Investor Asing Kabur Saat Pasar Tiongkok Terhuyung-huyung

Playbook Lama yang Tak Lagi Menarik bagi Pemodal Asing

Seorang pekerja mengendarai sepeda di jalan di distrik Jing'an Shanghai pada 1 Juni 2022. (Hector Retamal /AFP via Getty Images)

Fan Yu

Investor asing yang terus mengurangi kepemilikan mereka atas obligasi Tiongkok pada Mei selama empat bulan berturut-turut. Divergensi kebijakan moneter antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta melemahnya fundamental ekonomi, membuat investor asing berbondong-bondong menjauh dari Tiongkok.

Tak seperti periode sell off Tiongkok selama lebih dari satu dekade terakhir, investor asing tak lagi menganggap investasi Tiongkok lebih menarik berdasarkan penyesuaian risiko dibandingkan dengan pasar negara maju.

Obligasi Tiongkok berdenominasi yuan terus mengalami penarikan, menurut data resmi dari China Central Depository & Clearing Co. Outflows juga memukul mata uang yuan, mencapai nilai relatif terendah dalam hampir dua tahun. Sejak Juni lalu, yuan telah kehilangan 3,5 persen terhadap dolar.

Selama sepuluh tahun terakhir, Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah merayu investor asing secara bertahap membuka pasar keuangannya  yang massif kepada investor luar negeri. Ini sebagian untuk mengimbangi arus modal keluar; perusahaan dan rumah tangga Tiongkok telah mengirim uang ke luar negeri untuk mengambil aset asing seperti real estate dan investasi bisnis.

Investor global dengan senang hati menurutinya. Menutup mata terhadap rezim totaliter Tiongkok dan pelanggaran hak asasi manusianya, investor asing telah mengirim dolar ke Tiongkok untuk berinvestasi dalam aset moneter serta mendirikan bisnis lokal untuk menangkap pasar Tiongkok. Dalam beberapa waktu, pasar Tiongkok memberikan beberapa diversifikasi. Dikarenakan, obligasi Tiongkok menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi selama periode imbal hasil obligasi barat yang sempat hampir berada di angka nol.

Banyak hal, berkali-kali investor asing di sana  menyelamatkan pasar Tiongkok selama dekade terakhir.

Tetapi, semuanya berubah dengan cepat. Investor asing berbondong-bondong hengkang dan hanya ada sedikit penangguhan hukuman yang terlihat.

Didorong oleh kebijakan bank sentral yang semakin berbeda, sekarang U.S. Treasury  memberikan hasil yang lebih tinggi daripada rekanan obligasi mereka, pemerintah Tiongkok. Ekonomi Tiongkok, yang digoyahkan oleh lockdown terkait COVID, kini berada dalam kondisi terburuk dalam beberapa dekade dengan anjloknya kepercayaan konsumen dan bisnis. 

Dan terakhir, dukungan kuat Tiongkok untuk Rusia dalam invasinya ke Ukraina telah meningkatkan risiko geopolitik bisnis yang beroperasi di Tiongkok. Akankah Tiongkok berusaha mencaplok Taiwan dalam waktu dekat? Itu pertanyaan yang harus direnungkan oleh perusahaan yang berinvestasi di Tiongkok.

Ada beberapa tanda selloff mereda, terutama di pasar saham Tiongkok. Tetapi lingkungan ekonomi ini, di mana fundamental jauh dari stabil dan hanya menunggu sampai lockdown COVID berikutnya diberlakukan, investor pesimis bahwa dalam waktu dekat akan memiliki hasil yang berbeda.

Beberapa Sektor Membunyikan Alarm

Seperti Beijing dan Shanghai mulai muncul akibat Lockdown COVID yang mencekik, sarang ekonomi selatan Shenzhen dan Makau mungkin menghadapi pembatasan yang melumpuhkan.

Pusat teknologi Shenzhen telah melockdown beberapa lingkungan, dan para pejabat memberlakukan pengetesan massal. Di dekatnya, di pusat perjudian Asia, Makau, wabah virus mengancam perusahaan game yang beroperasi.

The Financial Times melaporkan bahwa total pendapatan game di Makau untuk bulan Mei adalah $413 juta, turun 90 persen dari level sebelum pandemi.

SJM Holdings, raksasa game yang didirikan oleh maestro perjudian Stanley Ho, melihat harga saham dan obligasinya jatuh, karena Fitch Ratings memangkas peringkat kredit senior tanpa jaminan, turun dua tingkat menjadi BB- pada Juni. Baru-baru ini saham perusahaan game lainnya seperti Sands China Ltd. dan Wynn Macau Ltd. juga jatuh tersungkur. 

Tentu saja, obligasi pengembang properti Tiongkok terus diperdagangkan jauh di bawah nominal. Namun baru-baru ini, juga ada tanda-tanda menyebar di luar sektor biasanya. Sebagai contoh, obligasi luar negeri dari konglomerat China Fosun International mengalami kerugian besar pada bulan Juni, sebuah tanda bahwa perusahaan lain yang berutang besar mungkin juga berada dalam masalah. Fosun, pemilik resort Club Med, yang memiliki anak perusahaan di sektor rekreasi, travel dan hiburan, dapat menghabiskan uang jika lockdown terkait COVID berlanjut dan pengeluaran konsumen terus berkurang.

Menarik Investor Asing

Baru-baru ini regulator Beijing berharap program baru akan membantu membalikkan tren arus dana asing. 

People’s Bank of China -PBoC- mengumumkan bahwa investor institusi asing yang memenuhi syarat atau QFII, termasuk bank asing berkantong tebal, sovereign wealth funds dan dana pensiun, akan diizinkan untuk berinvestasi di pasar valuta domestik.

Mulai 30 Juni, pasar valuta Tiongkok akan memberikan investor institusi asing akses ke sekuritas tertentu yang tak tersedia di pasar antar bank, termasuk instrumen berisiko seperti sekuritas beragun aset dan derivatif, selain obligasi. Perlu dicatat bahwa pasar pertukaran diatur oleh China Securities Regulatory Commission (CSRC) sedangkan pasar antar bank (yang dapat diakses oleh QFII sejak 2016) diawasi oleh PBoC.

Tapi apakah  akan berhasil? Manajer dana yang dipercaya dengan kecenderungan distressed investing, memberikan tegurannya pada kesempatan ini. Umumnya, dengan kebijakan COVID dan suramnya  perekonomian Tiongkok, ditambah dengan imbal hasil pendapatan tetap yang relatif lebih tinggi di Amerika Serikat, pasar Tiongkok tidak terlalu menarik. (asr)