Biro Keamanan Publik Shanghai Mengeluarkan 10 Larangan, “Pemeliharaan Stabilitas” Meningkat Setelah Tentara Ditempatkan

Shanghai ditutup selama hampir dua minggu, dan orang-orang meminta bantuan dan aksi protes digelar online. Setelah pihak berwenang mengerahkan pasukan ke Shanghai, pemeliharaan stabilitas ditingkatkan. Biro Keamanan Publik Shanghai baru-baru ini mengeluarkan sepuluh larangan, melarang boikot epidemi. Orang-orang berkata secara blak-blakan: "Pejabat memaksa rakyat untuk memberontak, berapa lama orang-orang bisa menanggungnya?"

Pada 11 April 2022, seorang petugas pencegahan epidemi berjalan melewati mobil polisi di sebuah jalan di Distrik Jing'an, Shanghai. (HECTOR RETAMAL/AFP via Getty Images)

Luo Tingting

Pada 13 April, Biro Keamanan Publik Kota Shanghai mengeluarkan “Pemberitahuan tentang Penguatan Lebih Lanjut Manajemen Ketertiban Sosial Selama Pencegahan dan Pengendalian Epidemi”, yang mencantumkan sepuluh perilaku terlarang. Termasuk: orang-orang di zona kontrol tertutup, meninggalkan rumah mereka tanpa izin selama periode manajemen tertutup. Sedangkan orang-orang di zona kontrol tertutup dan zona kontrol meninggalkan area perumahan tanpa izin atau melakukan kegiatan berkumpul selama periode pemantauan kesehatan rumah. 

Larangan tersebut juga mencakup: mencegah orang-orang di area tersebut memasuki area tertutup dan terkontrol tanpa izin. Kemduian dilarang dengan sengaja menghancurkan magnet pintu dan segel untuk masuk dan keluar tanpa izin, menolak menerima pengujian asam nukleat dan pengujian antigen, infeksi positif menolak menerima perawatan isolasi, serta mengarang dan dengan sengaja menyebarkan informasi palsu terkait epidemi, menggunakan sertifikat palsu uji asam nukleat palsu atau izin jalan.

Pengumuman di atas diejek oleh banyak netizen: “Apa yang harus dicegah? Apakah untuk mencegah warga tidak bisa makan dan tidak diizinkan keluar?” “Ini untuk memperkuat kontrol Weibo untuk menyebarkan situasi nyata warga Shanghai! !

Beberapa netizen dengan blak-blakan mengatakan: “Pemerintah memaksa rakyat untuk memberontak, berapa lama rakyat bisa menanggungnya?”

Saat ini, situasi epidemi di Shanghai masih meningkat, dan jumlah orang yang terinfeksi terus melonjak tinggi. Menurut laporan resmi, pada 13 April, ada 27.719 kasus baru di Shanghai, sebagai angka tertinggi baru. Karena selama ini partai Komunis Tiongkok menutupi wabah , dunia luar mempertanyakan bahwa jumlah sebenarnya dari infeksi mungkin jauh melebihi angka resmi.

Chen Zhengming, seorang profesor penyakit menular di Universitas Oxford, mengatakan kepada BBC bahwa situasi di Shanghai kali ini sangat sulit, dan tantangannya di luar imajinasi. Walaupun sudah membangun banyak rumah sakit Fancang masih tidak bisa mengatasi.

Dia juga mengatakan bahwa sebagian besar orang yang terinfeksi  dilaporkan oleh pejabat Shanghai tidak menunjukkan gejala, dan hanya ada sedikit pasien yang menunjukkan gejala. Pendekatan ini,  berbeda dari praktik internasional, dapat dengan mudah menyebabkan kesalahpahaman dan meremehkan tingkat keparahan epidemi.

Meskipun pejabat Shanghai belum secara terbuka melaporkan kematian akibat virus tersebut, Wall Street Journal mengungkapkan pada 6 April bahwa setidaknya 20 orang lanjut usia telah meninggal dunia di Rumah Sakit Perawatan Lansia Donghai dalam beberapa pekan terakhir, menurut beberapa anggota keluarga. Selain itu, banyak panti jompo di Shanghai telah mengalami epidemi, dan jumlah orang yang terinfeksi terus meningkat.

Karena epidemi di Shanghai terus memburuk, penghapusan kasus nol pencegahan epidemi oleh partai Komunis Tiongkok, telah menyebabkan bencana dalam mata pencaharian masyarakat.  Banyak warga yang kehabisan makanan dan obat-obatan dan meminta bantuan secara online. Baru-baru ini, dalam sebuah video yang beredar di media sosial, warga di Distrik Baoshan, Shanghai, kehabisan makanan, dan warga mengetuk pot dan berteriak “Kami perlu bahan persediaan”.

Video lain menunjukkan seorang bayi di distrik Baoshan Shanghai dengan demam tinggi, dan setelah berjam-jam bernegosiasi dengan staf pencegahan epidemi, seorang ibu yang marah mencaci-maki pihak berwenang karena tidak manusiawi.

Ada juga rekaman panggilan telepon. Di Kota Malu, Jiading, Shanghai, seorang pria kehabisan makanan. Orangtua yang tinggal bersamanya minum air selama sehari. Orangtua itu kelaparan dan pingsan. Meminta bantuan kepada pemerintah, tetapi tidak digubris.

Personel pencegahan epidemi di Shanghai juga menjadi korban dari kebijakan nol kasus. Banyak orang berada di bawah tekanan dan dilema. Rekaman telepon yang diposting di internet mengungkapkan bahwa dua pejabat komite menghadapi warga yang putus asa sembari menangis tersedu-sedu.  Dan, ada  staf komite lingkungan kewalahan dan mengundurkan diri secara kolektif.

Menanggapi kerusuhan sosial yang mungkin disebabkan oleh lockdown secara ekstrem, 50.000 polisi Shanghai  dikirim untuk melakukan “pencegahan dan pengendalian sosial, pencegahan dan pengendalian masyarakat, dan manajemen lalu lintas.”

Zhang Yahong, wakil direktur Biro Keamanan Publik Kota Shanghai, mengatakan pada konferensi pers pada tanggal 4 bahwa polisi Shanghai “secara ketat melakukan pekerjaan penutupan dan kontrol masyarakat dengan baik”, dan melalui pembentukan tim inspeksi jaringan, penerapan “tidak ada pergerakan orang, tetap di rumah” dan seterusnya.

Tidak hanya itu, pihak berwenang juga menerjunkan sejumlah besar tentara dan polisi bersenjata ke stasiun di Shanghai pada larut malam untuk “menjaga stabilitas” saat memerangi epidemi.

Video dan gambar yang diposting di Weibo menunjukkan bahwa sejumlah besar tentara tiba di Bandara Hongqiao Shanghai dengan pesawat angkut militer “Yun-20”, dan beberapa tentara memasuki Shanghai dengan kereta api, bus, dan truk militer.

Beberapa penduduk Shanghai memposting gambar dan teks online yang mengatakan bahwa, beberapa komunitas telah diambil alih oleh tentara, dan polisi bersenjata dengan senjata berjaga untuk mencegah orang keluar.

Sebuah video yang dirilis oleh warga Shanghai menunjukkan bahwa pada malam 12 April, di Jiufuyuan, Distrik Songjiang, Shanghai, warga berkumpul untuk meminta perbekalan, dan mobil polisi ditempatkan di tempat kejadian. Polisi berjas pelindung putih berbaris, siap untuk mengintimidasi. “Penjaga putih” ini tidak memasang tanda apa pun, tetapi mereka berdiri dengan postur yang sama, dengan jelas menunjukkan bahwa mereka terlatih. (hui)