Aku Tidak Menyukai Menantu Laki-lakiku Karena Miskin, Suatu Hari Aku Mendengar Percakapan Menantuku dengan Putriku, dan Aku Menangis

Erabaru.net. Aku adalah seorang wanita tua yang telah hidup bertani sepanjang hidup. Aku telah melahirkan sepasang anak, dan sekarang mereka semua memiliki keluarga kecil mereka sendiri. Suamiku meninggal karena kanker pada usia 43 tahun. Saat itu, putriku baru saja menyelesaikan sekolah menengah pertama dan putraku masih di sekolah dasar. Semua beban aku pikul sendirian, dan kadang-kadang benar-benar membuat aku hampir putus asa.

Putriku adalah anak yang bijaksana. Untuk mengurangi beban keluarga, putriku berhenti sekolah dan pergi bekerja di ke kota bersama saudaranya untuk bekerja. Dia pergi bekerja di pabrik garmen. Setiap bulan, putriku akan mengirim uang ke rumah, dan aku tidak perlu khawatir tentang biaya sekolah putraku.

Aku tahu bahwa putriku telah bekerja sangat keras di luar, dan aku selalu merasa sangat bersalah padanya. Aku selalu mengatakan kepada putraku untuk belajar keras, dan jika dia hidupnya baik di masa depan, dia harus mengingat kebaikan kakak perempuannya.

Putraku diterima di universitas tahun itu, dan aku sangat senang bahwa desa menyiapkan pesat untuk keluarga kami untuk merayakan keberhasilan putraku, mereka mengatakan bahwa putraku adalah kebanggaan desa kami.

Biaya kuliah putraku semuanya berasal dari uang yang dikirim putriku. Kesehatanku juga tidak baik dan aku tidak dapat melakukan pekerjaan berat. Pada dasarnya seluruh kebutuhan keluarga ditanggung oleh putriku. Dia tidak menyimpan uang sama sekali dan semua uang yang dia hasilkan akan dikirim ke rumah.

Ketika putraku berada di tahun ketiga, putriku pulang membawa pacarnya, yang berasal dari provinsi lain. Aku mendengar bahwa kampung halamannya berada di pegunungan terpencil dan lebih miskin dari kami. Aku sangat menentang hubungan mereka. Putriku telah sangat menderita. Jika dia menikah dengan pria miskin, bukankah dia akan menjalani kehidupan yang sulit dalam seumur hidupnya? Putriku juga tidak terlalu jelek. Dengan kondisinya, dia bisa menemukan keluarga menantu yang baik di sini. Bagaimanapun, dia lebih kaya daripada pacarnya saat ini.

Aku mencoba yang terbaik untuk membujuk putriku untuk putus dengannya. Aku meminta seseorang untuk memperkenalkan dia ke keluarga kaya lain, tetapi putriku tidak mendengarkan saranku. Aku tidak bisa mencegahnya lagi, jadi aku harus membiarkan dia pergi. Setelah mereka menikah, mereka bekerja bersama. Mereka jarang kembali, dan bahkan jarang meneleponku. Aku sangat marah. Aku merasa bahwa itu semua adalah karena menantuku.

Setelah lulus kuliah, putraku juga pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Dia bekerja selama dua tahun di kota, dam dia menemukan seorang istri di sana. Menantu perempuanku berasal dari kota besar. Aku tahu menantu perempuanku tidak menyukaiku, jadi aku tidak ingin mengganggu kehidupan mereka, selama mereka hidup dengan baik.

Aku hidup sendirian di rumah tua yang bobrok, dan putraku mengirimi beberapa juta setiap bulan untuk kebutuhan hidupku. Dua tahun kemudian, putriku dan menantuku membeli sebuah rumah di kota, yang cukup besar. Menantuku mengatakan bahwa kampung halaman mereka terlalu terpencil, dan akan merepotkan anak-anak untuk belajar di masa depan, sehingga mereka memilih untuk membeli rumah di kota sehingga mereka dapat merawatku di masa depan. Mendengarkan kata-kata menantuku, tiba-tiba saya merasa sangat tersentuh. Saya tidak berharap dia begitu perhatian padaku.

Setelah putriku melahirkan, putriku dan menantuku tidak lagi pergi ke luar kota. Menantu laki-lakiku adalah seorang teknisi yang memperbaiki mesin, jadi mereka dengan cepat menemukan pekerjaan. Keluarga mereka akhirnya memiliki pijakan yang kuat di sini, dan aku merasa lebih lega.

Selama waktu itu, saya selalu sakit punggung dan merasa sangat lelah. Saya menelepon putriku, dan putriku meminta suaminya menjemput aku untuk menemui dokter di kota. Setelah mengunjungi dokter, menantu laki-lakiku kemudian membawaku ke rumah barunya. Ternyata mereka sudah menyiapkan kamar untukku, mengatakan bahwa itu disediakan untukku. Sungguh menantu yang luar biasa! Tinggal bersama mereka, aku tidak begitu kesepian lagi.

Malam pertama tinggal di rumah putriku, aku tidak bisa tidur. Aku bangun di tengah malam untuk pergi ke kamar mandi. Ketika aku melewati kamar putriku, aku mendengar suara putriku dan menantuku sendang ngobrol, ini sudah larut, mengapa mereka belum tidur?

Saat ini, aku mendengar menantuku berkata: “Kesehatan ibu tidak baik, jangan biarkan dia melakukan pekerjaan di rumah di masa depan, dia telah bekerja keras sepanjang hidupnya, dia harus istirahat sekarang, kita menjemputnya untuk membuatnya bahagia, gajiku sudah naik dan mampu menghidupi keluarga ini, kamu tidak perlu pergi bekerja lagi. Kamu dapat menghabiskan lebih banyak waktu dengan ibu di rumah.”

Mendengar percakapan mereka, aku menangis dan dipenuhi dengan emosi. Ketika aku kembali ke kamar, aku terombang-ambing dengan pikiranku dan tidak bisa tidur. Aku tidak berharap bahwa ketika aku menjadi tua, aku akan bergantung pada menantu laki-laki saya yang dulu tidak saya sukai. Aku benar-benar malu. Putri saya benar-benar memilih orang yang tepat. Saya berharap mereka akan hidup bahagia selamanya.(lidya/yn)

Sumber: uos.news