Ayahku ‘Meninggal’, Ketika Aku Berjalan dengan Ibuku Bertemu Seorang Pengemis, Ibuku Membawaku Berlari untuk Menghindarinya

Erabaru.net. Tumbuh dewasa, aku tidak memiliki satu ingatan pun tentang ayah dalam pikiranku, dan satu-satunya kesan yang aku miliki tentang ayahku adalah apa yang dikatakan oleh ibuku kepadaku.

Ibuku mengatakan bahwa ayahku adalah seorang polisi. Dia adalah orang yang sangat jujur ​​dan baik hati. Dia memiliki reputasi yang sangat baik di antara kerabat dan teman-temannya. Ayah juga sangat mencintaiku. Ketika saya masih kecil, ayahku meninggal tiba-tiba karena sakit.

Selama 22 tahun, aku hanya hidup dengan ibuku. Ibuku bekerja keras untuk mendukungku, sehingga aku bisa pergi ke universitas. Setelah lulus kuliah, aku bekerja di perusahaan Internet. Gaji dan tunjangannya sangat bagus. Akhirnya aku bisa membalas kerja keras ibuku selama bertahun-tahun untukku, sehingga dia bisa menikmati hidupnya dengan baik.

Pada akhir pekan, aku menemani ibuku berbelanja. Berpikir bahwa Tahun Baru Imlek sudah dekat, jadi aku ingin membelikan ibuku satu set pakaian baru.

Di jalur pejalan kaki ramai dengan orang-orang, jadi aku dan ibuku bergandengan tangan dan berjalan melewati kerumunan. Tepat ketika kami sedang berjalan dan mengobrol, seorang pengemis tiba-tiba berdiri di depan kami. Itu adalah seorang pria paruh baya berusia sekitar lima puluhan. Dia compang-camping dan berwajah kotor dan sangat kurus..

Dia mengulurkan tangannya kepada kami, bergumam seolah-olah dia mengatakan sesuatu, aku mengeluarkan dompet dan ingin memberikan uang kepadanya, tetapi tiba-tiba ibuku menggandeng tanganku dan berbalik berlari seperti orang gila, aku tidak apa sebabnya, jadi aku hanya mengikutinya pergi.

Baru setelah kami berlari agak jauh, Ibu melepaskan tanganku dan kami berhenti. Aku belum pernah melihat ibuku begitu panik, seolah-olah dikejar setan. Kemuan aku bertanya kepadanya, tetapi dia menggelengkan kepalanya dan menolak untuk menjawab pertanyaanku, terus mengajak aku untuk segera pulang.

Aku tidak punya pilihan selain menuruti keinginan ibuku. Tetapi saat kami hendak berbalik pulang, pengemis itu sudah muncul di depan kami, dia berjalan ke arah kami dan memanggilku Nan Nan! Nan Nan adalah nama panggilanku, bagaimana pengemis ini bisa tahu?

Ketika aku bingung, apa yang dia katakan selanjutnya lebih mengejutkanku! Dia mengatakan, apakah kamu masih ingat Ayah? Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar, aku mengalihkan pandanganku penuh keraguan ke ibuku, berharap dia akan memberiku jawabannya, tetapi saat ini, ibuku sudah menangis.

Setelah beberapa saat, setelah ibuku agak tenang, dia perlahan-lahan menceritakan keseluruhan ceritanya.

Ternyata pengemis di depanku itu sebenarnya ayahku, semua yang ibuku ceritakan tentang ayahku sebelumnya dibuat-buat olehnya, agar tidak melukai hati mudaku yang kurang kasih sayang seorang ayah.

Ayahku sama sekali bukan polisi rakyat. Dia seorang penjudi. Perjudian telah merampas rasa kemanusiaannya. Tidak hanya dia kehilangan semua hartanya, dia bahkan kehilangan ibuku sebagai taruhan untuk orang lain. Setelah ibuku mengetahuinya, dia melarikan diri dengaku yang masih bayi dan tidak pernah kembali.

Dan ayah saya benar-benar tersesat, semua kerabat dan teman menjauhinya dan akhirnya menjadi pengemis. Selama bertahun-tahun, sambil mengembara dan mengemis, dia mencari keberadaanku dan ibu, dan akhirnya menemukan kami di kota ini.

Aku belum bisa menerimanya sebagai ayah kandungku, dan ibuku tidak bisa melupakan luka yang dia bawa kepada kami saat itu, dan tidak berniat untuk memaafkannya.

Setelah aku memberinya sejumlah uang, aku membawa ibuku dan pergi. Selama beberapa hari berikutnya, aku berada dalam dilema. Aku merasa kasihan pada ibuku, dan aku bertemu ayahku, tetapi kondisinya menyedihkan seperti ini. Bagaimanapun, dia adalah ayahku.(lidya/yn)

Sumber: ezp9