Selama 5 Tahun Menikah Aku Belum Pernah Mengunjungi Orangtuaku, Ketika Aku Ingin Berkunjung, Istriku Melarang dan Aku Memutuskan untuk Cerai

Erabaru.net. Ketika Anda menikah dan menetap di tempat lain, Anda ingin kembali ke kampung halaman untuk menghabiskan Tahun Baru bersama orangtua Anda, tetapi istri Anda tidak setuju, apa yang akan Anda lakukan?

Aku telah menikah selama lima tahun dan selama Tahun Baru Imlek aku belum pernah kembali ke kampung halaman untuk mengunjungi orangtuaku. Jadi, untuk tahun ini aku berencana untuk kembali ke kampung halamanku, tetapi sikap istriku membuat aku marah, dan aku berencana untuk bercerai. Beberapa orang mungkin mengatakan bahwa aku terlalu ceroboh, tetapi aku telah terlalu dirugikan dalam lima tahun terakhir.

Kampung halamanku di desa pegunungan yang terpencil. Kedua orangtuaku adalah petani dan bekerja di lokasi konstruksi sepanjang tahun.

Meskipun keluarga kami miskin, orangtuaku tetap memilih hidup menderita sendirian dan mendukung aku untuk belajar. Aku tahu bahwa pengorbanan orangtuaku tidak mudah, jadi aku belajar dengan giat, dan kemudian aku diterima di universitas ternama.

Setelah lulus dari perguruan tinggi, aku hanya ingin bekerja keras untuk mendapatkan uang dan membuat orangtuaku menjalani kehidupan yang baik sesegera mungkin. Tetapi setelah bekerja, aku menyadari bahwa mencari uang itu sangat sulit.

Setiap kali aku kembali ke kampung halaman dan melihat orangtuaku tinggal di rumah yang bobrok, aku merasa sangat bersalah, dan aku bersumpah untuk membangunkan rumah yang megah dan luas.

Setelah bekerja selama tiga tahun, aku bisa menabung 200.000 yuan (sekitar Rp 438 juta), aku memutuskan untuk membangunkan rumah untuk orangutaku, tetapi mereka tidak setuju. Mereka mengatakan bahwa tidak mudah bagiku untuk menghasilkan uang, dan mereka meminta aku menyimpan uang itu untuk menikah.

Belakangan, terlepas dari tentangan orangtuaku, aku tetap membangun sebuah rumah berlantai dua untuk mereka.

Meskipun aku menghabiskan semua tabunganku untuk membangun rumah itu, aku tidak menyesal, selama orangtuaku hidup dengan nyaman, saya pikir itu sepadan dengan pengorbanan mereka selama ini.

Dua tahun kemudian, aku bertemu denga istriku, Xiao Yu melalui perkenalan seorang teman. Dia tinggal di ibukota provinsi, dan keluarganya sangat kaya.

Awalnya Xiao Yu yang berinisiatif mengejarku, dan aku sangat rendah diri pada awalnya. Aku merasa bahwa aku tidak layak untuknya, tetapi dengan ketulusan dan permintan Xiao Yu, kami berdua akhirnya bersatu.

Setelah satu berpacaran, kami akhirnya menikah. Saat itu, Xiao Yu yang membeli rumah dan mobil. Dapat dikatakan bahwa aku menikahi istri tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Semua teman-temanku mengatakan bahwa aku sangat beruntung, dan orangtuaku juga menyuruh aku untuk memperlakukan Xiao Yu dengan baik.

Setelah menikah, kami tinggal di ibu kota provinsi, meskipun kami terpisah dari mertua, lambat laun aku merasa bahwa Xiao Yu tidak memperlakukanku sebagai seorang suami.

Setiap kali ada tamu datang ke rumah, aku yang harus menyediakan minuman, dan Xiao Yu mengobrol dengan tamu itu dan tidak pernah membantu.

Awalnya, aku tidak peduli, tetapi lambat laun aku menemukan bahwa Xiaoyu dan keluarganya menjadi semakin berlebihan, terutama selama Tahun Baru Imlek.

Dalam lima tahun pernikahan, setiap tahun selama Tahun Baru Imlek, saudara Xiao Yu datang ke rumah, dan aku selalu menjadi juru masak, dan saudaranya menganggap aku seperti seorang pembantu, dan kadang-kadang meminta kau untuk mengambilkan teh dan air, dan kadang-kadang minta dibelikan makanan ringan dan buah-buahan. Di mata mereka, aku bertindak sebagai pelayan.

Selain itu, Xiao Yu biasanya memberi aku uang saku 500 yuan setiap bulan. Terkadang ketika uang itu sudah habis, Xiao Yu akan marah padaku, belum lagi untuk biaya hidup orangtuaku. Perlu diketahui bahwa gaji bulananku adalah 15.000, dapat dikatakan bahwa aku tidak memiliki status sama sekali di rumah ini.

Aku pernah ingin kembali ke kampung halamanku untuk Tahun Baru Imlek, tetapi setiap kali aku ingin pulang selalu ditentang oleh Xiao Yu dan orangtuanya. Mereka pikir keluargaku miskin dan tidak masalah jika aku tidak kembali.

Memikirkan tentang lima tahun terakhir, ketika orangtuaku mengadakan makan Malam Tahun Baru sendirian, aku merasa sangat bersalah. Terutama ketika orangtuaku meneleponku beberapa waktu lalu, mengatakan bahwa mereka merindukan aku dan mereka ingin aku pulang untuk merayakan tahun baru tahun ini bersama mereka.

Beberapa hari yang lalu, aku memberi tahu Xiao Yu bahwa aku ingin pulang untuk merayakan Tahun Baru bersama orangtuaku, tetapi Xiao Yu melarangku untuk pulang.

Aku pikir Xiao Yu terlalu egois. Setelah lima tahun menikah, aku selalu menghabiskan Tahun Baru bersama keluarga mereka. Sekarang aku ingin menghabiskan Tahun Baru yang meriah bersama orangtuaku.

Kami bertengkar karena masalah ini. Xiao Yu mengatakan bahwa dia yang membeli rumah, jika aku pulang untuk Tahun Baru bersama orangtuaku, dia melarang aku untuk masuk ke rumah, dan aku tidak akan mendapatkan apa-apa setelah pergi.

Aku telah memberikan segalanya untuk keluarga ini, tetapi aku menemukan bahwa di hati Xiao Yu hanya keluarganya sendiri yang dimilikinya, dan tidak pernah menganggap aku dan orangtuaku sebagai keluarganya.

Sekarang orangtuaku masih hidup, aku harus menemani mereka dengan baik, dan aku tidak bisa hanya mengurus keluarga kecilku dan membiarkan orangtuaku dalam kesepian. Meskipun aku benar-benar ingin menghabiskan hidup ini dengan Xiao Yu, namun dengan sikapnya selama ini, aku merasa bahwa pernikahan kami tidak akan bertahan lama.

Aku telah memikirkannya untuk waktu yang lama, dan aku memutuskan untuk bercerai. Mungkin hanya perceraian yang bisa membuatku melepaskan semua beban dan membuatku untuk menghabiskan hidup yang bahagia dan nyaman bersama orangtuaku. (lidya/yn)

Sumber: uos.news