Lockdown yang Kejam di Tiongkok Memicu Meningkatnya Ketidakpuasan

Polisi dan pekerja berdiri di samping bus di lingkungan tempat penduduk dipaksa pergi ke pusat karantina terpusat di distrik Huangpu di Shanghai, pada 21 Januari 2021. (STF / AFP via Getty Images)

Eva Fu

Setelah dua tahun hidup di bawah beberapa kebijakan COVID-19 yang paling ketat, semakin banyak penduduk Tiongkok tampaknya akhirnya sudah tidak tahan lagi.

Gemuruh frustrasi kini dapat terdengar dari penduduk di dalam gedung, di jalanan, di rumah sakit, dan di kampus-kampus sekolah, sebuah hal pertunjukan pembangkangan di negara yang dikenal dengan pembalasan yang cepat dan berat oleh rezimnya terhadap bahkan bisikan perbedaan pendapat yang paling samar.

“Kami tidak tahan lagi,” teriak sekerumunan pekerja pada awal bulan ini di distrik Futian yang dikarantina di  Shenzhen, selatan Tiongkok, pusat teknologi Tiongkok ketika selusin petugas kesehatan berdiri di sisi lain dari penghalang-penghalang plastik. “Tiadakan karantina. Kami menuntut dicabutnya karantina!”

Di lingkungan lain di Shenzhen, para penduduk yang muak membanting panci-panci dan wajan-wajan selama berjam-jam dari balkon mereka setelah mengetahui bahwa mereka sudah dikurung di rumah selama dua minggu akan berlanjut.

Di tempat lain di Shenzhen, penduduk setempat yang marah bertarung dengan para pejabat setempat, menjatuhkan sebuah stan pos pemeriksaan dan merobek pagar logam setelah diberitahu oleh seorang petugas kesehatan bahwa mereka “lebih baik tidak keluar selama beberapa bulan atau bahkan satu tahun.”

Di dekat perbatasan Shenzhen, pekerja-pekerja migran yang terdampar memenuhi jalan-jalan, menuntut untuk kembali ke rumah mereka di dekat Teluk Daya.

“Teluk Daya menuntut kemerdekaan,” teriak mereka.

Kemarahan yang ditampilkan selama beberapa minggu terakhir yang belum pernah terjadi sebelumnya dikarenakan rezim Tiongkok telah memberlakukan serangkaian karantina yang memengaruhi puluhan juta orang, yang menunjukkan sebuah perubahan suasana hati di antara masyarakat. Penghitungan infeksi harian resmi Tiongkok didorong oleh varian Omicron Coronavirus naik hingga 8.800 kasus pada 29 Maret, sebuah loncatan yang tajam dibandingkan beberapa bulan yang lalu, ketika kasus terdaftar di angka dua digit. Namun angka virus resmi oleh Beijing harus diragukan, menurut para ahli dan penduduk, yang menunjuk pada pola penyembunyian informasi oleh rezim Tiongkok yang dianggap merusak tahta kekuasaannya.

Tiongkok, pada satu titik dipuji karena tindakannya yang sangat membatasi COVID-19, sekarang di antara ketidaksepakatan terakhir di dunia dari kebijakan nol-COVID, sebuah buku pedoman yang terutama terdiri dari pengujian yang agresif, mengisolasi siapa pun yang terpapar virus tersebut, dan mengkarantina area tempat kasus muncul. Pendekatan ini telah mengganggu seluruh rantai industri dan rantai pasokan sementara membiarkan para penduduk  terkurung yang berjuang untuk menemukan pasokan kebutuhan dasar dan perawatan medis.

Awal minggu ini, pusat keuangan Tiongkok, Shanghai, mulai menerapkan karantina terbesar di Tiongkok hingga saat ini, membatasi populasi Shanghai sebanyak 26 juta orang, setengah pada suatu waktu. Sampai sehari sebelum pengumuman karantina pada 27 Maret, yang sekarang diidentifikasi sebagai hotspot Coronavirus terburuk dalam gelombang COVID-19 saat ini, para pejabat di Shanghai bersikeras bahwa mereka tidak akan mengambil tindakan seperti itu, karena kesulitan-kesulitan ekonomi dapat menimpa Tiongkok dan dunia.

Sementara itu, kesabaran masyarakat Tiongkok tampaknya mulai berkurang.

“Mengapa Tiongkok tidak dapat membatalkan pembatasan-pembatasan COVID seperti negara-negara lain di dunia?” beberapa pengguna di internet Tiongkok yang dijaga ketat bertanya.

Sebuah tagar yang berisi pertanyaan ini telah dilihat lebih dari 540 juta kali selama seminggu terakhir.

Unjuk rasa terbesar di Tiongkok terjadi pada 23 Maret, ketika ratusan pemilik usaha kecil dari Sijiqing, sebuah  pasar pakaian grosir yang populer di kota Hangzhou, timur Tiongkok, mengalami sebuah kebuntuan dengan polisi setelah menuntut untuk dikembalikan uang sewa mereka. Para pejabat di awal bulan Maret menutup seluruh pasar tersebut–—tempat naungan bagi puluhan ribu bisnis–—atas satu kasus Coronavirus tunggal dan mengkarantina hampir semua orang yang bekerja di sana, menurut salah satu wanita pemilik toko Wang Ling (samaran), yang bergabung dalam unjuk rasa tersebut.

Wang Ling telah melalui 16 hari karantina meskipun ia tidak ada riwayat kontak dengan orang yang terinfeksi, kata Wang Ling.

“Kami benar-benar tidak dapat bertahan lagi,” kata Wang Ling kepada The Epoch Times, mencatat bahwa mereka telah kehilangan uang sejak kemunculan pandemi COVID-19 dua tahun lalu.

Ia menyaksikan polisi membawa pergi setidaknya empat orang.

“Polisi mengatakan bahwa kita berkumpul untuk membuat masalah. … Jika kami dapat bertahan hidup, siapa yang mau membuat masalah?” kata Wang Ling.

‘Masalah Hidup dan Mati’

Dengan lebih banyak kota yang dikarantina, lebih banyak cerita bermunculan di internet Tiongkok mengenai penduduk yang ditolak menerima perawatan medis sebagai akibat aturan karantina yang ketat dan konsekuensi yang terkadang tragis dari keputusan semacam itu.

Seorang pasien kanker Shanghai yang berusia 70 tahunan baru-baru ini melompat dari sebuah gedung dan menyebabkan pergelangan kakinya patah, kabarnya karena para pejabat komite lingkungan menolak untuk mengizinkan pasien tersebut meninggalkan kompleks tempat tinggalnya untuk mendapatkan obat yang diresepkan.

Di Hebei, sebuah provinsi di utara Tiongkok dekat Beijing, banyak rumah sakit menolak seorang wanita yang ingin mengobati tumor ganas yang dicurigai dideritanya, karena tindakan pembatasan COVID-19. Wanita itu pada satu kali jatuh pingsan saat menunggu di luar rumah sakit bersama suaminya. Darah dan nanah keluar dari tubuh bagian bawahnya, tetapi wanita itu dibiarkan di luar rumah sakit pada suhu beku selama hampir 10 jam sebelum ada yang menanggapinya.

“Apakah mereka ingin kita mati perlahan di rumah?” kata suaminya dalam sebuah video yang diposting di Douyin, TikTok versi Tiongkok, memohon perhatian masyarakat untuk kasus istrinya. “Apakah begitu sulit bagi kita rakyat jelata untuk mendapatkan perawatan? Apakah tidak ada yang peduli dengan hidup kita?”

Tekanan masyarakat yang dihasilkan menyebabkan pihak berwenang bertindak terhadap kasus wanita itu, yang berjanji untuk merujuk wanita itu ke rumah sakit terkemuka dan ahli setempat untuk memberi terapi. Tetapi banyak orang lain yang kurang beruntung.

Di distrik Anci di Langfang, kota yang sama dengan pasangan suami istri itu berada, seorang warga lanjut usia meninggal setelah dikurung di rumah dan kehabisan obat, relawan pekerja kesehatan bernama Ge Ming (nama samaran) mengatakan kepada The Epoch Times.

Seorang perawat di Shanghai meninggal karena asma pada usia 49 tahun, setelah ia diacuhkan oleh rumah sakit tempat ia bekerja, yang telah menangguhkan layanan darurat karena pengendalian Coronavirus, menurut pernyataan dari majikannya, Rumah Sakit Timur Shanghai. Ia meninggal malam itu, tidak lama setelah keluarganya membawanya ke rumah sakit lain.

Sejak 20 Maret, sekitar 200 pasien gagal ginjal yang membutuhkan terapi cuci darah dikeluarkan dari Rumah Sakit Shanghai Zhoupu, menurut advokat-advokat online dan penduduk-penduduk terdekat.

“Ini adalah masalah hidup dan mati,” Hu Yuemei (nama samaran), yang tinggal di lingkungan tetangga dan berteman dengan para perawat, kepada The Epoch Times.

Rumah sakit tersebut kurang peduli dengan kehidupan orang-orang daripada perhatian rumah sakit itu terhadap para pejabat, kata Hu Yuemei.

The Epoch Times tidak dapat menjangkau rumah sakit tersebut atau komisi kesehatan distrik itu melalui panggilan telepon berulang kali.

Biaya sosial yang disebabkan oleh karantina mendorong seorang seorang penduduk Shanghai yang berusia 70 tahunan untuk menulis sebuah surat umum kepada walikota yang isinya ia mengkritik apa yang dilihatnya sebagai pemerintahan yang “bodoh.”

“Virus itu tidak menimbulkan banyak kerusakan pada masyarakat karena kebijakan bodoh ini,” kata pria itu dalam surat yang dilihat oleh The Epoch Times.

“Orang-orang tidak dapat bekerja, tidak dapat menghasilkan kemakmuran bagi masyarakat, tidak dapat mencari nafkah, tidak dapat menemui dokter, dan bahkan rumah sakit ditutup,” tulis pria itu. “Dapatkah rumah sakit yang menyelamatkan nyawa ditutup begitu saja selama wabah? Sampai di mana tingkat kebodohan yang diperlukan untuk membuat keputusan-keputusan semacam itu?”

Kekurangan Makanan

Perjuangan untuk mendapatkan pasokan yang memadai sementara itu telah memicu meningkatnya keluhan online dari orang-orang yang berada di area karantina.

Pengumuman Shanghai mengenai sebuah karantina yang cepat selama akhir minggu menyisakan sedikit waktu banyak orang menyiapkan untuk pasokan, bergumul hingga larut malam di pasar-pasar grosir yang penuh sesak saat penduduk setempat menyambar apa pun yang masih terpajang di rak.  Seorang pria digambarkan sedang menyeret tiga kantong plastik sampah yang penuh paket-paket ramen sambil berdiri dalam antrean.

“Ketika saya berjalan ke pasar produk dan melihat rak-rak kosong, daun sayuran berserakan di tanah, dan sepatu-sepatu yang hilang, saya sadar Shanghai menjadi kacau,” tulis seorang penduduk di sebuah posting media sosial.

Seorang pemilik toko mengatakan kepada The Epoch Times bahwa tokonya menjadi kosong selama pembelian panik. Pemilik toko tidak dapat menyediakan barang-barang kembali sampai setidaknya 1 April, katanya, menambahkan bahwa pesanan baru untuk persediaan semuanya telah ditolak karena layanan truk terhenti.

Tantangan tersebut bahkan lebih besar bagi orang-orang lanjut usia yang kurang memahami teknologi. Seorang pria lanjut usia di kota Changchun, timur laut Tiongkok, yang terpaksa hidup sendirian sejak seminggu sebelumnya karena aturan COVID di Changchun, difilmkan sedang bertualang untuk membeli makanan dari sebuah toko terdekat.

“Tolong bersimpati kepada saya,” ia berulang kali berkata di depan pintu kaca yang tertutup, karena ia diberitahu bahwa ia harus memesan melalui WeChat, aplikasi super Tiongkok.

“Apa itu WeChat? Di mana saya dapat mendapatkan WeChat ini?” tanya pria lanjut usia kebingungan, dengan mata berkaca-kaca. 

Para pejabat Changchun menindaklanjutinya setelah sebuah cuplikan pertukaran beredar puluhan ribu kali online dan mengklaim mereka telah mengirim pasokan seperti susu dan nasi untuk pria itu, tetapi banyak orang yang tetap tidak puas.

“Pria tua itu tidak sendirian,” komentar seorang pengguna Weibo mirip-Twitter di Tiongkok di bawah postingan para pejabat itu. “Pria tua itu mewakili sebuah segmen masyarakat.” (Vv)