Ibuku Bilang Sakit dan Meminta Dikirimi 200 Juta, Ketika Aku Datang ke Rumah, Aku Marah dan Memutuskan Hubungan

Erabaru.net. Aku lahir di keluarga pedesaan, karena orangtuaku lebih mementingkan anak laki-laki daripada anak perempuan, aku putus sekolah ketika menyelesaikan sekolah menengah pertama dan pergi ke kota untuk bekerja.

Karena di rumah aku sering ditindas, aku tinggal di kota dan jarang pulang. Aku ketemu suamiku juga di kota.

Suamiku seorang sales, meskipun kondisi keluarganya tidak terlalu baik, tetapi mertuaku memberi kami uang muka untuk membeli rumah untuk kami menikah. Aku Sangat berterima kasih kepada mertuaku.

Ketika kami menikah, orangtuaku meminta uang mahar 100.000 yuan (sekitar Rp 220 juta), dan mereka dengan terus mengatakan kepada kami bahwa, uang itu akan dipakai untuk adik laki-lakiku menikah.

Karena kami sama-sama miskin, orangtuaku tidak pernah menghubungi kami, mungkin mereka takut aku akan meminta uang kepada mereka.

Untuk menjalani kehidupan yang baik, aku dan suamiku akan menjual makanan ketika kami senggang, atau melakukan pekerjaan paruh waktu hanya untuk menghasilkan lebih banyak uang.

Setelah lebih dari tiga tahun bekerja keras, kami bisa membeli rumah yang lebih besar. Ketika orangtuaku mengetahui bahwa kami membeli rumah lagi, mereka meneleponku dan meminta tunjangan hidup.

Karena aku tidak bisa merawat mereka, mereka meminta aku memberinya 1000 yuan sebulan, dan aku setuju dengan permintaan mereka

Setengah tahun kemudian, ibuku tiba-tiba menelepon dan mengatakan bahwa dia sakit dan membutuhkan 100.000 yuan (sekitar Rp 220 juta) untuk operasi.

Karena saat itu aku sedang hamil, ibuku mengatakan bahwa aku tidak usah pergi ke rumah sakit untuk menjenguknya, cukup kirim uang saja.

Aku merasa ada sesuatu yang aneh dalam hal ini, jadi aku berjanji untuk menghubunginya lagi dalam beberapa hari.

Dan aku segera membeli tiket kereta untuk pulang, ingin mengetahui penyakit apa yang ibu derita. Saat aku sampai di rumah, dan ibuku melihat aku pulang, dia segera berbaring di tempat tidur dan berkata bahwa dia sedang tidak enak badan.

Hari itu aku menginap di rumah ibu, di pagi hari aku mendengarkan percakapan ibu dan adik laki-lakiku.

Adik laki-laki itu bertanya kepada ibu kapan dia bisa memberinya uang, apakah dia harus menunggu uang untuk membeli barang-barang untuk menikah?

Kemudian, aku mendengar bahwa uang itu akan digunakan untuk membeli emas untuk istrinya, dan juga ponsel.

Mendengar percakapan mereka membuat hatiku hancur, ibuku berbohong kepadaku bahwa dia sakit hanya untuk membeli barang-barang ini untuk adik laki-laki saya.

Aku diam-diam pergi dan mematikan teleponku.

Ketika sampai di rumah, aku berencana untuk mengganti nomor telepon sehingga mereka tidak akan pernah dapat menghubungiku lagi.(lidya/yn)

Sumber: ezp9