Pergeseran Beijing dari Merkantilisme ke Militerisme : Ketika Ekonomi Merosot, Agresinya Meningkat

Pemimpin Tiongkok Xi Jinping menyampaikan pidato melalui tautan video pada upacara pembukaan Forum Bo'ao Untuk Asia di Provinsi Hainan Tiongkok selatan pada 21 April 2022. (Huang Jingwen/Xinhua via AP)

oleh James Gorrie

Nada diplomasi Beijing dan hubungan internasionalnya telah berubah dengan jelas sejak 2019. Beberapa faktor menjadi  pendorong perubahan ini dalam hubungan Tiongkok dengan dunia. Diantaranya adalah pergeseran iklim politik dan ekonomi global, serta faktor-faktor lain yang bersifat internal. Namun demikian, keduanya mendorong munculnya retorika dan perilaku militeristik Tiongkok.

Menghilangkan Rival dan Pertumbuhan Ekonomi

Beberapa tahun terakhir kita menyaksikan penghilangan secara sistematis Xi Jinping dari setiap penantang potensial — baik politik, ekonomi, atau budaya — dari kehidupan Tiongkok. Proses itu tidak hanya meredam semangat dan energi bangsa, tetapi juga mendistorsi iklim internal kepada tingkat ketakutan dan kecurigaan baru.

Paranoia politik dalam kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok (PKT)  disertai dengan peran Partai yang lebih besar. Secara khusus, PKT memperluas koordinasi perusahaan BUMN dengan perusahaan swasta. Ini Justru tidak akan meningkatkan kinerja ekonomi, melainkan memperdalam kontrol Partai atas bisnis.

Meski tindakan seperti itu dinilai perlu bagi struktur politik yang pada dasarnya tidak stabil. Tidak ada tantangan nyata atau imajiner atau pengaruh kontradiktif yang dapat ditoleransi karena semuanya bersifat pribadi bagi pemimpin tunggal Partai dan negara, Xi Jinping. 

Oleh karena itu, kebalikan dari kebijakan lama, kontrol politik atas perusahaan teknologi yang kuat dan perusahaan lain yang sangat menguntungkan dan independen, mengalahkan pertumbuhan ekonomi dan inovasi.

Perubahan dan Ketidakstabilan Aturan Satu Orang

Dengan mengkonsolidasikan lebih banyak kekuatan untuk dirinya sendiri daripada penguasa mana pun sejak Mao Zedong, Xi  menjadi pusat gravitasi hampir semua kehidupan Tiongkok. Konsentrasi kekuasaan seperti itu ke dalam satu orang memungkinkan serangkaian keputusan yang keliru.

Lebih buruk lagi, menimbulkan lingkaran perilaku tak menentu, karena keputusan  buruk “dikoreksi” oleh reaksi berlebihan atau keputusan buruk lainnya disebabkan oleh kepribadian, paranoia, pengetahuan tidak lengkap, dan pertimbangan yang tidak memadai. Seberapa banyak dan seberapa sering “penasihat” bersedia mempertanyakan penilaian seorang pria yang menghilangkan orang-orang dituding menghalangi jalannya?

Hasil dari struktur  berkuasa seperti itu adalah meningkatnya ketidakstabilan internal. Seperti yang kita lihat, ketidakstabilan internal itu diterjemahkan menjadi petualangan eksternal yang berkembang. Motivasinya dapat diprediksi seperti halnya melayani diri sendiri. Mereka dibingkai seperlunya untuk melawan agresor asing yang dibayangkan atau historis atau melindungi kepentingan nasional. Tetapi, kebutuhannya adalah untuk membantu menyatukan bangsa, menghilangkan kritik internal Partai, dan mengalihkan perhatian rakyat dari daftar panjang kegagalan kebijakan eksternal dan internal.

Perang Ukraina Membuat Produsen Keluar dari Tiongkok

Banyak kesalahan keputusan kebijakan telah menyebabkan decoupling dunia dari Tiongkok. Ingat bagaimana kebijakan kerasnya ekonomi  Partai Komunis Tiongkok, tarif satu arah, jebakan utang Belt and Road Initiative, dan pencurian IP akhirnya mulai menjadi bumerang di Beijing selama pemerintahan Trump. Perusahaan-perusahaan Barat yang beroperasi selama bertahun-tahun di Tiongkok, mulai memperbaiki dan menutup pabrik mereka untuk meminimalkan biaya pengiriman, pencurian IP, dan kenaikan biaya tenaga kerja di Tiongkok.

Kemudian, dari 2019 hingga 2021, COVID-19 dan dampak ekonominya yang menghancurkan bergema di seluruh dunia. Lockdown nasional di sebagian besar dunia dan biaya ekonomi, semakin membuat masyarakat internasional memandang Beijing dan PKT dengan penuh kecurigaan, bahkan bisa dikatakan memuakkan. 

Tapi itu adalah dukungan Tiongkok yang tidak diragukan dan “tidak terbatas” terhadap invasi Rusia menghancurkan Ukraina yang masih berlanjut hingga hari ini, yang mana telah memicu eksodus massal perusahaan-perusahaan Barat dari Tiongkok. Bisa ditebak, ekonomi Tiongkok telah menderita—dan terus menderita—dari kerugian yang semakin besar dari bisnis Barat. Lockdown serentak dari kebijakan “Zero-Covid” Beijing telah melipatgandakan kesengsaraan perkembangan ekonomi Tiongkok.

Pergeseran Ekonomi Tidak Dapat Dibalikkan

Seperti disebutkan di atas, faktor-faktor yang secara langsung menyebabkan kebangkitan Tiongkok yang cepat, kini menjadi kekuatan ekonominya tidak lagi sekuat dulu. Seperti yang ditunjukkan The Atlantic tahun lalu, angka-angka menceritakan kisahnya.

“Dari 2007 hingga 2019, tingkat pertumbuhan turun lebih dari setengahnya, produktivitas turun lebih dari 10 persen, dan utang secara keseluruhan melonjak delapan kali lipat,” demikian bunyi artikel itu.

Terlebih lagi, penuaan penduduk Tiongkok mempercepat penurunan ekonominya. 

“Dari 2020 hingga 2035 saja, akan kehilangan 70 juta orang dewasa usia kerja dan mendapatkan 130 juta warga lanjut usia,” menurut The Atlantic.

AS Melemah Mengundang Tantangan

Seperti disebutkan di atas, agresi Beijing juga merupakan akibat dari kondisi eksternal. Yaitu, kelemahan AS di panggung dunia  terbukti di seluruh pemerintahan Biden. Akibatnya,  memperkuat retorika agresif Beijing terhadap Amerika Serikat dan negara-negara lainnya.

Penarikan AS yang salah dan tragis dari Afghanistan tidak hanya membantu melemahkan prestise kekuatan Amerika, tetapi juga meninggalkan kekosongan kekuasaan.  Tiongkok (dan Rusia)—musuh utama Amerika Serikat—dengan senang hati mengisi kekosongan itu.

Selanjutnya, dalam perang Ukraina, Amerika Serikat memimpin dari belakang. Pemerintahan Biden telah menunjukkan bahwa ia tidak dapat secara positif memaksakan kehendaknya atau mempengaruhi kebijakan Beijing atau, dalam hal ini, Moskow. Akibatnya, perilaku PKT semakin militan di kawasan Asia-Pasifik.

Meningkatnya Sengketa Maritim Regional

Militerisme Tiongkok tidak hanya terlihat dalam intrusi hampir setiap hari ke wilayah udara Taiwan dengan pesawat-pesawat tempur Tentara Pembebasan Rakyat, tetapi juga dalam perluasan komprehensif retorika perang dan aktivitas angkatan laut di seluruh wilayah.

Ancaman terselubung serangan nuklir terhadap Australia, karena menyetujui untuk memperoleh kapal selam bertenaga nuklir hanyalah salah satu dari banyak eskalasi retorika oleh Beijing. Penumpukan angkatan laut PKT yang sedang berlangsung, memungkinkannya untuk memperluas ancaman angkatan lautnya sampai ke Jepang, di mana baru-baru ini mengepung kepulauan Jepang sebagai respon atas sengketa maritim.

Ketika kondisi ekonomi memburuk, Beijing akan lebih berani dalam tindakannya, terutama di wilayahnya sendiri. Berkurangnya kekuatan dan kemauan politik AS tentu saja merupakan faktor dalam perhitungan kebijakan Beijing, tetapi sama halnya juga terjadi peningkatan ketidakstabilan internal yang dipromosikan oleh kepemimpinan PKT. (asr)