Presiden Sri Lanka Kabur ke Maladewa, Proyek Belt and Road Tiongkok Memperdalam Kebangkrutan Pemerintah

Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa. (Andy Buchanan - Pool/Getty Images)

Wen Rui – NTD

Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa melarikan diri ke Maladewa pada Rabu (13/7) dini hari dengan menggunakan pesawat angkatan udara Sri Lanka. Negara yang dulunya makmur, kini bangkrut  terjebak dalam perangkap utang inisiatif “Belt and Road” dan Presiden Rajapaksa berjanji  mengundurkan diri di tengah meletusnya aksi protes secara nasional.

Para pejabat Sri Lanka mengatakan kepada media, bahwa Presiden Gotabaya Rajapaksa telah meninggalkan negara itu dengan pesawat militer pada 13 Juli menuju negara tetangganya, Maladewa. Empat penumpang lainnya, termasuk istri dan pengawal Rajapaksa, juga ikut dalam penerbangan tersebut.

“Paspor mereka dicap dan mereka naik pesawat khusus Angkatan Udara ini,” kata seorang sumber pejabat imigrasi yang terlibat dalam seluruh proses, menurut Agence France-Presse. Pejabat lokal mengonfirmasi bahwa Rajapaksa telah tiba di bandara internasional ibukota Maladewa. Dikawal oleh polisi menuju lokasi yang tak diketahui.

Rute pelarian Rajapaksa tidak mulus. Menurut laporan, sehari sebelum Rajapaksa melarikan diri pada 12 Juli, petugas imigrasi bandara Sri Lanka menolaknya menyediakan ruang VIP baginya untuk menjalani prosedur imigrasi, yang membuat Rajapaksa dipermalukan dan melewatkan beberapa penerbangan.

Pejabat bandara mengatakan pesawat itu terhenti di landasan pacu selama lebih dari sejam, sebelum bisa lepas landas karena tidak dapat ditentukan bahwa pesawat telah diizinkan untuk mendarat di Maladewa.

Sejak April lalu, Sri Lanka, negara kepulauan di Samudra Hindia dengan penduduk hampir 22 juta jiwa, mengalami krisis utang yang belum pernah terjadi sebelumnya. Akibatnya, memicu aksi protes secara nasional. Masyarakat menuntut pemerintah segera menyelesaikan krisis ekonomi yang dihadapi negara tersebut.

Tetapi pada 6 Juli, Perdana Menteri Sri Lanka Wickremesinghe mengumumkan bahwa negara itu telah bangkrut. Ia mengatakan bahwa krisis ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya akan berlangsung setidaknya hingga akhir 2023. Negara itu akan jatuh ke dalam resesi yang dalam pada tahun ini. Bahkan, dilanda parahnya kekurangan pangan, bahan bakar dan obat-obatan. 

Pada 9 Juli, Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa terpaksa mengumumkan pengunduran dirinya setelah ribuan orang menyerbu kediaman presiden di Kolombo.

Negara-negara Barat percaya bahwa kebangkrutan Sri Lanka disebabkan oleh proyek “Belt and Road” Tiongkok, yang telah menjebak negara itu dalam perangkap utang dan sudah tidak dapat melepaskan diri.

Partai Komunis Tiongkok (PKT) melihat Sri Lanka sebagai pusat penting di “Jalan Sutra Maritim”, membangun sejumlah besar proyek flamboyan yang mahal dan tidak berguna di ibukota, Kolombo. 

Proyek-proyek ini termasuk pelabuhan laut, bandara, jalan raya, pembangkit listrik dan kota pelabuhan. Antara lain termasuk pembangunan pelabuhan Hambantota senilai $1 miliar dan rencana kota pelabuhan Kolombo senilai $1,4 miliar.

Para kritikus  menunjukkan bahwa masalah paling sulit bagi Sri Lanka dengan Inisiatif Belt and Road adalah bahwa proyek-proyek ini tidak menguntungkan. Ditambah dengan dampak epidemi dalam dua tahun terakhir, industri pariwisata Sri Lanka  terpukul keras, mengakibatkan utang negara meroket, ketika Sri Lanka jatuh ke dalam krisis utang, PKT sama sekali tidak membantunya..

Menurut Reuters, Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan di Jepang pada 12 Juli bahwa PKT tidak bekerja sama dalam restrukturisasi utang negara-negara berpenghasilan rendah, yang “cukup membuat frustasi”, dan Washington telah bekerja sama dengan pemerintah Tiongkok untuk  membahas masalah tersebut berkali-kali. (hui)