Temannya Meminjam 130 Juta dan Menghilang, 5 Tahun Kemudian, Istrinya Datang untuk Membayar Utang, Alasanya Membuatnya Menangis

Erabaru.net. Ini adalah peristiwa yang terjadi 6 tahun yang lalu. Saat itu, temanku Li Ming menelepon. Mengatakan bahwa sesuatu terjadi padanya dan dia ingin meminjam 50.000 yuan padaku.

Aku dan dia adalah teman sekamar saat kuliah, dan kami memiliki hubungan yang sangat baik. Meskipun aku tidak tahu di mana rumahnya, aku tetap percaya padanya.

Berpikir aku tahu karakternya dan lama berteman aku memutuskan untuk memberikan10.000 yuan tambahan, jadi aku meminjamkannya total 60.000 yuan.

Aku juga mengatakan padanya untuk tidak terburu-buru untuk mengembalikan.

Siapa sangka, dia lantas menghilang setelah meminjam uang! Selama 5 tahun, dia tidak pernah menghubungiku lagi.

Istriku mengeluh bahwa aku telah ditipu. Aku mengatakan itu tidak mungkin, karakternya cukup baik.

Istriku mencibirku dan berkata: “Lalu mengapa dia tidak mengembalikan uang itu?” Seketika aku terdiam.

Aku mencoba meneleponnya, tetapi nomornya juga sudah tidak aktif lagi.

Sekarang, aku baru percaya bahwa temanku memang menipuku.

Istriku ingin lapor polisi, tapi aku melarangnya.

Siapa sangka setelah 5 tahun, istrinya tiba-tiba datang ke rumah. Mencari aku dan mengatakan bahwa dia ingin melunasi utang suaminya.

Aku bengong, apa yang terjadi denganya? Istrinya dengan wajah sedih, menjelaskannya kepadaku.

Ternyata temanku itu sakit parah. Dalam keputusasaan, dia meminjam uang padaku untuk berobat. Sayangnya, dia meninggal.

Sebelum kematiannya, temanku meminta kepada istrinya untuk membayar uang yang dia pinjam dariku.

Istri temanku adalah wanita pedesaan, berapa banyak uang yang dapat dia hasilkan?

Dari pagi hingga larut malam, bekerja di ladang, dan mendirikan warung kecil.

Baru sekarang dia bisa mengumpulkan uang itu.

Dia tampak menyesal, membungkuk kepada saya dan meminta maaf karena terlambat membayar utang suaminya.

Aku sedih dengan kematian temanku dan awalnya aku tidak mau menerima uang itu.

Tetapi istrinya tetap bersikeras untuk membayar: “Sudah sepantasnya saya membayar utangnya! Siapa pun yang berutang uang, Anda harus membayarnya kembali!”

Karena aku tidak mau menerimanya, dia meletakan uang itu di meja dan buru-buru pergi.

Melihatnya dia meninggalkan rumahku, aku memegang uang itu dan pikiranku dipenuhi dengan emosi sedih. (lidya/yn)

Sumber: uos.news