Jutawan Berharap Bisa Bermigrasi, Tiongkok Mungkin “Kehilangan Orang-orang Berbakat dan Pendapatan”

Pada 28 Maret 2022, polisi lalu lintas Shanghai mengendalikan terowongan yang memasuki Distrik Pudong Shanghai. (Hector Retamal/AFP)

 Chen Ting

Saat suasana blokade dan perlambatan ekonomi, perusahaan konsultan imigrasi memperkirakan bahwa sekitar 10.000 orang  kaya di Tiongkok mencoba meninggalkan negara itu. Angkanya kekayaannya sungguh fantastis. Diperkirakan menyebabkan uang keluar sebesar RMB. 48 miliar. Diperkirakan Tiongkok akan kehilangan pendapatan dan orang-orang berbakat, sebuah peristiwa terbesar kedua setelah Rusia.

Menurut Bloomberg, konsultan imigrasi investasi yang berbasis di London, Henley & Partners, memperkirakan bahwa sekitar 10.000 orang kaya Tiongkok ingin meninggalkan negara itu untuk menghindari lockdown ekstrem yang disebabkan oleh “kebijakan nol infeksi”. Pertanyaan besar bagi jutawan ini adalah apakah Beijing akan mengizinkan mereka pergi.

Sementara pihak berwenang belum secara eksplisit memperketat pembatasan, pengacara imigrasi mengatakan imigrasi menjadi lebih sulit dalam beberapa bulan terakhir. Pasalnya,  pemrosesan paspor meningkat dan persyaratan persetujuan dokumen meningkat.

Selain itu, semakin sulit bagi warga negara Tiongkok  mentransfer uang dalam jumlah besar dari Tiongkok. Pasalnya,  semua sektor menjadi lebih berhati-hati dalam berinvestasi. 

Hambatan yang dibuat oleh Otoritas Tiongkok telah menciptakan babak baru ketegangan antara orang kaya  dan pihak berwenang. Hubungan antara kedua pihak telah tegang di tengah kampanye “kemakmuran bersama” Xi Jinping.

Bloomberg percaya bahwa kerusakan ekonomi jangka panjang di Tiongkok dari kebijakan nol infeksi akan ditentukan oleh “skala utama arus keluar orang berbakat dan sumber pendapatan.”

Baru-baru ini, situasi epidemi di berbagai wilayah di TIongkok kembali meledak.  Kasus yang dikonfirmasi  dilaporkan di kota-kota besar seperti Tianjin dan Shanghai.

Sekitar 264,1 juta orang di Tiongkok, sekarang berada di bawah penguncian penuh atau parsial di 41 kota, naik dari 247,5 juta di 31 kota pada minggu lalu.  Analis Nomura mengatakannya dalam sebuah laporan pada Senin 18 Juli, seperti yang dilaporkan kantor berita Reuters. Berita itu sekali lagi memburamkan prospek ekonomi terbesar kedua di dunia itu. Banyak penduduk tetap khawatir bahwa Shanghai bisa-bisa kembali di-lockdown. 

Nicholas Thomas, seorang profesor di City University of Hong Kong dan seorang ahli kesehatan dan keselamatan, mengatakan kepada Bloomberg bahwa potensi hilangnya multitalenta dan modal, jelas merupakan biaya yang harus ditanggung oleh ekonomi Tiongkok. Dia mencatat bahwa hampir setiap negara di dunia “memasukkan risiko yang ditimbulkan oleh Covid ke dalam rencana ekonomi dan model bisnis”.

Harry Hu, seorang pemilik restoran Shanghai berusia 46 tahun, mengatakan bahwa dia baru-baru ini menjual dua restoran kelas atas seharga RMB. 20 juta (US$3 juta) dan menyewa seorang pengacara imigrasi dan manajer kekayaan, dengan harapan dapat bersama  asetnya berimigrasi.

Dia mengatakan langkah itu adalah sesuatu yang tidak bisa dibayangkan di masa lalu. Terlepas dari berbagai hambatan untuk pergi, dia  berharap bisa pindah ke Kanada.

“Dapatkah Anda bayangkan? Berada di kota paling maju di Tiongkok, pada awal penguncian, saya hampir mati kelaparan. Saya sangat sedih, tetapi sekarang saatnya untuk pergi,” kata Hu.

Namun, meskipun ia mengajukan permohonan perpanjangan visa dan paspor lebih dari sebulan yang lalu, ia belum menerima tanggapan.

Seorang pengacara imigrasi Tiongkok mengatakan bahwa pada musim semi, jumlah pertanyaan telah meningkat tiga sampai lima kali lipat dari tahun lalu. Pertanyaan tentang bagaimana memindahkan uang keluar dari Tiongkok, meningkat secara eksponensial, sebagaimana dikatakan tujuh orang bankir dengan syarat anonim.

“Akibat lockdown Covid, banyak orang benar-benar merasa tidak punya pilihan lain,” kata Sumi, konsultan imigrasi yang berbasis di Shanghai yang menolak menyebutkan nama lengkapnya. Ia juga menegaskan, Orang-orang  yang dulunya bimbang tidak bisa mengambil keputusan, sekarang mereka bertekad berimigrasi.

Bloomberg menunjukkan bahwa lokasi imigrasi yang populer meliputi: Amerika Serikat, Singapura, Australia, Kanada, dan beberapa negara di Eropa. Namun, beberapa negara ini telah memperketat prosedur imigrasi atau mengurangi program visa investor.

Tempat-tempat dengan persyaratan investasi yang relatif rendah, seperti Spanyol, Portugal atau Irlandia, mungkin juga menjadi lebih populer, kata seorang bankir swasta.

Namun demikian, mendapatkan dokumen yang diperlukan untuk meninggalkan Tiongkok jauh lebih sulit daripada sebelumnya.

Sejak akhir 2020, otoritas Tiongkok melarang perjalanan yang tidak penting, dengan alasan pencegahan epidemi. Pada Mei, biro imigrasi  mengatakan akan secara ketat membatasi perjalanan keluar yang tidak perlu oleh warga negara dan memperketat persetujuan dokumen masuk dan keluar.

Warga negara Tiongkok hanya diperbolehkan untuk mengkonversi RMB 50.000 senilai RMB ke mata uang asing setiap tahun. Di masa lalu, orang kaya telah menemukan cara untuk menghindari aturan ini, tetapi beberapa dari opsi itu semakin berkurang.

Sebelumnya, metode pemindahan uang dari Tiongkok termasuk menggunakan cryptocurrency, atau melakukan transaksi pribadi dengan rekanan luar negeri yang ingin mengirimkan RMB ke dalam negeri.

Namun demikian, dengan tindakan keras pihak berwenang terhadap cryptocurrency, larangan semua jenis kegiatan terhenti. Pada saat yang sama, transaksi pribadi menjadi semakin sulit. Pasalnya,  semakin sedikit orang yang ingin memindahkan uang. (hui)