Mengapa Suhu Badan Normal Orang Sekarang Konstan di 36°C+, Padahal Orang Zaman Dulu Lebih dari itu ?

Erabaru.net. Saat kurang enak badan, kita akan buru-buru mengambil termometer untuk mengukur suhu badan. Kalau suhu badan tetap berada di 36°C lebih sedikit, maka dapat dikatakan kita pada dasarnya masih sehat, tapi kalau suhu badan sudah melebihi 37°C berarti kita sedang sakit demam.

Kemudian muncul pertanyaan, mengapa suhu badan normal orang konstan berada di angka 36°C + ? Manusia adalah jenis makhluk berdarah panas, tetapi suhu badan tidak berubah dengan adanya perubahan suhu lingkungan. Tidak peduli di mana kita berada, apakah di gurun pasir Sahara yang suhu udaranya melebihi 50°C, atau di lapisan es Antartika yang suhu udaranya sampai minus 25°C, tetapi suhu badan kita selalu konstan di 36°C +.

Tentu saja, satu hal yang bisa mengubah suhu tubuh kita adalah demam. Saat kita demam, suhu tubuh kita bisa melonjak hingga di atas 37°C, bahkan terkadang mencapai 38°C hingga 39°C. Menariknya, meskipun suhu badan kita akan naik turun saat kita demam, namun dalam keadaan normal tidak akan pernah turun drastis. Mengapa ?

Alasan mengapa suhu tubuh normal orang hidup tidak turun adalah karena penurunan suhu tubuh adalah hal membahayakan.

Tubuh manusia bagaikan seperangkat mesin berukuran besar dan sangat kompleks, hanya saja bedanya antara tubuh manusia dengan mesin adalah bahwa tubuh manusia sangat rapuh. Sedangkan dalam lingkungan hidup kita penuh dengan berbagai virus. Virus-virus ini setiap hari akan masuk ke dalam tubuh kita melalui makanan, minuman, pernapasan, dan kontak.

Begitu virus memasuki sel-sel dalam tubuh kita, maka dia akan menguasai sel-sel tubuh kita itu, dan terus mereplikasi dan numpang hidup dalam tubuh kita. Dengan semakin banyaknya virus itu dalam tubuh kita, maka pertahanan tubuh kita akan runtuh.

Namun, tidak semua virus dapat bertahan hidup di dalam tubuh kita, karena virus biasanya sangat sensitif terhadap suhu, dan sebagian besar virus tidak dapat beradaptasi dengan suhu tubuh hingga 36°C.

Menurut sebuah penelitian, bahwa setiap penurunan 1°C suhu badan manusia, maka akan ada produksi tambahan sebanyak 1.500 sel kanker dalam tubuh.

Alasan kesimpulan ini adalah bahwa semakin rendah suhu badan, maka semakin banyak jenis virus dapat menyerang tubuh manusia, yang selain menimbulkan kerusakan sel-sel tubuh, juga semakin besar kemungkinannya untuk menyebabkan terjadinya mutasi sel.

Meskipun suhu badan manusia mencapai di atas 36°C, namun tidak semua virus berhasil diblokir, untungnya tubuh manusia memiliki sistem kekebalan yang dapat mengidentifikasi dan membunuh virus yang menyerang. Sistem kekebalan tubuh manusia kebetulan berlawanan dengan virus. Mereka menyukai suhu tinggi. Namun, saat virus yang menyerang terlalu kuat, dan ketika sistem kekebalan sulit mengatasinya, maka dia akan meminta bantuan ke otak, sehingga otak akan mengirimkan sinyal untuk menaikkan suhu tubuh, jadi kita demam.

Tubuh manusia melalui menaikkan suhu badan untuk mencapai 2 manfaat sekaligus yaitu membunuh virus yang menyerang dan meningkatkan kekebalan. Penelitian telah menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1°C suhu badan maka kekebalan akan meningkat 6 kali lipat.

Oleh karena itu ketika kita demam, dokter biasanya memberikan obat untuk menghilangkan peradangan atau obat antivirus sesuai dengan keadaan, tetapi tidak akan secara membabi buta memberikan obat penurunan demam.

Dalam kehidupan, kita juga akan menemukan bahwa orang dengan suhu badan rata-rata yang relatif tinggi memiliki kekebalan yang lebih kuat daripada orang dengan suhu badan yang relatif rendah.

Contohnya, orang dengan suhu badan rata-rata 36,8°C memiliki frekuensi pilek yang lebih rendah daripada mereka yang memiliki suhu badan rata-rata 36,2°C.

Jika kita berbicara tentang suhu badan yang tinggi, kita perlu menyinggung kelelawar, kelelawar itu memiliki suhu badan rata-rata 40°C, sehingga mereka tidak terinfeksi virus meskipun di badannya penuh dengan virus. Kelelawar kemudian dijuluki sebagai gudang virus yang mobile. Sekarang kita tahu mengapa suhu badan normal selalu konstan berada di atas 36°C. Apakah suhu badan manusia selalu seperti itu ? Ternyata tidak juga.

Setelah para ilmuwan mempelajari statistik catatan terkait suhu badan normal rata-rata manusia selama 200 tahun, mereka menemukan bahwa suhu badan normal rata-rata manusia ternyata berada dalam keadaan menurun.

Sekitar 200 tahun yang lalu, suhu badan normal rata-rata manusia masih bertahan di angka sekitar 37°C, tetapi sekarang telah turun menjadi lebih dari 36°C, dan suhu badan normal tidak akan melebihi 37°C. Mengapa demikian ? Apakah ini berarti kekebalan kita tidak sebaik orang zaman dahulu ? Secara teori mungkin benar, tetapi besar kemungkinan ini terkait dengan perubahan bertahap dalam gaya hidup manusia. Perubahan terbesar dalam gaya hidup manusia selama 200 tahun ini adalah secara bertahan manusia terus mengurangi kerja fisik.

Pesatnya perkembangan peradaban modern telah benar-benar mengubah cara hidup manusia.

Manusia semakin jarang berjalan kaki ketika mereka bepergian, dan semua jenis pekerjaan manual secara bertahap digantikan oleh mesin. Sekarang bahkan untuk membeli minuman saja hanya menggunakan handphone. Sedangkan pengurangan aktivitas fisik secara langsung dapat menyebabkan perlambatan laju metabolisme sel-sel tubuh, yang secara teori pasti akan menyebabkan penurunan suhu badan, karena hal ini dapat menyebabkan pengurangan jumlah energi yang dihasilkan tubuh.

Penurunan suhu badan sebenarnya berbahaya, karena menyebabkan menurunkan kekebalan tubuh manusia, oleh sebab itu manusia di zaman modern ini lebih rentan terhadap penyakit daripada manusia purba.

Misalnya, terjadi peradangan pada saluran pernapasan dianggap biasa pada orang modern. Mudah diatasi dengan minum obat anti peradangan. Namun, pada zaman dahulu yang tidak mengenal obat antibiotik, jadi mereka tidak berani menganggap infeksi saluran pernapasan adalah hal biasa, karena bisa merenggut nyawa, apalagi kalau sering-sering terjadi. Untungnya, suhu badan normal rata-rata manusia zaman dahulu lebih tinggi, sehingga kemungkinannya untuk sakit lebih kecil. (sin/yn)

Sumber: aboluowang