Kementerian Pertahanan AS dan Inggris : Perang di Ukraina Telah Melemahkan Kekuatan Pasukan Rusia

Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin dan Menteri Luar Negeri AntBlinken bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Kyiv pada hari Minggu (24 April). (Kantor Pers Kepresidenan Ukraina via Getty Images)

oleh Xu Jian

Pada Selasa 26 April, sebelum pertemuan puncak NATO juru bicara Pentagon John Kirby mengatakan bahwa kekuatan pasukan Rusia telah melemah dalam perangnya di Ukraina

Pentagon : Kekuatan pasukan Rusia telah melemah

Juru bicara Pentagon John Kirby mengatakan Rusia adalah pasukan yang kekuatannya lemah, dan mereka sekarang adalah negara yang lebih lemah, mereka telah berulang kali mengisolasi diri. Dan, pihaknya berharap Rusia tidak lagi dapat mengancam negara tetangganya di masa mendatang. Hal demikian disampaikannya  kepada CNN dalam sebuah wawancara.

Kirby lebih lanjut mengatakan bahwa ekonomi Rusia sedang berada dalam keadaan berantakan, dalam banyak hal militer mereka semakin terkuras kekuatannya, dan mereka pasti menderita korban yang tidak sedikit dalam invasi ke Ukraina.

Rusia dan Ukraina sulit mencapai kesepakatan damai, perang telah berubah menjadi perang gesekan yang sengit,  Amerika Serikat dan sekutunya mulai mengkomunikasikan tujuan perang jangka panjang yang baru : untuk sepenuhnya mengalahkan Rusia di medan perang sehingga tidak bisa lagi melancarkan serangan serupa.

CNN melaporkan bahwa pejabat administrasi Biden sebelumnya pernah menyebutkan gagasan serupa yaitu, menginginkan kekuatan Rusia menurun setelah perang, tetapi Amerika Serikat enggan menjelaskan bahwa tujuan Amerika Serikat dan sekutunya adalah untuk melihat Rusia gagal, tetapi untuk mempertahankan netralitas militer jangka panjang, tetap optimis tentang mencapai penyelesaian yang dinegosiasikan.

Laporan itu mengatakan bahwa dalam beberapa minggu terakhir, Amerika Serikat telah mengalami pergeseran strategis. Ketika senjata Barat kelas atas dikirim ke Ukraina, Barat menjadi lebih toleran terhadap eskalasi.

Kementerian Pertahanan Inggris : Sekitar 15.000 tentara Rusia tewas dalam pertempuran

Media Inggris ‘Independen’ dan lainnya melaporkan bahwa Kementerian Pertahanan Inggris percaya bahwa, tentara Rusia yang tewas dalam pertempuran di Ukraina sejauh ini mencapai sedikitnya 15.000 orang.

Ben Wallace, Menteri Pertahanan Inggris mengatakan kepada anggota parlemen Inggris : “Penilaian kami adalah jumlah tentara Rusia yang tewas dalam serangan itu adalah sekitar 15.000 orang.”

Selain begitu banyak tentara yang gugur dalam perang, Rusia juga menderita kerugian peralatan. Menurut sumber terpercaya, bahwa lebih dari 2.000 unit kendaraan lapis baja Rusia telah dihancurkan atau dirampas Ukraina.

Ketika konflik Rusia-Ukraina memasuki bulan ketiga, perang tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Pada Senin, ada 5 stasiun kereta api di Ukraina tengah dan barat dibom pasukan Rusia. Pejabat setempat mengatakan bahwa seorang pekerja kereta api tewas dan 4 orang lainnya terluka.

Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) saat ini sedang bekerja sama dengan jaksa Eropa untuk menyelidiki tuduhan kejahatan perang yang dilakukan Rusia selama invasi ke Ukraina.

Pergeseran strategis dalam pemerintahan Biden

CNN mengutip ucapan juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS pada Selasa 26 April, memberitakan bahwa pernyataan Austin konsisten dengan tujuan AS baru-baru ini, yakni untuk menjadikan invasi ini sebagai kegagalan strategis bagi Rusia.

“Itulah alasannya mengapa kami mempersenjatai Ukraina untuk mempertahankan diri dari serangan Rusia, kami secara langsung menjatuhkan sanksi dan kontrol ekspor kepada industri pertahanan Rusia, yang tujuannya adalah untuk melemahkan kekuatan ekonomi dan militer Rusia agar mereka tidak lagi mengancam dan menyerang negara tetangganya,” kata juru bicara tersebut.

“Kami ingin melihat kekuatan Rusia melemah ke titik di mana ia tidak dapat lagi menyerang Ukraina”, kata Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin kepada wartawan setelah kunjungan ke Kyiv pada Senin.

Tidak mencari kemenangan jangka pendek tetapi strategi jangka panjang

CNN mengutip ucapan dari seorang diplomat Inggris memberitakan bahwa Rusia tidak akan berhenti setelah merebut sebagian Ukraina, seperti halnya tidak akan berhenti setelah Rusia mencaplok Krimea pada 2014.

Diplomat tersebut mengatakan bahwa bahkan jika solusi sementara tercapai, seperti memberi Rusia bagian dari Donbas, itu paling hanya sebuah “kemenangan jangka pendek”. “Dalam hal ini, ingin keluar dari medan perang tentu bukan semata meraih kemenangan jangka pendek — Jadi ini juga menjadi sebuah strategi jangka panjang,” katanya.

Pejabat sekutu AS dan Barat mengatakan kepada CNN bahwa semakin sadar pejabat AS dan Barat menyadari bahwa Rusia harus membayar harga yang mahal, terutama setelah pembantaian warga sipil di Bucha, Ukraina — pukulan ekonomi yang melumpuhkan dan kerugian di medan perang. Itu caranya untuk membuat Rusia untuk selamanya menghentikan agresi.

“Rusia telah kehilangan banyak kemampuan militernya, Tetapi terus terang, Rusia masih memiliki banyak pasukan. Kami berharap mereka tidak bangkit dalam waktu pendek,” kata Lloyd Austin.  (sin)