Partai Komunis Tiongkok Semakin Terisolasi karena Terseret Krisis Ukraina

Amerika Serikat dan para mitra koalisi menentang ancaman Beijing

Warga menonton layar TV yang menampilkan berita tentang konflik antara Rusia dan Ukraina di sebuah pusat perbelanjaan di Hangzhou, di provinsi Zhejiang, Tiongkok pada 25 Februari 2022.(STR/AFP via Getty Images)

Antonio Graceffo

Selama beberapa minggu terakhir, sejak invasi Ukraina,  Partai Komunis Tiongkok telah berulang kali memperingatkan Amerika Serikat dan sekutunya mengenai berbagai tindakan, dari memperburuk krisis Ukraina hingga membela Taiwan dan mengisolasi Tiongkok.

Amerika Serikat dan Eropa, pada gilirannya, telah memperingatkan Beijing untuk berhenti mengancam tatanan berbasis aturan dan berhenti mendukung Rusia. Pihak Amerika Serikat didukung oleh semakin banyak negara, sementara Tiongkok semakin terisolasi.

Pada sebuah konferensi pers di Beijing pada 7 Maret, Partai Komunis Tiongkok memperingatkan Amerika Serikat karena membentuk NATO Pasifik, yang mendukung Taiwan. Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi sebelumnya mengatakan bahwa Quad adalah setara dengan NATO Pasifik yang ditargetkan ke Tiongkok, dan Wang Yi menyalahkan Amerika Serikat karena menyebabkan banyak masalah di dunia.

Dialog Keamanan Segi Empat, biasanya disebut Quad, adalah sebuah dialog keamanan yang strategi antara Australia, India, Jepang, dan Amerika Serikat.

Partai Komunis Tiongkok juga memperingatkan Amerika Serikat agar tidak memasukkan Taiwan ke dalam rencana Amerika Serikat utuk Indo-Pasifik, untuk menjauhi Taiwan, dan berhenti “bermain api” atau Amerika Serikat akan membayar “harga yang mahal.”

Partai Komunis Tiongkok telah bertindak sedemikian jauh untuk memperingatkan bahwa mungkin ada sebuah konflik militer di Taiwan, di mana Amerika Serikat akan membayar “harga yang tidak tertahankan.”

Washington baru-baru ini menerapkan sanksi kepada para pejabat Tiongkok yang dituduh menindas orang-orang Uighur dan minoritas lainnya dalam bentuk sebuah larangan bepergian. Beijing bereaksi dengan menuntut agar sanksi itu dihapus, memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan menghadapi pembalasan.

Sebagai tanggapan, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin mengatakan kepada para wartawan pada 24 Maret bahwa “pernyataan Amerika Serikat penuh dengan bias ideologis dan kebohongan politik, mendiskreditkan Tiongkok dan menindas para pejabat Tiongkok tanpa alasan.”

Mengenai Ukraina, Beijing memperingatkan Washington yang terlalu ikut campur mengenai “kekhawatiran keamanan yang legal” untuk Rusia.

Mengabaikan peringatan itu, baik Gedung Putih maupun Kyiv telah meminta Tiongkok untuk mengutuk Rusia. Kepala perdagangan Uni Eropa telah menyatakan bahwa penolakan Partai Komunis Tiongkok untuk mengutuk Rusia telah memperumit hubungan Partai Komunis Tiongkok dengan Uni Eropa.

Presiden Joe Biden dan pemimpin Tiongkok Xi Jinping melakukan sebuah konferensi telepon pada tanggal 18 Maret, yang membahas invasi Rusia ke Ukraina dan dukungan Tiongkok untuk Rusia sebagai kemungkinan titik-balik hubungan Amerika Serikat-Tiongkok. Pertemuan itu berakhir tanpa kesimpulan yang berarti.

Pada 24 Maret, Amerika Serikat, NATO, dan sekutu G-7 bertemu di Brussel untuk berkoordinasi terhadap Tiongkok. Amerika Serikat dan sekutunya menyediakan senjata dan bantuan ke Ukraina serta berharap untuk mendorong perselisihan antara Moskow dan Beijing. Selanjutnya, sekutu sedang mempersiapkan sanksi sekunder terhadap Tiongkok karena mendukung Rusia.

Baru-baru ini, Beijing tampaknya melunakkan posisinya terhadap Moskow, yang menyerukan gencatan senjata daripada sebuah kemenangan militer, dengan alasan kerusakan perang sedang berdampak pada ekonomi global. Sementara Xi Jinping berpura-pura tidak takut pada sanksi Amerika Serikat, hubungan ekonomi dekat Tiongkok dengan negara G-7 mungkin menentukan tindakan Xi Jinping terhadap Rusia. Semakin, tampaknya lebih cenderung Xi Jinping akan dihadapkan pada pilihan antara keterlibatan ekonomi dengan G-7 atau dengan Rusia.

Mendukung Putin dapat membuat Tiongkok terisolasi dan sesuatu yang mungkin tidak ingin dilakukan oleh Xi Jinping. Di sisi lain, pakari strategi Tiongkok melihat dukungan untuk Rusia sebagai kunci dalam menentang tatanan dunia yang dipimpin Amerika Serikat.

Selama percakapan telepon mereka minggu lalu, Joe Biden terus-menerus mengancam akan menerapkan sanksi jika Tiongkok memberikan dukungan material untuk Rusia. Xi Jinping bersikeras bahwa ia menyerukan pembicaraan damai sementara Amerika Serikat merongrong proses perdamaian. 

Sikap Xi Jinping tampaknya mendorong lebih banyak negara di dunia mendukung Amerika Serikat daripada mendukung Tiongkok. Uni Eropa dijadwalkan untuk sebuah pertemuan pada April, di mana diharapkan untuk mengeluarkan sebubah peringatan yang mirip untuk Beijing.

Partai Komunis Tiongkok menyalahkan Amerika Serikat dan sekutunya atas perang Ukraina. Menteri Luar Negeri Le Yucheng mengatakan bahwa invasi itu dipicu oleh pergeseran NATO ke arah timur. Le Yucheng membandingkan pergeseran ini ke poros Amerika Serikat untuk Indo-Pasifik, menunjukkan bahwa hal itu dapat “mendorong Asia-Pasifik menjadi sebuah lubang yang berapi.”

Pernyataan ini merupakan sebuah ancaman terselubung, menunjukkan bahwa Amerika Serikat dan Barat yang mendukung pertahanan Taiwan, juga dapat mengakibatkan perang dengan Tiongkok.

Hu Xijin, mantan pemimpin redaksi Global Times yang dikelola Tiongkok, yang memposting kepada 24 juta pengikutnya di Weibo bahwa Rusia adalah “mitra terpenting” bagi Tiongkok.” Ia menyayangkan jika Amerika Serikat memaksa Rusia dan Tiongkok untuk meninggalkan persahabatannya, Tiongkok akan menempa dengan Amerika Serikat.

Seorang diplomat Eropa mengatakan bahwa NATO sedang menyusun komunike bersama yang akan “menyebutkan kekhawatiran akan potensi dukungan militer Tiongkok untuk Rusia,” menurut Nikkei. Orang-orang Eropa berencana untuk mengatakan komunike tersebut dengan cara yang tidak mengancam, mengingatkan Partai Komunis Tiongkok yang berpihak pada  Rusia dapat merusak hubungan dengan Eropa.

Wakil tetap Lithuania untuk NATO, Deividas Matulionis, mengatakan kepada Nikkei bahwa Rusia adalah agresor dan orang-orang yang “mendukung” agresor kemudian menjadi kaki tangan agresor.”

Tahun lalu, NATO mengeluarkan sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa pihaknya melihat Tiongkok sebagai saingan jangka panjang, melihat tujuan dan ambisi yang dinyatakan Partai Komunis Tiongkok untuk menantang tatanan internasional berbasis aturan sebagai ancaman terhadap keamanan global.

Hu Wei, wakil ketua untuk Pusat Penelitian Kebijakan Masyarakat yang berafiliasi dengan Dewan Negara, menganjurkan dalam sebuah makalah bahwa Partai Komunis Tiongkok harus segera putus dengan Rusia untuk menghindari isolasi dari Barat. Artikel Hu Wei tersebut telah dihapus, menunjukkan bahwa Partai Komunis Tiongkok tidak setuju dengan pendirian Hu Wei.

Xi Jinping berada dalam posisi genting. Ia menikmati menggunakan Rusia sebagai penyeimbang pengaruh Amerika Serikat selama beberapa tahun terakhir. 

Bergabung dengan Barat dengan adanya kecaman Barat terhadap Moskow berarti Tiongkok kehilangan Rusia sebagai penjaganya. Di sisi lain, menolak mengutuk Rusia dapat menyebabkan Barat mengasingkan Tiongkok. Dan akhirnya, saat perang berlangsung, menjadi lebih mahal, ada kemungkinan bahwa kekuatan di dalam Rusia dapat digulingkan atau membunuh Putin, yang menyebabkan Xi Jinping menjadi bertanggung jawab. (Vv)