Berita Sepekan : Beijing Menarik Orang-orang ke Pusat Karantina, Shanghai Terus Mengontrol Warga Hingga Rakyat Menuntut Pertanggungjawaban Pejabat

Orang-orang mengantre untuk tes asam nukleat COVID-19 selama putaran baru pengujian asam nukleat di tengah kebangkitan COVID-19 di Beijing, Tiongkok, pada 11 Mei 2022. (VCG/VCG via Getty Images)

Epidemi di Beijing terus berlanjut. Kini banyak orang dibawa pergi dan dikarantina. Pihak berwenang mengakui bahwa pembersihan dinamis kota adalah “tugas yang sulit.”  Kurang  sehari setelah beberapa orang di Shanghai merayakan pembukaan lockdown, mereka jatuh ke dalam mimpi buruk manajemen tertutup. Kini, semakin banyak orang kehilangan kepercayaan kepada pihak berwenang. Mereka akhirnya menyadari watak asli dari pemerintahan partai  Komunis Tiongkok. Mereka kemudian menuntut para pejabat untuk bertanggung jawab

Menurut laporan resmi, pada 2 Juni, sebanyak 15 kasus baru virus partai Komunis Tiongkok (COVID-19) dilaporkan di Beijing, terutama di distrik Haidian dan Fengtai. Karena rezim Komunis Tiongkok menutup-nutupi wabah secara konsisten, jumlah sebenarnya dari infeksi mungkin lebih tinggi. Pihak berwenang Beijing dengan jujur ​​mengakui, bahwa pembersihan dinamis kota adalah “tugas yang sulit”.

Video yang beredar menunjukkan bahwa pada 30 Mei, beberapa komunitas ditutup dan banyak orang dibawa untuk diisolasi.

Nona Tian, ​​​​seorang penduduk Distrik Fengtai Beijing, berkata, “Rumah Singa Merah telah didiagnosis. Sekarang ini adalah area tertutup, Anda tidak bisa masuk, Anda tidak bisa keluar.”

Dilaporkan bahwa penghuni Rumah Singa Merah dibawa ke asrama universitas yang ditinggalkan di Baoding untuk diisolasi.

Di bawah tekanan tinggi, aparat partai komunis Tiongkok telah melonggarkan pembatasan di permukaan, tetapi lockdown parsial  masih berlaku.

Pada 1 Juni, penduduk yang tinggal di daerah Yanjiao dekat Beijing dilarang pergi bekerja di Beijing, hingga memicu terjadinya bentrokan dengan polisi.

Orang-orang di tempat kejadian berkata : “Apakah ada dokumen berkepala merah untuk menutup kota? Apa dasar Anda untuk ini? Kami ingin tes asam nukleat,  negatif,  mengapa Anda memblokir kami begitu lama. Tes Asam nukleat setiap hari, tes di komunitas setiap hari, apa tujuanmu? 

Orang-orang di tempat kejadian juga bertanya : “Kami sudah lama tidak bekerja di Beijing. Kami tidak bisa makan lagi. Kami benar-benar tidak punya uang di rumah, dan kami tidak bisa membayar hipotek.”

Saat massa membesar, pihak berwenang mengirim sejumlah besar aparat kepolisian ke tempat kejadian. Bentrokan antara polisi dan orang-orang tak terhindarkan. Ada video yang menunjukkan orang-orang ditangkap. Bahkan, dipukuli hingga jatuh tersungkur oleh beberapa petugas polisi. Seorang pria terluka dan pakaiannya robek.

Shanghai secara resmi mengklaim mencabut lockdown pada pukul 00:00 pada 1 Juni. Kecuali sekitar 650.000 penduduk di area pengendalian blokade, orang dapat dengan bebas bergerak dalam jarak tertentu. Akan tetapi, perjalanan masih menghadapi berbagai pembatasan, termasuk menaiki transportasi publik, bank, pusat perbelanjaan dan tempat umum lainnya harus menunjukkan hasil tes negatif COVID-19  dalam waktu 72 jam.

Tanpa diduga, orang-orang pada pagi hari tanggal 1 Juni beramai-ramai merayakan pembukaan Lockdown. Ternyata mulai 1 Juni itu, pemberitahuan mendesak tiba-tiba dikeluarkan di jalan-jalan banyak area Shanghai, dan  ditutup lagi. Kemudian semua orang harus menjalani tes COVID-19.

Seorang Warga Shanghai yang dikutip NTD berkata : “Sudah diblokir lagi, dan baru sehari sejak lockdown dicabut. Semuanya sudah diblokir.”

Warga Shanghai juga berkata: “Berakhir sudah. Di sebelah unit, desa kesebelas Tianlin. Itu dibuka lockdownnya pada 1 Juni, dan ditutup lagi pada 2 Juni. Sekarang setelah selesai, tapi diblokir lagi dan warga hanya bisa masuk tidak boleh keluar.”

Saat ini, empat kawasan di Pudong New Area dan Distrik Jing’an telah ditingkatkan menjadi area berisiko sedang dan manajemen  secara ketat telah diberlakukan.

Huang, seorang penduduk Shanghai, berkata, “Sebuah komunitas di Distrik Jing’an terdiagnosis positif COVID-19, mereka kemudian menyegel seluruh komunitas.  Orang-orang pun membuat keributan. Awalnya kawasan tersebut adalah area pencegahan, tetapi  ada kasus positif COVID-19, maka secara drastis akan diubah menjadi area pengontrolan dan seluruh komunitas akan disegel. Akhirnya membuat orang-orang menjadi  ribut. Setelah menjadi ramai, kawasan tersebut langsung ditutup aparat hingga gedung di sana juga ditutup. Kemudian, sekitar pukul satu atau dua tengah malam, seluruh masyarakat akan dibangunkan dan dipanggil  untuk mengikuti tes COVID-19.”

Di sisi lain, kekacauan tes COVID-19 juga meletus di Shanghai, yang baru saja membuka lockdown.

Zhong, seorang warga Shanghai mengungkapkan,  sebagian besar lockdown di kota itu telah dibuka. Akan tetapi, beberapa belum dibuka. Kemudian pada malam harinya, ia pergi ke Rumah Sakit Pusat Distrik Jing’an di dekat rumahnya untuk mengikuti tes COVID-19. Saat itu, antren sedang mengular panjang, setidaknya dua jam baru bisa selesai.  Padahal, butuh berjam-jam untuk sampai ke lokasi tersebut. Ketika Anda memasuki mal, Anda harus menunjukkan hasil tes negatif COVID-19 untuk memindai kode, dan Anda harus melakukannya. Jadi, semua orang menjadi marah ketika diharuskan melakukan tes COVID-19 yang mana terlalu merepotkan.”

Video yang beredar menunjukkan bahwa pada 1 Juni, ada antrean panjang di luar Rumah Sakit Shanghai No 6 untuk tes COVID-19. Beberapa netizen mengatakan bahwa panjangnya antrean kala itu, lebih besar dari pada Maret lalu.

Tangkapan layar sekelompok pemilik komunitas di Shanghai menunjukkan bahwa, perkelahian meledak di lokasi tes COVID-19 di Ningxia Road. Perkelahian di lokasi inspeksi Jalan Zhenping bahkan lebih kejam, hingga ada yang terluka di bagian kepalanya. .

Pada hari yang sama, “Tempat Pengumpulan tes Asam Nukleat Normalisasi Jinlu” yang terletak di Jalan Changfeng, Distrik Putuo, gara-gara  persiapan yang tidak memadai, mengakibatkan orang-orang mengantre dengan sia-sia tetapi tidak dapat melakukan tes COVID-19. Bahkan, ada seorang warga yang marah membalikkan meja. Ia kemudian dihukum polisi dengan sanksi administrasi.

Pada saat yang sama, otoritas Shanghai menyatakan bahwa layanan pengujian di titik pengujian asam nukleat yang dinormalisasi akan digratiskan hingga 30 Juni. Tidak ada pemberitahuan resmi tentang berapa biaya tes asam nukleat setelah itu. Jika memang ingin memungut biaya, lagi-lagi kembali membebani rakyat.

Banyak netizen mengeluh di Internet dengan menuliskan : “Saya berharap pertanggungjawaban pejabat Shanghai yang menyebabkan epidemi serius ini akan segera datang.” Ada lagi yang menulis : “Yamen di ibukota ajaib harus dilikuidasi!”

Banyak penduduk Shanghai mengatakan bahwa penutupan kota, menyebabkan orang-orang Shanghai kehilangan kepercayaan kepada pihak berwenang.  Mereka akhirnya mengetahui dengan jelas tentang pemerintahan Tiongkok yang sebenarnya.

Ms. Huang, seorang penduduk Shanghai berkata : “Bencana sekunder yang disebabkan oleh penutupan kota terlalu serius. Banyak orang-orang  berpikir untuk menuntut mereka karena  melalaikan tanggung jawab mereka. Banyak orang telah meninggal dunia ? ! Bencana sekunder Orang yang meninggal dunia, orang yang melompat dari gedung hingga orang yang mati kelaparan.”

Setelah penutupan Shanghai, bencana sekunder terus-menerus meluas, termasuk rumah sakit yang memerlukan hasil pengujian tes COVID-19 untuk perawatan medis, sehingga mengakibatkan kematian banyak orang yang sakit akut dan sakit parah tanpa pengobatan. Termasuk pengelolaan komunitas yang tertutup dalam jangka panjang telah menyebabkan kematian orang tua dan janda yang kesepian. Lainnya ada kasus penduduk nekat melompat dari gedung karena tekanan mental, keuangan atau depresi. Pada saat yang sama, berbagai kegiatan ilegal juga merebak. 

Zheng, seorang penduduk Shanghai, berkata, “Sesuatu yang disumbangkan dari tempat lain dijual kembali, dan mereka melakukan pembelian kelompok. Mereka tidak akan membiarkan orang lain membeli makanan. Pada akhirnya, seperti yang ia katakan sebelumnya, mereka boleh membakar, tapi kamu  tidak bisa menyalakan lampu.” (hui)

Laporan komprehensif oleh Liang Dong dan Han Fei dari NTD News