Studi Menemukan: Tidur dalam Kamar Bercahaya Redup pun Meningkatkan Risiko Kesehatan

Erabaru.net. Banyak orang suka tidur dengan menyalakan cahaya redup bahkan terang, tetapi sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Northwestern di Amerika Serikat menemukan bahwa meskipun tidur dengan cahaya yang tidak terlalu terang, hanya dalam satu malam saja sudah cukup untuk mengganggu hingga merusak fungsi pengaturan (regulatory function) antara hiperglikemia (gula darah) dengan sistem kardiovaskular, yang mana akan meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan masalah pada metabolisme di waktu mendatang.

Memang benar bahwa sulit untuk sepenuhnya menghindari cahaya di lingkungan tempat tidur pada malam hari. Terkadang cahaya itu merupakan penerangan lampu malam dalam rumah. Tetapi studi menemukan bahwa hingga 40% orang tidur dengan menyalakan lampu meja di samping tempat tidur atau lampu kamar, atau TV yang masih tetap menyala. Meskipun ada yang tidur dengan tanpa menyalakan lampu, terkadang sulit untuk menghindari sumber cahaya yang berasal dari luar rumah, terutama di daerah perkotaan besar.

Para ilmuwan Pusat Pengobatan Tidur dan Ritme Sirkadian di Northwestern University Feinberg School of Medicine AS menemukan bahwa sekitar 5% hingga 10% cahaya di sekeliling akan masuk ke mata melalui kelopak mata yang terpejam.

Meskipun dengan cahaya redup, gelombang lambat cahaya yang masuk dan reaksi dari gerakan bola mata yang cepat tetap dapat mengganggu istirahatnya mata, di mana sebagian besar pergantian sel terjadi. Jadi cahaya lampu redup itu juga dapat meningkatkan denyut jantung, meningkatkan resistensi insulin, menyebabkan ketidakseimbangan pada saraf simpatik, dan sistem saraf parasimpatis yang mengatur istirahat dan relaksasi. Oleh karena itu orang yang sehat sekalipun tekanan darahnya dapat menjadi lebih tinggi.

Ilmuwan Universitas Northwestern mengatakan bahwa cahaya di siang hari dapat mengaktifkan sistem saraf simpatik untuk meningkatkan detak jantung, meningkatkan kewaspadaan untuk menghadapi tantangan, efek serupa juga muncul di saat orang tidur malam dalam ruang yang bercahaya.

Studi dengan melakukan pengujian efek tidur terhadap peserta yang tidur dalam ruang bercahaya dengan tingkat pencahayaan atau iluminasi sedang (100) dan tingkat iluminasi rendah (3) selama 1 malam. Para peneliti menemukan bahwa orang yang tidur dalam ruang dengan pencahayaan yang sedang saja, tubuh akan masuk ke dalam keadaan waspada lebih tinggi yang mampu memicu peningkatan aktivitas sistem saraf simpatik. Dalam keadaan ini, jantung akan berdetak lebih cepat, kontraktilitas jantung juga akan meningkat, yang akan mempercepat pengiriman darah beroksigen mengalir ke seluruh tubuh.

Pengaruh dari jantung berdetak lebih cepat ternyata tidak kecil. Para ilmuwan menjelaskan, bahwa detak jantung dan sistem kardiovaskular biasanya akan menurun di malam hari dan lebih aktif di siang hari. Ketika seseorang tidur dalam ruangan yang cukup terang, detak jantung akan tetap tinggi karena sistem saraf otonom terpicu untuk beraktivitas meskipun yang bersangkutan sudah tertidur lelap. Sejumlah penelitian telah menemukan bahwa peningkatan detak jantung di malam hari merupakan faktor risiko dari penyakit jantung dan kematian dini di masa mendatang.

Selain itu, orang yang tidur dalam ruangan yang terang juga akan menemui fenomena resistensi insulin pada keesokan harinya. Resistensi insulin adalah kejadian dimana sel-sel di otot, lemak, dan sel dalam sel hidup tidak merespons insulin dengan baik, dan tidak mampu mengolah glugosa (gula) dalam darah untuk menjadi energi, sehingga pankreas yang memproduksi energi, seiring berjalannya waktu, gula dalam darah akan bertambah banyak dan menumpuk.

Hiperglikemia (peningkatan kadar gula dalam darah hingga di atas normal) adalah penanda terjadinya resistensi insulin. Hal mana berarti bahwa tubuh telah kurang berhasil atau berhenti mengolah energi dengan menggunakan glukosa, sehingga pankreas yang dipicu untuk bekerja lebih keras yang pada akhirnya telah menimbulkan ketidakseimbangan.

Penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa resistensi insulin dapat menimbulkan penyakit diabetes tipe 2. Dalam penelitian sebelumnya juga menemukan bahwa kelebihan berat badan atau obesitas banyak orang itu juga dikarenakan tidur dalam ruangan yang bercahaya. Penelitian itu menunjukkan bahwa cahaya mempengaruhi kemampuan tubuh dalam mengolah glukosa.

Para peneliti mengatakan bahwa selain tidur, nutrisi dan olahraga, cahaya di siang hari juga merupakan faktor penting yang mempengaruhi kesehatan manusia. Penelitian ini memberitahu kita agar sedapat mungkin menghindari penerangan cahaya di malam hari, bahkan jika berada dalam lingkungan yang tidak terlalu terang sekalipun.

Ingat ! cahaya bisa merusak fungsi normal jantung dan endokrin. Jika Anda terpaksa harus menyalakan lampu, para peneliti menyarankan, selama ada cukup pencahayaan yang memungkinkan Anda melihat keadaan sekeliling, itu saja sudah tergolong terlalu terang lho !(sin/yn)

Sumber: aboluowang