Aku Ingin Membawa Keponakanku untuk Tinggal Bersamaku Ketika Aku Menikah, Pacarku Memberi Aku 1 Miliar untuk Meninggalkan Keponakanku, Aku Menolaknya

Erabaru.net. Beberapa orang mengatakan bahwa ‘kakak tertua seperti seorang ayah’. Dalam hidup, ada banyak kakak laki-laki yang menyayangi adik-adiknya seperti ayah. Mereka lebih suka bekerja keras sendiri daripada membiarkan adik-adik mereka hidup sengsara.

Jika Anda memiliki kakak laki-laki dan saudara ipar yang mencintai Anda dengan segala cara yang mungkin, dan mereka meninggal dalam kecelakaan mobil beberapa tahun kemudian, meninggalkan seorang putra, apakah Anda akan mendukung keponakan Anda itu atau meninggalkannya ?

Aku dulu memiliki masa kecil yang bahagia. Ketika aku masih kecil, aku dicintai oleh kedua orangtua dan kakak laki-lakiku. Tapi, waktu aku SMP, kedua orangtuaku meninggal karena kecelakaan mobil, saat itu kakakku berumur 17 tahun.

Saat itu, tidak ada saudara yang mau menerima kami. Aku masih ingat, kakak laki-lakiku memegang tanganku dan berkata kepada saya dengan sungguh-sungguh: “Adik, jangan menangis. Dengan kakak ada di sini, kamu pasti tidak akan lapar.”

Meskipun kakakku memiliki nilai yang sangat baik di sekolah, untuk mendukungku, dia terpaksa putus sekolah dan pergi ke kota untuk bekerja. Pada saat itu, kakak laki-laki bekerja di lokasi konstruksi.

Sejak saat itu, kakakku mencintai aku seperti seorang ayah, dan mengabdikan dirinya untuk mendapatkan uang untuk studiku. Dia sangat pelit pada dirinya sendiri, tapi sangat murah hati padaku.

Suatu hari kaki kakakku cidera karena mengalami kecelakaan di lokasi konstruksi, dan aku menangis ketika melihatnya kesakitan.

Waktu itu aku tidak ingin belajar, dan aku ingin mencari uang seperti kakakku, tetapi kakakku memarahiku, dia berkata bahwa dia bekerja sangat keras hanya untuk membuat saya belajar dengan nyaman. Jika aku menyerah, orangtua kita tidak akan merasa bahagia.

Sejak saat itu, aku belajar lebih giat, hanya dengan cara ini aku dapat memenuhi keinginan kakak laki-lakiku.

Kemudian, saya diterima di universitas, tetapi ketika aku memikirkan biaya kuliah selama empat tahun di universitas, aku ingin menyerah.

Saat itu, kakakku sedang menjalin hubungan dengan seorang wanita, aku berpikir, jika kakakku terus bekerja untuk biaya studiku, aku khawatir itu akan mempengaruhi pernikahannya.

Tak disangka, kakak iparku meraih tanganku dan berkata sambil tersenyum :“Adik, kamu bisa belajar dengan tenang, jangan khawatir tentang biaya sekolah, ada aku dan kakakmu. Alasan mengapa aku ingin menikahi kakakmu, adalah karena menurutku, kakakmu adalah pria yang sangat bertanggung jawab.”

Dengan kata-kata kakak iparku, aku bisa pergi ke universitas dengan lebih tenang.

Setelah lulus dari universitas, saya tinggal di Wuhan untuk bekerja, saat itu aku hanya ingin menghasilkan uang dan membayar kembali apa yang telah diberikan kakakku kepadaku.

Aku tahu bahwa kakakku memiliki kehidupan yang sulit, jadi setelah aku bekerja, aku sering mencoba yang terbaik untuk mengirimi uang kepada mereka. Aku hanya ingin mengurangi beban kakakku.

Namun, saat aku menikmati cinta yang bahagia dengan pacarku, sebuah bencana melanda. Kakak dan ipar pergi ke pasar sayur untuk membeli makanan, mereka ditabarak mobil dan meninggal di tempat, meninggalkan keponakanku yang berusia dua tahun.

Saat itu aku merasa seperti langit akan runtuh, dan aku merasa bahwa Tuhan tidak adil. Berpikir keponakanku masih kecil dan membutuhkan perlindungan, aku mengubah kesedihanku menjadi kekuatan, dan merawat keponakanku dengan baik, sehingga kakakku dapat pergi dengan tenang.

Kemudian, aku merawat keponakanku sambil bekerja, meskipun aku sangat lelah, namun aku tidak pernah mengeluh.

Di mataku, keponakanku adalah anak yang bijaksana. Meskipun masih sangat muda, setiap hari ketika pulang dari sekolah, dia akan berinisiatif membantuku dengan pekerjaan rumah. Terkadang ketika aku lelah bekerja, keponakan saya akan mengurut punggungku, ketika aku tidak bahagia, keponakanku akan menceritakan lelucon untuk menghiburku.

Dengan keponakanku di sisiku, aku merasa bahwa hidup tidak sendirian dan aku lebih termotivasi untuk bekerja.

Dua tahun kemudian, aku dan pacarku bertunangan. Awalnya, orangtuanya ingin memberikan 200.000 yuan sebagai mahar, tetapi aku tidak meminta satu sen pun, aku hanya meminta pada mareka bahwa aku hanya ingin membawa keponakanku untuk tinggal bersamaku.

Aku pikir pacarku akan mendukungku, tetapi dia dengan tegas menentangnya. Dia bahkan menyatakan kesediaannya untuk memberi aku 500.000 yuan (sekitar Rp 1 miliar) dan membiarkan keponakanku untuk diadopsi orang lain. Pacarku mengatakan bahwa 500.000 yuan ini cukup untuk mendukung keponakanku untuk menyelesaikan kuliahnya.

Meskipun aku mencintai pacarku, aku tidak akan memberikan keponakanku kepada orang lain untuk membesarkannya. Bagaimanapun, keponakanku adalah satu-satunya darah saudaraku yang tersisa di dunia, dan aku harus merawatnya dengan baik.

Aku dengan tegas menolak untuk memberikan keponakanku, dan aku berharap pacarku akan bisa mengerti dan mendukung saya, tapi dia meminta aku untuk memilih antara dia dan keponakanku.

Karena pilihan yang sulit ini, aku memutuskan untuk putus dengan pacarku.

Pacarku mengatakan dia sangat mencintaiku, dia bisa mencintaiku seumur hidup, tapi dia tidak bisa menerima keponakanku.

Aku tidak menyalahkan pacarku. Bagaimanapun, setiap pria memiliki keegoisan. Bahkan jika aku tidak akan pernah menikah, aku akan tetap merawat keponakanku dengan baik.

Dalam hati, aku akan tetap memilih keponakanku tanpa ragu-ragu, dan aku tidak akan pernah menyesalinya.(lidya/yn)

Sumber: uos.news