Biden Bebaskan 4 Negara Asia Tenggara dari Tarif Impor Panel Surya Selama 2 Tahun

Gedung Putih pada Senin 6 Juni mengumumkan bahwa Presiden Amerika Serikat Joe Biden membebaskan panel surya dari empat negara Asia Tenggara dari tarif impor selama dua tahun. Biden juga meminta Undang-Undang Produksi Pertahanan (Defense Production Act) untuk merangsang produksi panel surya domestik di Amerika Serikat.

Pabrik panel surya di provinsi Jiangsu, Tiongkok, pada 7 Januari 2022. (STR/AFP via Getty Images)

Li Yan – Epochtimes.com

Gedung Putih mengumumkan pembebasan tarif impor panel Surya untuk Kamboja, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Langkah ini berfungsi sebagai “transisi” untuk pengembangan manufaktur AS.

Kantor berita reuters sebelumnya melaporkan bahwa Biden akan membuat pernyataan yang memastikan bahwa impor panel surya, yang mencakup sekitar 80 persen dari AS, tidak lagi menghadapi tarif hingga 250 persen. Pengumuman tersebut membuat saham perusahaan tenaga surya naik.

Departemen Perdagangan AS mengumumkan pada 28 Maret lalu,  bahwa mereka akan menyelidiki apakah produsen produk panel surya Tiongkok menggunakan negara-negara Asia Tenggara untuk memproduksi produk surya  menghindari pajak AS atas produk surya mereka. Penyelidikan Departemen Perdagangan dimulai dengan keluhan terkait dari Auxin Solar, pemasok panel surya kecil.

Pejabat industri dan pemerhati lingkungan  menyuarakan keprihatinan tentang penyelidikan, yang dapat menyebabkan tarif surut hingga 250 persen. Survei tersebut pada dasarnya membuat pasokan panel surya yang menyumbang lebih dari setengah pasokan AS dan 80 persen impor akan terhenti.

Gedung Putih mengatakan pemerintah juga akan meminta Undang-Undang Produksi Pertahanan agar mendorong produsen panel surya AS di masa depan dan produk teknologi energi bersih lainnya, termasuk insulasi bangunan, pompa air panas, trafo dan peralatan seperti elektroliser dan sel bahan bakar.

“Dengan kumpulan energi bersih yang lebih kuat, Amerika Serikat dapat menjadi mitra yang lebih kuat bagi sekutu kami, terutama dalam menghadapi perang (Presiden Rusia Vladimir Putin di Ukraina,” kata Gedung Putih dalam sebuah pernyataan.

Pembebasan dari tarif membuka pintu bagi kelompok kepentingan terkait Komunis Tiongkok

Heather Zichal, kepala eksekutif American Clean Energy Association, mengatakan pengumuman Biden akan “menyegarkan kembali pembangunan tenaga surya dan manufaktur domestik dengan memulihkan prediktabilitas dan kepastian bisnis.”

Mamun Rashid, CEO Auxin Solar mengkritik langkah Gedung Putih dikarenakan membuka pintu bagi kelompok kepentingan khusus yang didanai oleh Tiongkok dan menggagalkan penerapan adil undang-undang perdagangan AS.

Pabrikan tenaga surya AS mengajukan petisi ke Departemen Perdagangan pada 8 Februari, untuk menyelidiki apakah produsen produk tenaga surya Tiongkok menggunakan negara-negara Asia Tenggara untuk menutupi asal-usul mereka, tak lain guna menghindari pajak AS atas produk tenaga surya mereka.

Auxin Solar menyebutkan bahwa produsen surya besar Tiongkok memiliki anak perusahaan di Malaysia, Thailand, Kamboja dan Vietnam. Apalagi dapat menggunakan anak perusahaan ini untuk mentransfer  manufaktur mereka yang menghindari bea penyeimbang AS dan bea anti-dumping pada produk surya buatan Tiongkok.

Departemen Perdagangan AS mengatakan akan meluncurkan penyelidikan atas tuduhan tersebut dan mengeluarkan keputusan awal dalam waktu 150 hari berdasarkan peraturan. Jika temuan penyelidikan mengkonfirmasi tuduhan perusahaan, Amerika Serikat dapat mengenakan tarif surut kepada pemasok Asia Tenggara ini.

Lebih dari selusin anggota parlemen AS bersama-sama mengirim surat kepada Menteri Perdagangan AS Gina Raimondo pada 15 Maret.  Mereka mengatakan “Amerika Serikat perlu secara komprehensif dan tegas menerapkan undang-undang perdagangan yang diterapkan.”

Anggota Kongres AS: Kebijakan ekonomi Biden adalah bencana

Setelah Biden menjabat, ia dengan penuh semangat mempromosikan pengembangan industri “energi bersih”  di Amerika Serikat, dengan harapan dapat meningkatkan produktivitas industri energi hijau di Amerika Serikat dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Pada saat yang sama, pemerintah ingin mengurangi ketergantungannya pada industri surya Tiongkok dan mengharuskan Tiongkok untuk menjaga lingkungan yang adil dan kompetitif.

Anggota Kongres AS dari  Florida, Byron Donalds mengatakan rencana ekonomi Presiden Biden adalah “bencana” bagi Amerika Serikat dan “memberdayakan partai Komunis Tiongkok.”

Donalds mengatakan dalam sebuah wawancara eksklusif di program Sunday Morning Futures Fox News pada 29 Mei bahwa Biden “menjual kami ke Komunis Tiongkok.”

Ia juga percaya bahwa meninggalkan minyak dan gas alam, demi energi terbarukan akan meningkatkan ketergantungan kepada Tiongkok. Pasalnya, Komunis Tiongkok adalah pemimpin global dalam produksi mineral dan mendominasi produksi solar wafer.

Anggota kongres Florida membuat argumen ketika inflasi AS mendekati level tertinggi dalam kurun waktu 40 tahun dan harga bensin mencapai rekor tertinggi pada hari itu. Harga makanan melonjak 1% untuk Juni ini, menandai kenaikan ke-17 bulan berturut-turut untuk indeks.

Salah satu alasan harga pangan melonjak adalah “karena pupuk merupakan turunan dari produksi minyak. 

“Anda mendapatkan pupuk dari minyak, Anda tidak bisa mendapatkan pupuk dari kincir angin. Anda tidak mendapatkannya dari panel surya.” Dia mengatakan Biden telah menerapkan “kebijakan ekonomi yang mengerikan.”

Bagi Donalds, hal demikian akan menyakiti kita di panggung dunia, bukan membantu. (hui)