknya tanpa keadilan?

Alcibiades memang mengejar ambisi-ambisi politiknya tanpa pertimbangan keadilan yang mendalam seperti yang diminta Socrates. Alcibiades berencana untuk menaklukkan Sisilia, tetapi patung-patung keagamaan dimutilasi sebelum Alcibiades berlayar, yang dianggap oleh massa sebagai sebuah pertanda buruk. 

Lawan-lawan politik Alcibiades mengaitkan Alcibiades dengan tindakan-tindakan penistaan ini ​​dan menuntut agar Alcibiades diadili. Untuk menghindari nasib ini, Alcibiades memutuskan untuk tidak kembali ke Athena dan malahan memihak Sparta, yang menimbulkan kehancuran yang luar biasa bagi Athena.

Tidak lama sebelum Alcibiades dikutuk oleh Spartan karena berselingkuh dengan ratu Spartan. Alcibiades akhirnya melarikan diri ke Persia, dan membantu Persia sebagai musuh Yunani. Sebelum dibunuh di Persia, Alcibiades telah bertempur di tiga sisi perang yang sama. Alcibiades tampaknya kurang peduli akan keadilan dan ia lebih peduli pada bijaksana secara politik.

 Apakah ini sebabnya lukisan tersebut menggambarkan tubuh Alcibiades berpaling dari Socrates? Apakah bahasa tubuh ini menunjukkan kurangnya perhatian penuh dari Alcibiades? Socrates nantinya akan disalahkan karena ketidaksalehan terhadap dewa-dewa Athena dan karena merusak kaum muda. Namun, salah satu dari pemuda yang rusak ini, walaupun tidak pernah disebutkan namanya, dianggap sebagai Alcibiades. Socrates diadili dan dihukum mati karena pelanggaran-pelanggaran ini.

Pengadilan Socrates

Orang-orang Athena bangga dengan gagasan kebebasan berbicara yang mereka miliki. Kemampuan-kemampuan untuk bebas mengekspresikan dan bertukar gagasan adalah yang terpenting bagi kebudayaan Athena dan kesuksesan Athena. Namun, setelah pasukan kecil Spartan mengalahkan Athena, banyak orang Athena mulai mengagumi struktur kekuatan dominan dan militan Sparta.

Socrates dipanggil ke pengadilan tidak lama setelah orang-orang Spartan mengalahkan orang-orang Athena di perang Peloponnesia. Socrates dituduh tidak mengakui dewa-dewa Athena, memperkenalkan dewa-dewa baru, dan, tentu saja, merusak kaum muda. Para penuduh Socrates mengungkit daimonion miliknya, yang bukanlah salah satu  dewa-dewa Athena yang diakui, dan menunjukkan bahwa banyak orang yang menyerang demokrasi Athena, setidaknya pada suatu waktu, kaum muda yang terkait dengan Socrates.

 Socrates membela dirinya sendiri, menyatakan bahwa tuduhan-tuduhan ini adalah tidak benar. Mengapa begitu banyak orang Athena percaya bahwa tuduhan-tuduhan ini adalah benar? Mengapa begitu banyak orang Athena membenci Socrates? Socrates menyatakan bahwa alasan orang-orang Athena membencinya terlepas dari upaya-upaya terbaiknya untuk melayani orang-orang Athena adalah karena media. Drama “Clouds” oleh Aristophanes, misalnya, menggambarkan Socrates sebagai badut yang tidak mengenal Tuhan yang merusak kaum muda dan tidak dianggap terlalu serius.

 Socrates mengakui bahwa ia mengejar kebijaksanaan melalui penyelidikan dengan mereka yang mau mendengarkan—–kebanyakan pria-pria kaya yang masih muda yang akan berlatih sebuah pedoman penyelidikan yang sama dengannya dalam mengejar kebijaksanaan. Socrates berpendapat bahwa hal ini adalah tidak merusak, malahan menguntungkan demokrasi Athena.

Sebagai negara demokrasi, mayoritas yang berkuasa memaksakan keburukan serta kebajikannya terhadap para warganegara. Dibutuhkan beberapa orang yang berdedikasi, tidak banyak, untuk mengejar kebajikan etis dan meneruskannya ke generasi berikutnya. Tentu saja, hal ini harus mempertanyakan kejahatan yang diyakini mayoritas sebagai kebenaran mutlak.

Socrates juga berpendapat ia tidak saleh; ia telah mengabdikan hidupnya dalam kepatuhan kepada dewa di Delphi dan pada daimonion miliknya, yang secara etis membimbingnya sepanjang hidupnya saat ia berusaha untuk melayani masyarakat Athena. Socrates ingin orang lain, serta dirinya sendiri, untuk mencapai sebuah pemahaman yang semakin mendalam mengenai kebajikan sehingga Athena dapat mencapai potensi penuhnya dan berkembang pesat.

Pengadilan Socrates adalah sebuah contoh di mana seorang Athena dituntut atas dugaan kerugian yang secara tidak langsung disebabkan oleh pertukaran gagasan–—untuk berbicara dengan bebas. Orang-orang Athena, yang pernah menghargai gagasan kebebasan berbicara, mengharuskan Socrates untuk mencela keyakinan-keyakinannya atau mati diracun. Socrates memilih mati diracun.

 Kematian Socrates

Kematian Socrates dilukis pada 1787 oleh seniman neoklasik Jacques-Louis David (1748–1825). Lukisan tersebut menggambarkan momen di mana Socrates, dikelilingi oleh para pengikut dan keluarganya, diberikan sebuah piala berisi cemara beracun untuk diminum —– yang dengan rela diterima Socrates karena daimonion miliknya tidak berupaya untuk menghentikan Socrates untuk tidak minum racun tersebut. Socrates tidak hanya menerima piala yang berisi cemara beracun, tetapi menunjuk ke surga-surga dan wacana-wacana  keabadian jiwa sebelum ia minum racun tersebut. 

Socrates ditampilkan sebagai seorang pemuda ideal yang berotot yang mengenakan jubah putih, yang menunjukkan karakter Socrates yang kuat dan murni. Dari semua sosok yang digambarkan, Socrates paling diterangi oleh cahaya memancar dari atas komposisi. Socrates membahas bentuk-bentuk gagasan yang ada di balik bentuk-bentuk permukaan yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Socrates menyatakan bahwa ada kebenaran yang lebih besar yang menerangi semua hal lain, dan bahwa kebenaran ini hanya dapat diakses oleh mereka–—“raja-raja filsuf”–—yang menjalani hidupnya sesuai dengan kebenaran yang lebih tinggi.

 Dalam “Alegori Gua” yang terkenal dari “Republik” milik Plato, Socrates menunjukkan bahwa realitas bagi kita seperti dirantai di dalam seubah gua dan dibuat untuk melihat sebuah dinding di mana bayangan-bayangan dilemparkan oleh api di belakang kita. Kita semua salah mengira bayangan-bayangan itu adalah kebenaran realitas, tidak menyadari bahwa kebenaran yang sebenarnya dimulai dengan nyala api di belakang kita, dan bahwa ada dunia  lain yang lebih benar di luar dunia yang satu ini.

 “Raja filsuf” menjadi orang yang membebaskan orang-orang tersebut dari gua itu dan melihat api sebagai sumber bayangan-bayangan itu, dan realitas dunia di luar batas penjara. Pertanyaannya adalah: Berapa banyak narapidana penjara sebelumnya dapat menerima kebenaran gua tersebut saat masih terbelenggu di dalam sana?

Dalam lukisan itu, Jacques-Louis David menggambarkan Socrates sebagai raja filsuf yang lolos dari belenggu-belenggu yang membuatnya terkurung dalam bayang-bayang dinding gua itu; kita dapat melihat belenggu-belenggu di tanah. Socrates melihat kebenaran, mencoba mengomunikasikan kebenaran itu, dan dihukum dengan minum racun.

Di sudut kiri atas komposisi, ada sebuah lampu minyak yang hampir padam; sebuah lampu minyak yang padam sering digunakan dalam karya seni sebagai simbol kefanaan kehidupan dan kematian yang akan segera terjadi. Jacques-Louis David menggambarkan lampu minyak itu sebagai satu-satunya objek yang memberikan bayangan pada dinding gua itu–—yang sejalan dengan wacana terakhir Socrates, di mana ia menyatakan bahwa jiwa adalah abadi dan kematian adalah sebuah ilusi.

 Ada juga sebuah kecapi di tempat tidur di sebelah Socrates, yang sering dipikirkan sebagai sebuah contoh logika dan alasan, tetapi Socrates memiliki sebuah mimpi yang berulang bahwa mendorongnya untuk membuat musik. Socrates pikir mimpi itu mengacu pada musik filsafat, dan hanya setelah percobaan yang ia pertimbangkan bahwa mimpi itu mengacu pada musik yang sebenarnya, dan ia berusaha untuk belajar sebuah melodi saat ia menunggu untuk mati.

Ada spekulasi bahwa pergantian Socrates ke musik di akhir hidupnya menunjukkan bahwa logika dan alasan-alasan adalah tidak mutlak dan hanya dapat membawa kita begitu jauh dalam memahami apa artinya menjadi manusia. Pengalaman manusia seutuhnya membutuhkan ilmu pengetahuan maupun seni serta kebebasan wacana untuk mencari inti sejati dari keduanya. (Vv)