Wanita Shanghai Dipukul Polisi Saat Keluar Berobat Tenggorokan yang Terluka Akibat Uji Asam Nukleat

Mrs. Zhou, wanita warga Komunitas Dajingeng, Distrik Changning, Shanghai yang berusia 61 tahun justru dipukuli polisi komunitas saat mau berobat tenggorokannya yang tertusuk pada saat tes asam nukleat sehingga terjadi pendarahan pada 9 April. (Disediakan oleh narasumber/Epoch Times)

oleh Li Xi

Konflik kepentingan antar warga dengan petugas lapangan lockdown kerap terjadi setelah otoritas menerapkan pembatasan kegiatan masyarakat yang sangat ketat di Kota Shanghai. Pada 15 April, seorang wanita warga Shanghai menyampaikan kepada reporter ‘Epoch Times’ pengalaman pribadinya yang mendapat perlakuan kasar dari polisi komunitas karena keluar rumah untuk berobat tenggorokannya yang terluka pada waktu menjalani tes asam nukleat

Mrs. Zhou : “Sifat brutal manusia lebih mengerikan ketimbang wabah”

Mrs. Zhou, wanita warga Komunitas Dajingeng, Distrik Changning, Shanghai yang berusia 61 tahun, tenggorokannya tertusuk pada saat tes asam nukleat 9 April, sehingga terjadi pendarahan. 

Tanpa diduga, di saat hendak pergi berobat, Mrs. Zhou dipukul oleh polisi di komunitas dengan alasan menjalankan tugas mencegah penyebaran epidemi. Akibatnya, kedua tangannya, wajah sebelah kiri, dan sendi lutut kedua kakinya terjadi lebam dan memar.

Insiden itu disebabkan oleh luka tenggorokan tak disengaja saat tes asam nukleat

Pada 9 April sekitar pukul 19.00, Mrs. Zhou yang tenggorokannya masih terus berdarah, sejak tertusuk alat tes asam nukleat siangnya bermaksud pergi ke rumah sakit terdekat untuk melakukan perawatan. Tetapi Satpam gerbang yang mengetahuinya, meminta Mrs. Zhou untuk mendatangi saja komite lingkungan (setara Rukun Tetangga) untuk meminta perawatan dari tim medis tes asam nukleat daripada harus keluar komunitas. Tetapi mereka sudah meninggalkan ruang praktek karena selesai tugas.

Ketika Mrs. Zhou hendak kembali ke tempat tinggalnya, Wu Yi, seorang petugas polisi dari Kantor Polisi Jalan Xianxia di Distrik Changning, kebetulan muncul. Pada saat ini, seorang sukarelawan pria menunjuk ke arah Wu Yi sambil berkata kepada Mrs. Zhou : “Coba saja cari dia”. Lalu Mrs. Zhou secara spontan menjawab : “Dia kan bukan dokter. bagaimana menangani pendarahan”. Rupanya ucapan ini menimbulkan amarah Wu Yi.

Kedua belah pihak lalu bentrok selama percakapan. Wu Yi meminta seorang sukarelawan wanita untuk merekam video kejadian ini lewat ponsel, dan Mrs. Zhou juga mengeluarkan ponsel untuk merekam gambar situasi yang terjadi. Saat itu, Wu Yi mulai berbicara lebih cepat dan memperingatkan Mrs. Zhou, ketika Mrs. Zhou lengah, Wu Yi dengan cepat menjatuhkan badan  Mrs. Zhou lalu memborgolnya. Insiden ini menyebabkan kacamata yang dikenakan Mrs. Zhou jatuh dan pecah.

Kemudian, Wu Yi yang menduduki badan Mrs. Zhou, menjambak rambutnya sampai kepala Mrs. Zhou bergesek di tanah, sambil berteriak : “Hari ini, di depan mata banyak orang saya menunggangi badan untuk menghina kamu. Saya memperlakukan kamu sebagai binatang, mulai sekarang siapa pun dapat memperlakukan kamu seperti ini. Jika kamu berani melawan, maka saya akan bersikap lebih kasar, bahkan membuat kamu mati setiap saat …”

Wu Yi juga merampas ponsel Mrs. Zhou dan menghapus semua rekaman video.

Pada saat ini, Polisi Wu menelepon kantor dinasnya minta agar Mrs. Zhou ditangkap. Setelah polisi tiba di tempat kejadian, mereka pertama-tama memeriksa ponsel Mrs. Zhou apakah berisi rekaman dari tindakan Wu Yi saat menegakkan hukum. Setelah memastikan semua rekaman sudah terhapus, polisi membanting ponsel Mrs. Zhou ke tanah.

Mrs. Zhou mengatakan : “Pada saat itu, seorang wanita sesama komunitas yang tidak saya kenal berjalan menghampiri Wu Yi dan berkata kepadanya : Sama-sama di komunitas ini, mengapa Anda melakukan hal seperti itu terhadapnya ? Jika dia memang berbuat salah, Anda bisa bicara secara baik-baik, membujuknya untuk segera pulang, tidak perlu melakukan kekerasan seperti itu, aku benar-benar tidak tahan melihatnya …”

Setelah Mrs. Zhou dibawa ke kantor polisi Jalan Xianxia, ​​petugas di kantor polisi itu mengatakan : “Ini belum bisa dikategorikan sebagai pemukulan, karena dia tidak menggunakan kepalan tangannya untuk memukul badan kamu, yang dia lakukan adalah mencoba untuk menguasai kamu”. Kantor Polisi Jalan Xianxia juga menolak memberikan surat keterangan pemeriksaan termasuk mengeluarkan rekam medis.

Atas desakan Mrs. Zhou, pada 11 April, dia kembali mendatangi kantor polisi Xianxia untuk meminta transkrip tetapi isi transkrip tidak sesuai dengan pernyataannya. Karena itu Mrs. Zhou menolak menandatangani. Kemudian setelah dilakukan beberapa revisi, polisi hanya memperlihatkan file elektronik kepada Zhou tetapi tidak mau memberikan hard copy-nya.

Reporter yang menelepon Kantor Polisi Jalan Xianxia di Distrik Changning, Shanghai mendapat jawaban dari polisi yang menerima sambungan telepon, “Karena hari itu bukan saya yang bertugas, sehingga saya tidak tahu tentang hal itu.”

Ketika reporter kembali menelepon Kantor Polisi Jalan Xianxia untuk berbicara dengan polisi bernama Wu Yi, telepon itu sudah tidak dapat terhubung.

Kepada reporter ‘Epoch Times’ Mrs. Zhou mengatakan : “Wabah memang mengerikan, tetapi sifat brutal manusia lebih mengerikan daripada wabah.” (sin)