3 Bulan Setelah Suamiku Meninggal, Aku Melihat Pesan Teks di Ponselnya, Berharap Aku yang Meninggal

Erabaru.net. Suamiku sering mengatakan bahwa kami adalah musuh di kehidupan kami sebelumnya.

Tiga puluh atau empat puluh tahun yang lalu, aku sangat cantik, dan banyak laki-laki yang datang ke rumah untuk menikah denganku.

Namu, aku jatuh cinta dengan seorang pria tampan dari desa sebelah dan ingin menikah dengannya.

Saat ini, suamiku datang ke rumah untuk melamar dengan mahar dua kali lipat dari yang lain.

Kebetulan, orangtuaku sangat membutuhkan uang untuk menikahkan adik laki-lakiku.

Melihat tatapan penuh harapan ibuku dan adik laki-lakiku, aku dengan enggan menikah dengan suamiku.

Setelah menikah, aku tidak memberi wajah yang baik pada suamiku, dan aku tidak mengatakan sepatah kata pun kepadanya selama sehari.

Sebaliknya, suamiku, yang takut aku kedinginan di musim dingin, dia bangun pagi-pagi untuk memasak makanan dan membawanya ke tempat tidur untukku.

Setiap ayam bertelur, dia akan menyimpannya untukku.

Anda tahu, di masa lalu, satu-satunya orang yang biasa makan telur di pedesaan adalah pria yang bekerja di ladang.

Aku bukan orang yang berhati batu, seiring berjalannya waktu, hatiku perlahan-lahan melunak.

Di mata banyak wanita di pedesaan, suamiku adalah pria yang baik.

Ku juga mengetahui bahwa pria tampan yang dulu aku sukai, sering memukuli istrinya setelah menikah!

Mendengar ini aku sangat bersyukur.

Dan aku akhirnya melahirkan dua orang putra dan seorang putri untuk suamiku

Dengan bertambahnya anggota keluarga, tekanan pada suamiku menjadi lebih besar.

Untuk menghasilkan lebih banyak uang, suamiku pergi ke pabrik beras di kota untuk menurunkan barang.

Ketika dia sampai di rumah di malam hari, aku akan memasak bubur.

Nasi aku berikan pada suamiku, sedang aku dan ketiga anakku makan bubur.

Setelah anak-anak makan bubur, tampaknya mereka masih lapar, dan menatap mangkuk nasi ayahnya.

Bagaimana dia bisa makan dengan tatapan mata anak-anaknya.

Dia kemudian menuangkan nasinya kepada anak-anaknya.

Melihat ini aku merasa lega dan juga tertekan.

Kemudian, hari-hari yang sulit akhirnya berlalu, dan ketiga anakku memulai keluarga mereka sendiri.

Siapa sangka suamiku sakit, sakit punggung sepanjang malam, dan tidak bisa tidur.

Dia merasa tidak enak denganku dan takut mempengaruhi tidurku, jadi dia tidur di kamar terpisah.

Setiap kali kau ingin menemaninya pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan, aku tidak boleh pergi, dia hanya mau ditemani putraku.

Kemudian,dia hanya bisa berbaring di tempat tidur dan tidak bisa turun lagi.

Aku berbaring di tempat tidur sambil menangis, suamiku menyentuh rambutku dan berkata: “Jangan menangis, jangan menangis …”

Dia mengeluarkan buku tabungan dari tangannya dan tersenyum padaku.

“Uang ini, aku telah menyiapkannya selama hidupku, ini akan cukup bagimu untuk menggunakannya ketika kamu tua.”

“Aku pergi, kamu harus harus menjaga hidupmu sendiri…”

Sebulan kemudian, suamiku pergi.

Anak-anak ingin membawaku ke kota, tetapi aku tidak mau, tidak di rumah tua dan melihat barang-barang mendiang suamiku, hatiku sakit.

3 bulan setelah suamiku meninggal, aku mengemasi barang-barangnya.

Di ponselnya, aku melihat sebuah pesan teks.

“Putra dan putriku, setelah aku pergi, kamu harus berbakti kepada ibumu!”

“Dalam hidup ini, aku memperlakukan ibumu layaknya harta karun, dan aku tidak mau menggertaknya sekali pun.”

“Jika ada di antara kalian yang berani menggertaknya, aku akan membawanya pergi …”

Setelah membacanya, aku jatuh ke tanah, air mata mengalir seperti hujan.

Kalau boleh meminta, aku berharap aku yang meninggal, bukan suamiku!(lidya/yn)

Sumber: uos.news