Wanita Pergi ke Kebun Buah Temannya, Matanya Terluka Setelah Secara Tak Sengaja Kejatuhan Buah Pir, Dia Minta Kompensasi Hampir 300 Juta pada Temannya

Erabaru.net. Terkadang kita memiliki niat untuk membantu orang lain, tetapi orang lain memiliki niat untuk menyakiti kita.

Tumbuh dewasa, kita sering diajari oleh orangtua kita untuk saling membantu sesama, dan ketika kita tumbuh dewasa, mulai bisa membedakan antara yang benar dari yang salah, kami kita mulai berhubungan dengan istilah: orang baik terkadang tidak dihargai

Ada banyak orang baik di dunia ini, tetapi keberadaan orang jahat tidak bisa diabaikan.

Kita tidak serta merta mendapatkan ucapan terima kasih karena telah membantu orang, tetapi karena membantu orang, kita bahkan mungkin akan mendapat masalah.

Di Changsha, Hunan, Tiongkok, seorang wanita pergi ke kebun buah temannya untuk memetik buah pir. Matanya terluka setelah secara tidak sengaja kejatuhan buah pir. Wanita itu kemudian menggugat rekannya di pengadilan dan minta kompensasi sebesar 130.000 Yuan (sekitar Rp 290 juta).

Orang pedesaan sangat jujur dan polos. Jika ada pohon buah yang ditanam di pekarangannya dan seseorang datang untuk memintanya, mereka akan dengan murah hati membiarkan orang lain memetiknya. Jika orang lain malu untuk memetik lebih banyak, tuan rumah akan berinisiatif untuk memasukkan beberapa lagi ke dalamnya.

Namun, mereka tidak pernah membayangkan bahwa kebaikan mereka akan menyebabkan masalah bagi mereka, dan harganya 130.000 yuan, bahkan jika mereka menjual pohon pir bersama dengan buahnya, itu tidak sepadan dengan harganya.

Bahkan dapat dikatakan bahwa sebagian besar keluarga pedesaan berpenghasilan kurang dari 130.000 yuan per tahun. Jika mereka benar-benar ingin minta kompensasi jumlah uang ini, tidak diragukan lagi akan menjadi bencana bagi pemilik pohon pir ini.

Wanita yang menggugat adalah Liu, dia dan Li (pemilik kebun) adalah rekan kerja.

Pada hari itu, Liu datang ke rumah Li untuk memetik buah pir tanpa memberi tahunya terlebih dahulu. Karena sebelumnya tidak ada pemberitahuan, Li tidak tahu sama sekali, dan kebetulan dia tidak ada di rumah. Istrinya, Huang, yang menerimanya.

Liu memberi tahu Huang tentang tujuan kedatangannya, mengetahui bahwa Liu adalah rekan kerja suaminya, Huang dengan mudah menyetujui permintaan tersebut, dan dia memukul beberapa buah pir yang di atas pohon sesuai permintaan Liu.

Liu mengambil buah pir yang jatuh ke tanah, siapa yang tahu bahwa saat dia mengambil buah pir di tanah, tiba-tiba buah pir yang jatuh mengenai mata kirinya, menyebabkan rasa sakit yang tak tertahankan.

Liu pergi ke rumah sakit dan telah menghabiskan 10.000 Yuan untuk perawatan selama 15 hari, dan didiagnosis bahwa mata kirinya mengalami cacat permanen.

Marah, Liu mendatangi Li dan meminta kompensasi: “Jika buah pir itu tidak jatuh, bagaimana dia bisa terluka?”

Liu percaya bahwa klaimnya dapat dibenarkan, tidak hanya meminta Li untuk mengganti biaya pengobatannya, tetapi juga meminta kompensasi untuk kesehatan mentalnya.

Namun, Li tidak dapat menerimanya ‘musibah yang tidak dapat diprediksi”. Dia tidak mengundang atau memaksa Liu untuk datang ke rumahnya untuk memetik buah. Dia datang atas kemauannya sendiri dan meminta buah pir-nya.

Li tidak mengerti dengan sikap Liu: “Saya cukup baik sudah memberikan buah pirnya secara gratis, bagaimana saya bisa kehilangan uang begitu banyak?”

Negosiasi antara kedua pihak gagal, dan Liu menggugat Li, minta ganti rugi total 130.000 untuk berbagai biaya.

Kali ini pengadilan tidak berpihak pada Liu.

Pengadilan memutuskan bahwa Huang menjatuhkan buah pir atas permintaan Liu, yang merupakan semacam tindakan belas kasih, yang mencerminkan adat istiadat masyarakat yang baik tentang keharmonisan, keramahan dan integritas di lingkungan setempat.

Melihat klaim Liu ditolak, banyak netizen juga lega. Jika klaim Liu berhasil, siapa yang berani melakukan hal baik di masa depan?

Saat ini, banyak orang tidak mau terlibat dengan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan mereka. Ini semua karena mereka takut akan mendapat masalah jika mereka melakukan hal-hal baik, jadi lebih baik mengabaikannya. Selama saya menjauh dari masalah, masalah tidak dapat menghampiri saya.

Siapa yang tidak ingin menjadi orang baik jika setiap keadilan bisa ditegakkan seperti ini?(lidya/yn)

Sumber: voosweet